Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Tuesday, July 28, 2009

Dilepaskan oleh Salib


"Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita" (Roma 5:8)

DILEPASKAN OLEH SALIB
Bacaan : Matius 27:33-50

Dalam mitologi Yunani kuno, pahlawan Prometheus ditangkap dan dirantai di puncak gunung. Di sana ia dihukum untuk selama-lamanya. Setiap hari, seekor rajawali raksasa datang untuk memakan hatinya.

Hermes datang kepadanya dan berkata, "Jangan harap penderitaanmu akan berakhir kecuali seorang dewa datang menggantikan siksaanmu, dan siap turun bagimu ke dalam kerajaan Hades (dewa kematian)."

Menurut mitologi tersebut, hal ini dilakukan oleh Dewa Chiron yang bijak dan adil, yang rela mengorbankan dirinya sendiri bagi Prometheus dan membebaskannya dari siksaan.

Dalam beberapa hal, kisah ini merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada kita saat Yesus mati di kayu salib. Manusia telah terikat oleh dosa, dan tak ada harapan bagi manusia untuk terlepas dari dosa kecuali Allah menggantikan.

Dan itulah yang benar-benar terjadi. Yesus Kristus, Putra Allah, mati untuk menggantikan kita dan membayar hukuman dosa kita. Dia menyediakan jalan bagi kita untuk terlepas dari hukuman kekal.

Meskipun kita menyediakan diri untuk menulis dalam seribu hari, kita tetap tak dapat mengungkapkan dengan sempurna arti pengurbanan Kristus bagi penebusan dosa seluruh umat manusia. Makna sejatinya jauh melebihi pemahaman kita.

Apakah Anda telah mengakui dosa-dosa Anda dan meminta Yesus Kristus menjadi Juru Selamat pribadi Anda? Jika belum, hari ini adalah saat yang paling tepat. Percayalah kepada-Nya, dan Anda akan tahu apakah artinya terlepas dari rantai dosa karena salib -

KELUARLAH DARI PERBUDAKAN DOSA DAN
MASUKILAH KEBEBASAN YANG MENYELAMATKAN -- PERCAYALAH KEPADA KRISTUS

Dari "Renungan Harian" Yay. Gloria, Yogyakarta / "Our Daily Bread" by David C. Egner.
.

Monday, July 20, 2009

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat...."

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30)

Renungan (dari Ziarah Batin 2009)

Karya keselamatan Allah selalu mengiringi sejarah hidup manusia sejak dunia ini diciptakan. Tangan kasih-Nya senantiasa terulur bagi manusia yang berseru memohon pertolongan. Kuasa-Nya menjaga dan menaungi hidup manusia, yang lemah dikuatkan, yang sakit disembuhkan, dan yang putus asa diberi-Nya harapan.

Kesetiaan Allah untuk menyelamatkan manusia semakin dinyatakan oleh Yesus.
Dalam diri Yesus, Allah hadir di tengah-tengah manusia, hidup sebagai manusia, merasakan kelemahan manusiawi sekaligus memberikan jalan bagaimana manusia dalam seluruh perjuangan manusiawinya meraih keselamatan.
Yesus sendiri menjadi kekuatan bagi perjuangan hidup kita, “Marilah kepada-Ku semua yang lemah lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu!” Dialah sumber keselamatan kita.

Yesus pokok keselamatanku, Engkau mengetahui segala keletihan, kelesuan, dan beban berat hidupku. Aku datang kepada-Mu dalam kepasrahan diri untuk mendapatkan kelegaan dari-Mu. Amin.
.

Monday, June 22, 2009

Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."
(Matius 5 : 1 - 12)

Renungan (dari Ziarah Batin 8 Juni 09) :

Untuk mengerti sabda Tuhan kita butuh iman, lebih-lebih yang terkandung dalam perikop ini.
Iman itu laksana kacamata dalam film tiga dimensi: dengan kacamata, kita lihat dunia yang indah; tanpa kacamata semuanya kabur.
Dengan iman, kita melihat dunia Allah yang indah.
Apa yang dijanjikan Yesus adalah kebahagiaan sejati dan bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan dunia, sebab dunia hanya menjanjikan kebahagiaan semu, bahkan palsu, yang pada hakikatnya hanya pemuasan hawa nafsu saja.

