Friday, March 28, 2008

Pentingnya memberikan makanan rohani untuk anak, selain nutrisi untuk tubuh


CIBFest 2008 Banner B





Dalam Alkitab versi bhs aslinya Yunani (Greek) dibedakan penyebutan orang / jiwa sebagai Bios, Psuche, dan Zoe.

(Ini kata pendeta saya yg Tiberias. Catatan: kami pergi ke 2 gereja secara rutin, Katolik & Tiberias, di mana Kuasa Tubuh & Darah Kristus ditegakkan kembali, juga kuasa Minyak Urapan/Annointing Oil (mirip atau sama dgn Minyak Krisma di Katolik) ditegakkan kembali.)

Hidup manusia itu terdiri dari 3 unsur: Bios (tubuh), Psuche (jiwa), Zoe (roh/hati).
Jangan sampai seorang manusia bios-nya hidup (bisa makan-minum), tapi zoe-nya tidak ada atau tidak tumbuh. Semacam zombie...lah gitu.

And Jesus is & should be our Zoe, alias roh kita seharusnya dihimpit, dikuasai sepenuhnya oleh Roh Allah (Roh Kudus). Sepenuhnya. Bukan hanya 40-50%, tapi sepenuhnya !

Itulah perlunya memperhatikan perkembangan (memberi "makanan" kepada) Jiwa & Roh anak-anak kita, selain memelihara Tubuh / Badan mereka.

Artinya, 1. banyak berdoa, mendoakan mereka, ajak mereka berdoa, walau kelihatan belum mengerti;

2. perkenalkan Firman Tuhan (misalnya: bacakan atau nyanyikan, walaupun nampaknya mereka belum mengerti bahasa, tapi itu tidak akan sia-sia, karena akan masuk ke bawah sadar / roh / hati mereka);

3. dan mengasihi mereka (melihat apa sebetulnya kebutuhan mereka, melakukan terapi dasarnya karena KASIH kpd anak, krn kebutuhan anak, bukan krn ikut2an, dll alasan gak penting.).

Kita 'kan juga sudah sadar bahwa selain makanan berupa nasi, sayur, lauk, dll, ternyata diperlukan juga "makanan" sensory, yaitu 'makanan' buat otot & otak yaitu gerakan2 yg mengaktifkan otak
(yg dipelajari dlm SensoryIntegration, OccupationalTherapy, FloorTime, Brain Gym, Glenn Doman, dll - ingat istilah Vestibular, Taktil, Proprioceptive, Otak Primitif dll?).

Sepuluh tahun yang lalu, saya & suami pernah lho di"marahi", ditegur-lah tepatnya, oleh seorang psikolog Ibu Farah Suryawan, Psi. pada saat anak sy akhirnya didiagnosa autisme/PDD, "Ibu rupanya mengira kebutuhan anak cuma makan, minum, tidur, dan digantikan popok, gitu ya?"

Kenapa sang psikolog berkomentar begitu?
Karena dari tanya jawab / observasi terhadap kami sekeluarga, ya gitulah hasilnya... Ternyata kami kurang memperhatikan perkembangan jiwa-nya. Sesuai namanya psikolog 'kan mengurusi psuche / jiwa :D

Sejak itu saya diberi PR antara lain (banyak sih PR-nya): untuk memandikan anak (padahal wkt itu usianya sudah 4 tahun) dengan waslap kasar, lalu sesudah selesai dihanduki baik-baik sambil ditanyai : "ini apa? oh, ini tangan, ini apa? ini kepala, ini leher, ini perut", dst.

Sesudahnya anak dipeluk erat, sambil digoyangkan seperti jam tik-tok-tik-tok (untuk mendapatkan irama kenyamanan dalam pelukan ibu??)

Juga saya disuruh menemani anak bermain. Ini penting.
Mainannya banyak. Kita sering beli. Tapi sungguh ironis, kita ortu jarang sekali atau malah gak senang menemani mereka bermain.
Masak, sampai seorang doktor (DR. Stanley Greenspan) menciptakan teori/ilmu bermain yaitu Floor Time.

Nah itu tadi PR utk jiwa anak. PR utk rohani mereka, sudah dibahas di atas. Ayo, ibu, bapak, berbalik kepada anak kita!

"Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah." (Maleakhi 4:6)

Salam, mama Yohanes. _____________________________________________________________________________________

Taken from blog Berean Mentality.