Inti sabda bahagia itu ialah semangat kemiskinan di hadapan Allah, artinya
menyadari dan menerima ketergantungan kita yang mutlak terhadap Allah;
sebagai orang berdosa, kita tidak punya hak apa-apa di hadapan-Nya.
Kita hanya dapat berharap pada kerahiman-Nya saja,
dalam kesadaran, bahwa kerahiman-Nya tidak terbatas, jauh lebih besar dari segala dosa-dosa kita.
Semakin menyadari kerahiman-Nya,
semakin kita berusaha menjauhi segala dosa sebagai ungkapan syukur dan cinta kita.
Dari sikap dasar ini, mengalirlah sikap-sikap lain yang disebut dalam sabda bahagia: berduka untuk dosa sendiri dan dosa orang lain, sikap lemah lembut, rindu akan kebenaran, murah hati, murni hati, pembawa damai, dan kesabaran dalam menanggung derita.

Ya Tuhan, berilah aku rahmat untuk dapat menyadari dan menerima kepapaanku di hadapan-Mu, Allah Yang Mahakasih dan Maharahim. Amin.
.

Wednesday, February 25, 2009

RABU ABU 25 Feb 2009
Yesaya 58:1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!
58:2Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:
58:3"Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.
58:4Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.
58:5Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?
58:6Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
58:7supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

58:8Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.
58:9Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
58:10apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
58:11TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
58:12Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".
58:13Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,
58:14maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Renungan diambil dari buku Ziarah Batin 2009, penerbit OBOR:
(belum minta ijin, tapi karena bagus, minta maaf menaruh di sini)

Bagaimana sih kita mesti berpuasa? Dari bacaan ini, kita mendapatkan Firman, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”

Aspek sosial sangat menonjol dalam praktek berpuasa seperti dianjurkan dalam kitab Yesaya ini. Untuk itulah APP (aksi puasa pembangunan) sudah dijalankan lebih dari 30 tahun: supaya saudara2 kita tertolong, menerima pemberdayaan, pembebasan dari kekurangan air minum bersih, dari isolasi karena tiadanya jembatan.

Marilah kita tengok lemari kita, marilah kita bersihkan rumah-rumah kita: apakah ada pakaian, barang2, yang menjadi simbol dan saksi ketamakan kita, sementara banyak orang di luar sana kekurangan pakaian, perabotan rumah tangga, dan bahkan tidak punya rumah?

Allah telah menuntut kita untuk melakukan rekonsiliasi atau pendamaian, yakni ketika kita boleh bertobat dan menemukan keselarasan hidup dengan Allah, sesama manusia, dan alam lingkungan hidup.

Ya Tuhan Allah, tumbuhkanlah sikap prihatin dalam diri kami agar melalui pantang dan puasa, keadilan di muka bumi ini semakin terwujud. Amin.
.

Monday, March 31, 2008

Iman kepada Tuhan yang disertai perbuatan


Tidak akan cukup kebaikan kita untuk menebus dosa kita.
Kebaikan kita bagaikan "kain compang-camping" dibanding kebaikan Tuhan.

Hanya Yesus Kristus, Firman Allah yang hidup, Tuhan yang menjelma menjadi manusia, yang menebus kita dari dosa...

Membayar hukuman yang harusnya kita terima sebagai akibat dosa.
Ketika DIA menderita di taman Zaitun (Getsemani), dosa kita lah yang dia lihat, dosa manusia sampai ke jaman ini, sehingga Dia semakin bersungguh-sungguh berdoa, sampai keringatNya "terlihat seperti titik-titik darah yang jatuh ke tanah".
Kenapa perlu dituliskan ini? Karena "tanah" maksudnya adalah manusia.

Ketika Dia dihina, ditendang, dicambuk, dicerca, dihujat dan Dia diam tidak melawan..., ketika Dia disalibkan..., yang Dia bayangkan adalah kita-kita ini manusia...
Karena cintaNya dia rela menderita, Dia tanggung semua kesakitan dengan diam...

Bagaikan seorang kekasih yg menjadi tawanan di negeri seberang, namun bertahan untuk bisa pulang bertemu kekasih hatinya.
Akankah ketika Dia pulang, mengetuk pintu hati kita, Dia mendapati kita TETAP SETIA?

--- diilhami dari salah satu khotbah Pendeta dari Tiberias Ministry ---

Pertanyaan selanjutnya: bagaimana kita tahu bahwa seseorang sudah lahir baru (dalam Roh)? Adakah bukti yang dapat terlihat nyata? Dari Renungan Harian Selasa 11 Sept 2012:
Yakobus memberi jawaban yang tepat: perhatikan perbuatannya!
Apakah gunanya saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yak. 2:14).
 
Apa yang diperbuat seseorang mencerminkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.
Jika tutur lakunya sama sekali tidak mencerminkan orang yang sudah diselamatkan, imannya patut dipertanyakan (Yak. 2 ayat 15-17). Yakobus memberi contoh tentang Abraham dan Rahab. Kita tidak bisa membaca pikiran & hati mereka, tetapi bisa lihat bahwa mereka percaya kepada Allah melalui perbuatan mereka.
Wajar saja kalau orang meragukan iman kita karena tindakan yang tidak menunjukkan pertobatan. Kalau kita konsisten berkanjang dalam kebiasaan buruk / dosa dan tidak merasa resah dengan ketidaktaatan kita, maka waspadalah. Bandingkan bagaimana tutur laku dan kebiasaan sebelum & sesudah menerima Kristus. Perbuatan apa saja yang menunjukkan bahwa kita telah diselamatkan / diubahkan oleh kasih karunia Kristus?
HANYA OLEH KARENA IMAN seseorang dapat DISELAMATKAN.
HANYA MELALUI KETAATAN KEPADA ALLAH, iman dapat DIBUKTIKAN.

Ya, saya teringat ini:
IMAN TANPA PERBUATAN pada hakekatnya MATI. Seperti tubuh tanpa jiwa.
Yakobus 2:17    Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

ALLAH ADALAH KASIH. Semua yang berbuat baik berasal dari Allah. Katakanlah seorang tidak mengenal Yesus, tapi selama hidupnya dia telah mengerjakan perbuatan Kasih spt Kristus, menandakan Roh Kudus ada dalam hatinya yg memampukan dia melakukan ajaran Kristus...
1 Yohanes 4:8    Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Doa berikut dari buku doa Katolik:

Tuhan Yesus,
Aku datang menghadap Engkau, dalam keadaanku seperti ini.
Mohon ampun atas segala dosaku.
Aku menyesal atas segala dosa-dosaku, mohon aku diampuni.
Di dalam nama MU,
aku mau maafkan semua orang yang membenciku, termasuk semua perbuatannya.
Aku menyangkal setan, roh jahat dan semua perbuatannya.

Tuhan Yesus,
aku serahkan seluruh hidupku pada Mu, sekarang dan selamanya.
Aku mengundang Engkau masuk ke dalam hidupku, Yesus.
Aku terima Engkau sebagai Tuhanku, Allahku, Penyelamatku.
Sembuhkan aku, rubahlah diriku,
kuatkan tubuh, jiwa dan rohku.
Datanglah kepadaku, Tuhan Yesus,
bungkuslah aku dengan darah Suci Mu.
Penuhi aku dengan Roh Kudus Mu.
Aku cinta pada Mu, Tuhan Yesus.
Aku bersyukur kepada Mu, Yesus.
Aku mau mengikuti Engkau setiap hari dan selamanya.
Bunda Maria - Ratu Damai,
para Malaikat kudus, semua orang Kudus,
doakanlah aku. Amin.

PS : "aku" boleh diganti "kami"

Kutipan dari Alkitab:

Yohanes 3:16    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
3:17    Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
3:18    Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
3:19    Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.
3:20    Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;
3:21    tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

Saturday, March 29, 2008

Apakah Umat Katolik Menyembah Bunda Maria? DUKACITA BUNDA MARIA - Mengapa Maria disebut Ratu Para Martir

Apakah Umat Katolik Menyembah Bunda Maria?

Kalau kita masuk ke Gereja Katolik, di mana saja di belahan dunia ini, kita akan melihat banyak patung-patung. Ada patung Yesus, ada patung Santo dan Santa dan hampir pasti ada patung Maria. Banyak orang memasang lilin, berlutut dan berdoa DI DEPAN patung Maria. Ada yang berdoa sambil menunduk, ada yang berdoa sambil memegang kaki patung Maria, ada yang menatap patung itu dan tidak jarang yang berdoa dan menangis di bawah patung Maria. Kalaupun di situ ada patung Yesus, kemungkinan lebih banyak orang berdoa di depan patung Maria ketimbang di depan patung Yesus.

Nah, kalau begitu bukankah orang Katolik adalah penyembah patung? Kalau begitu bukankah orang Katolik adalah penyembah Maria? Salahkah kalau mereka yang tidak menyukai Gereja Katolik kemudian berpersepsi bahwa peran Maria di dalam Gereja Katolik jauh lebih menonjol dari peran Yesus itu sendiri. Buktinya gambar dan patung Maria dibuat jauh lebih besar sedangkan gambar atau patung Yesus digambar sebagai anak kecil yang digendong oleh Maria.

Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Maria hanyalah sebuah saluran, sebuah selang yang mengalirkan air yaitu Yesus. Selangnya tidak penting dan yang lebih penting adalah airnya. Benarkah demikian? Fakta sejarah memang menunjukkan bahwa banyak orang Katolik berdevosi kepada Maria. Sungguhkah ini suatu hal yang keliru dan tercela? Apakah dengan demikian orang Katolik menyembah Maria? Hal ini sungguhlah suatu hakekat iman Kristen yang wajib diluruskan. Beberapa orang menggunakan devosi Maria di dalam Gereja Katolik sebagai bahan untuk menjelekkan Gereja Katolik. Dan yang lebih memprihatinkan banyak orang Katolik sendiri yang kurang paham menjadi ragu.

Tidak semua orang Kristen non-Katolik berpikiran demikian. Bahkan seorang pendeta kondang seperti Bapak YusufRoni pernah mengisi kebaktian Natal bersama di tahun 1996 dengan tema: "KERELAAN MARIA". Di bawah ini adalah kutipan dari sebagian kotbah beliau yang mungkin dapat kita jadikan bahan renungan kali ini.

"Bagi orang Protestan, Maria ini kurang besar dengungnya. Mungkin karena sikap Protestan yang anti Katolik sangat emisional sehingga menjadi sentimen terhadap Maria, sehingga lupa terhadap kemanusiaan Kristus berasal dari Maria. Karena itu kedudukan dan peran Maria di dalam Injil tidaklah sama dengan peran Petrus, Paulus atau Yusuf. Karena Maria memberikan kedagingan pada Yesus sehingga Ia menjadi mahluk. Herannya peran Petrus, Paulus bahkan Pontius Pilatus menjadi lebih baik dan lebih banyak di dalam Gereja Protestan dibandingkan dengan peran Maria itu sendiri. Hal inilah yang perlu saya ingatkan karena Maria memiliki lambang yang begitu kekal terhadap umat dan Gereja Tuhan yang ada di tengah-tengah dunia ini."

"Kemanusiaan Yesus, kemahlukan Yesus, dan kedagingan Yesus diambil sepenuhnya dari Maria. Kalau kita menolak kemanusiaan Yesus sesungguhnya kita menolak Maria, karena Maria-lah yang memberikan kedagingan kepada Yesus. Karena genetikanya bukan diambil dari Yusup melainkan dari Maria itu sendiri. Bapak2 gereja sejak Ignatius Uskup Antiokia di Siria pada tahun 110 Masehi mengadakan pembelaan terhadap orang yang menolak kemahlukan Yesus sekaligus menolak Maria yang melahirkan Kristus, disambung oleh bapak2 gereja yaitu Aristides tahun 140, Yustinus tahun 163, Erenius tahun 202 dan Tertulianus tahun 222 Masehi."

"1500 tahun Gereja menghormati Maria. Baru abad ke 15, Maria disingkirkan dari Gereja. 1500 tahun itu Gereja hidup tanpa banyak masalah karena mereka mempunyai pola, dasar, gambaran kepada Maria. Hal ini ingin saya tegaskan, jangan sampai kita meninggalkan apa yang diajarkan oleh Gereja. Dikatakan dengan jelas di sini bahwa Maria adalah seorang pribadi, bukan hanya sambil lalu saja. Seringkali kita punya pengertian bahwa Maria itu hanyalah sebuah alat, sambil lewat saja seperti pipa. Pipa yang menyalurkan air, air itu tidak berasal dari pipa, air itu berasal dari sumber, jadi Maria itu apa bedanya dengan pipa hanya menyalurkan begitu saja. Oh tidak, Allah itu Maha Tahu. Dia sudah mempersiapkan sejak manusia jatuh dalam dosa, telah dinubuatkan yaitu benih perempuan yang akan meremukkan benih ular itu"

"Saudara kalau melihat gambar Maria menggendong Yesus, seringkali orang berpikir ini Katolik. Kenapa, ya Yesusnya kecil Maria-nya diperbesar. Karena saudara pikir bahwa orang Katolik lebih menekankan Maria-nya dari pada Yesus-nya. Itu adalah persepsi kita. Persepsi kita, kita jadikan tuduhan kepada orang lain. Ini tidak benar, mestinya fakta. Gambar seperti ini ditonjolkan ke dalam gereja mula-mula, tidak lain maksudnya Maria sebagai Gereja mengemban Sang Firman. Firman itu selalu ada di dalam pelukan Gereja, sehingga Gereja dan Firman tidak dapat dilepaskan."