In the Greek, there are three words used to define life.
Zoe, Psuche, and Bios.
Zoe is the essential principle, the defining force of life. It is the essence; like observing the sky from the drizzle, or the universe from the earth. It is transcendent. Psuche is the being which is influence by Zoe. Bios is what Psuche needs to sustain itself in order to fulfill Zoe. (e.g. food, water, sexual activity, etc).

Let us say there is a distortion of the 3: Bios ->Psuche->Zoe.

If Bios defines our existence, then man receives meaning from within himself; that is from the material. He has no adequate reference point to determine his existence so he seeks to find one in Bios. His desires are left to dominate and dictate his existence, hence causing Bios to become his Zoe. His Psuche is then affected and formed into the likeness of Bios. The Bible teaches the essential principle of the nature of the soul - "by beholding we become changed." When temporary things become mediated as absolutes for life (e.g. clothing, vehicles, jewelry, self-affirmation, food, living conditions, etc) the Psuche configures itself adamantly to the pursuit of life since it is defined by nothing else: Bios - because it starts to define mans purpose, due to heightened emphasis and a perpetuated demand for Bios. Thus causing greed, arrogance, carelessness, apathy, wickedness, pride, and restlessness, begins to ensue in pursuit of the temporary.

For the Christian this sequence should be turned the other way around: Zoe -> Psuche -> Bios.

Zoe defines Psuche and Bios.
JESUS IS OUR ZOE (John 6:27; 14:6; Mat 4:4, ).
So, that means that our Psuche is firstly formed and influenced by Him - Zoe. We take His disposition and nature of defining life and do not allow Bios to rule us. Rather, Bios is now brought into submission of Zoe, bringing complete harmony, peace, and balance to the Psuche. We have not attained it fully but all aspects of our lives are no longer lacking a point of reference outside of our Bios. Therefore, we strive for it and practice it daily, cultivating peace, temperance, love, patience, sympathy, and most importantly selflessness.
__________________________________________________________________________________________

Artikel berikut tepat menggambarkan apa yang kami rasakan setahun belakangan ini (dengan memiliki anak autis / spesial).

- Bahwa sebetulnya orang tua juga jadi bertobat dgn punya anak autis...

- Bahwa kita memang perlu memperhatikan perkembangan / memberi "makanan" kepada Jiwa dan Roh anak kita selain memberi nutrisi bagi Tubuh/Badan-nya.

- Dan seharusnya roh kita dihimpit, dikuasai sepenuhnya oleh Roh Allah (Roh Kudus). Sepenuhnya.

Baca baik2 artikel berikut. Kebetulan sekali Dr. Kurniati Ihromi Sp.KO (putri dari Bu Prof. T.O. Ihromi-Simatupang) adalah kakak dari Ade Ihromi, dulu temen sekelas adik saya.

Tuhan berkati,

(mamanya Yohanes)
__________________________________________________________________________________________

http://www.lk3web.info/files/PendampinganAnakAutisma.doc

SARAN UNTUK PENDAMPINGAN ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS

(oleh Dr. Kurniati Tanjung Ihromi Sp.KO , Hanny Gunawan Prasetya MSc., Dra. Elina br. Panggabean, Ir. Dra. Viviana Wibawa)

disampaikan dalam acara
National Counceling and Healing Conference 2006.

Disclaimer :
Semua yang ditulis adalah berdasarkan KESAKSIAN kehidupan kami, bukan pembuktian ilmiah.
Ajaklah Roh Kudus membimbing anda untuk dapat memetik hal yang berguna bagi kasus yang anda hadapi.
Undanglah Yesus menjadi Juruselamat pribadi anda, lakukan semua FirmanNya.
Hubungan pribadi anda dengan Allah Bapa yang sangat utama, sebab Ia yang akan menunjukkan jalan-jalanNya kepada orang yang mengenalNya dan yang hatinya dekat padaNya seperti Musa.(Mz 103:7)

Renungan Pendahuluan

Mengasuh dan membimbing anak dengan kondisi autisma tentunya ‘challenging’ dan menguras tenaga. Setiap anak mempunyai jalan yang unik dan sempit yang telah Tuhan sediakan menuju rencana Tuhan sesuai masa dan waktu yang telah ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya (Kis. 1:7).

Sebagai orang tua kita bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anak ini menjadi generasi yang secara moral bertanggung jawab dan proses pemikirannya selalu responsif pada kaidah alkitabiah, apapun juga kondisi dan tantangan yang dihadapi.

Kita harus mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).

Mengasihi anak-anak ini bukan berarti mengasihani dan membiarkan mereka terpuruk dalam kondisinya dengan alasan ini sudah menjadi kehendak Tuhan atau bahkan menganggap bahwa ini kayu salib yang harus saya pikul.

Keutuhan keluarga dan tatanan (hirarki) dalam keluarga yang sesuai dengan Firman (Godly order – The head of the woman is the man, the head of the man is Christ, the head of Christ is the GOD the Father, 1 Korintus 11:11, Efesus 5:22-23) adalah kunci utama dalam membuka pintu menuju pemulihan terutama untuk kasus untuk akar spiritual kondisi autisma.

Tuhan Penasihat kita yang Ajaib (Yesaya 9:5) akan menunjukkan jalan yang harus ditempuh jika kita terus berserah kepadaNya.

Disiplin dan pendidikan yang berdasarkan prinsip alkitabiah harus diterapkan (Ibrani 12:11).

Kualitas makanan Roh, Jiwa dan Tubuh anak-anak ini amat penting diperhatikan.

Contoh yang diberikan dalam kehidupan orang tua sehari-hari (Yoh 5:19) terutama kasih ayah (Father’s love dan ministry of Father’s love – Matius 3:17)) adalah penting bagi perkembangan jati diri sang anak termasuk juga anak-anak lain yang normal.

Pelayanan rohani berdasarkan kasih Allah yang sempurna dan tanpa syarat, bukan karena prestasi anak wajib adanya.

Intervensi harus “wholistic” (bertujuan wholeness of spirit, soul and body in Jesus Christ, bukan holistic seperti yang dunia kenal) berupa intervensi spiritual sekaligus juga membangun tubuh dan jiwa sejalan dengan ciptaan Tuhan (back to Creation ketika Allah menciptakan manusia menurut gambarNya (Kej.1:27) dan Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (ay.31)).

“No discipline seems pleasant at the time, but painful. Later on, however, it produces a harvest of righteousness and peace for those who have been trained by it.” (Ibrani12:11)
God is too wise to be mistaken and too good to be unkind

Artikel selengkapnya (agak panjang) silahkan baca di blog saya yang lain, yaitu About Gerard & Autism klik di sini.

Terima kasih untuk SABDA WEB

Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Sabda Web
http://sabdaweb.sabda.org
yang telah menyediakan Alkitab (Bible) On Line, sehingga memudahkan saya mencari dan menuangkan Firman (Word of GOD) dalam blog ini.

Tuhan memberkati anda semua berlimpah-limpah. Amin.

Dilepaskan oleh Salib

Nats : "Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita" (Roma 5:8)
=================================================================
DILEPASKAN OLEH SALIB
Bacaan : Matius 27:33-50

Dalam mitologi Yunani kuno, pahlawan Prometheus ditangkap dan dirantai di puncak gunung. Di sana ia dihukum untuk selama-lamanya. Setiap hari, seekor rajawali raksasa datang untuk memakan hatinya.

Hermes datang kepadanya dan berkata, "Jangan harap penderitaanmu akan berakhir kecuali seorang dewa datang menggantikan siksaanmu, dan siap turun bagimu ke dalam kerajaan Hades (dewa kematian)."

Menurut mitologi tersebut, hal ini dilakukan oleh Dewa Chiron yang bijak dan adil, yang rela mengorbankan dirinya sendiri bagi Prometheus dan membebaskannya dari siksaan.

Dalam beberapa hal, kisah ini merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada kita saat Yesus mati di kayu salib. Manusia telah terikat oleh dosa, dan tak ada harapan bagi manusia untuk terlepas dari dosa kecuali Allah menggantikan.

Dan itulah yang benar-benar terjadi. Yesus Kristus, Putra Allah, mati untuk menggantikan kita dan membayar hukuman dosa kita. Dia menyediakan jalan bagi kita untuk terlepas dari hukuman kekal.

Meskipun kita menyediakan diri untuk menulis dalam seribu hari, kita tetap tak dapat mengungkapkan dengan sempurna arti pengurbanan Kristus bagi penebusan dosa seluruh umat manusia. Makna sejatinya jauh melebihi pemahaman kita.

Apakah Anda telah mengakui dosa-dosa Anda dan meminta Yesus Kristus menjadi Juru Selamat pribadi Anda? Jika belum, hari ini adalah saat yang paling tepat. Percayalah kepada-Nya, dan Anda akan tahu apakah artinya terlepas dari rantai dosa karena salib -

KELUARLAH DARI PERBUDAKAN DOSA DAN
MASUKILAH KEBEBASAN YANG MENYELAMATKAN -- PERCAYALAH KEPADA KRISTUS

Dari "Renungan Harian" Yay. Gloria, Yogyakarta / "Our Daily Bread" by David C. Egner.

Siapa Pemilik anda?

Nats : "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya" (Mazmur 24:1)
=================================================================
SIAPA PEMILIK ANDA?
Bacaan : Mazmur 24

"Engkau bukan pemimpinku!" Pernahkah Anda mendengar seorang anak mengucapkan perkataan ini kepada seseorang yang berkuasa? Beginilah upaya si anak untuk menuntut kebebasannya.

Namun, ini tidak hanya terjadi pada anak-anak. Berapa pun usia kita, kita tidak suka apabila seseorang mendikte apa yang harus kita lakukan. Masalahnya, orang itu dapat meminta kita melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan, atau menempatkan kita dalam situasi yang tidak kita inginkan.

Di situlah muncul ketakutan untuk mempercayai Allah. Karena takut memercayakan hidup kita kepada-Nya, kita lebih suka berkilah dan berkata, "Engkau bukan pemimpinku."

Jalan pikiran seperti ini mengandung masalah serius: ini sama sekali tidak benar. Kenyataannya, kita tidak dapat berkata kepada Allah bahwa Dia tidak memegang kendali. Dalam Mazmur 24, Daud berkata, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya" (ayat 1). Allah adalah pemimpin dari "mereka yang berdiam" di dunia. Dan itu berarti kita semua, umat manusia.

Karena itu, tanggapan kita untuk memercayai Dia dan mempercayakan hidup kita kepada-Nya muncul apabila kita mengakui kuasa-Nya. Kita berkata kepada-Nya, "Tuhan, Engkaulah pemimpinku! Aku mengakui kepemilikan-Mu, dan aku mau bekerja sama dengan-Mu untuk menyempurnakan kehendak-Mu."

Kita adalah milik Allah. Dialah yang bertanggung jawab atas diri kita. Tugas kita adalah mempercayai Dia dan hidup bagi-Nya

KAMU BUKAN MILIK KAMU SENDIRI .... KAMU TELAH DIBELI
DAN HARGANYA TELAH LUNAS DIBAYAR -- 1 Korintus 6:19b,20

Dari "Renungan Harian" - Yay. Gloria, Yogyakarta / "Our Daily Bread" by J. David Branon.

Lihat, siapa yang membaca anda

Nats : "Maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini" (1 Petrus 1:17)
=================================================================
LIHAT SIAPA YANG MEMBACA ANDA
Bacaan : 1 Petrus 1:13-25

Saya pernah mendengar tentang seorang hakim yang menggunakan stiker bemper untuk mendorong seseorang agar mengendarai mobil dengan baik.

Dalam sidang ia menawarkan dua pilihan hukuman pada orang yang bersalah karena mengemudi dalam keadaan mabuk.

Pilihan pertama adalah dengan menempelkan pesan berikut di bemper kendaraan mereka: "Mobil ini milik seorang pemabuk yang sedang dihukum."

Hampir semua pelanggar lebih senang dengan pilihan kedua: Mengikuti program pengobatan pecandu alkohol.

Kebanyakan orang lebih memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka dan ingin menjaga kesan yang baik. Untuk perilaku-perilaku tertentu, orang juga tidak mau menanggung malu.

Sebagai contoh, sedikit dari kita yang mau berjalan berkeliling dengan tulisan pada punggung yang berbunyi: "Bahaya: saya orang Kristen yang tidak pernah meluangkan waktu untuk berdoa atau membaca Alkitab."

Kita pun tidak akan mau memakai tulisan yang berbunyi:
"Peringatan: saya anak Allah yang terlalu banyak bergosip" atau
"Berhati-hatilah: saya dikuasai oleh nafsu dan bukan kasih."

Jika Allah menghendaki kita memakai tanda-tanda seperti itu, apakah keinginan kita untuk dihormati orang lain membuat kita takut menyatakan kondisi rohani kita yang sesungguhnya?

Cara kita menjawab pertanyaan tersebut akan berbicara banyak tentang rasa malu kita di hadapan Tuhan, yang selalu menilai kita dengan tepat (1 Petrus 1:17).

Apakah mungkin kita lebih takut pada pendapat orang lain daripada pendapat-Nya?

It matters not what others says
In ridicule or fun;
I want to live that
I may hear Him say to me, "Well done." --Beers

HIDUPLAH DEMI PERKENAN ALLAH
DAN BUKAN DEMI PERKENAN MANUSIA

Diambil dari "Renungan Harian" - Yayasan Gloria, Yogyakarta / "Our Daily Bread" by Martin R. DeHaan II

Thursday, March 27, 2008