"Kalau pola dasar ini terus-menerus dipegang oleh Gereja, maka Gereja tidak akan punya masalah. -------skipped, edited by Yohanes-------
Perhatikan Gereja mula-mula, sepuluh orang kotbah satu pendapat, meskipun berbeda-beda tapi satu."

Demikianlah sebagian dari yang pernah disampaikan oleh Bapak Pendeta YusufRoni.
---------------------------------
Perihal Maria adalah hakekat iman Kristen yang sungguh sangat hakiki. Kita perlu meluruskannya terlepas dari apakah orang suka atau tidak suka pada Gereja Katolik. Biarlah orang tidak menyukai Gereja Katolik, tapi janganlah eksistensi Maria dikaburkan karena ini sungguhlah merupakan pelecehan terhadap iman Kristen itu sendiri. Mengapa demikian ?

Berbicara mengenai iman Kristen, mari kita lihat apa yang ada di dalam Alkitab, yang berhubungan dengan eksistensi Maria. Bagaimana prosesnya sehingga Allah kemudian memilih Maria jauh sebelum Yesus datang ke dunia ini.

Semuanya ini berawal dari dosa manusia pertama yaitu Adam dan Hawa yang makan buah terlarang, sehingga Allah menghukumnya: seperti yang diki-sahkan di dalam kitab Kejadian 3: 1-14. Allah tidak saja menghukum Adam dan Hawa, akan tetapi Allah juga mengutuk sang ular (iblis) yang menggoda mereka. Allah berkata: "……..terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang di hutan …. Aku akan mengadakan per-musuhan antara engkau dan perempuan ini; antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukan kepalamu (Kejadian 3: 14-15). Yang dimaksud dengan perempuan ini adalah Maria keturunan Daud yang kemudian akan melahirkan Yesus yang berkuasa untuk meremukkan kepala sang ular. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya pemilihan Maria sudah dinubuatkan sejak Perjanjian Lama.

Sebagai tambahan, karena dosa Hawa itulah Allah kemudian berfirman kepadanya: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Dan hal inilah yang menjadikan kodrat wanita sampai saat ini.

Selanjutnya, di dalam Perjanjian Baru Injil Lukas 1: 26-31 digambarkan bahwa Allah menyuruh malaikat Gabriel untuk menemui Maria. Malaikat itu berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai. Tuhan menyertai engkau. …………. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai dia Yesus."

Bandingkanlah Injil Lukas di atas dengan kalimat pertama di dalam doa Salam Maria yang diajarkan oleh Gereja Katolik: "Salam Maria penuh Rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus."

Andaikata kita mengulangi kembali apa yang diucapkan oleh malaikat itu, dapatkah orang Katolik dikatakan menyembah Maria ? Kemudian kalimat kedua di dalam Doa Salam Maria berkata: "Santa Maria, Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin."
Andaikata anda datang kepada seorang pastor, suster, pendeta atau bahkan kepada seorang teman dan berkata doakanlah saya supaya saya kelak lulus ujian. Apakah dengan begitu Anda menyembah pastor, suster, pendeta atau teman tersebut ?

Kalau begitu, benarkah orang Katolik menyembah Maria ? Orang seringkali tidak dapat melihat suatu fakta atau kenyataan secara jernih bila sudah memiliki prasangka dan persepsi negatif, apalagi kalau dibarengi dengan perasaan tidak suka. Maka, tepatlah seperti apa yang dikatakan oleh Bapak Pendeta YusufRoni: "Janganlah mengabaikan peran Maria, hanya karena tidak suka pada Gereja Katolik".

Maria adalah satu-satunya manusia yang penuh dengan Roh Kudus. Banyak ayat-ayat di dalam Alkitab yang menunjang fakta ini.

Bila saya bertanya kepada Anda, dimanakah sekarang Bunda Allah ini berada. Saya yakin dan percaya kita sepakat menjawab bahwa Maria sekarang ada di Surga.

Romo Yusuf Halim dalam sebuah retretnya pernah menceritakan bahwa ada seorang ibu yang ikut tour berkunjung ke tanah suci, kemudian mengunjungi Vatican dan tempat-tempat suci lain. Setiap kali ibu ini masuk ke gereja dan ia melihat patung atau gambar Maria, maka ia segera keluar. Seolah-olah ada sesuatu yang menakutkan, mungkin saja ia merasa bahwa gereja itu tempat penyembahan Maria. Saya tidak tahu apakah ibu ini bila kelak ia meninggal, dan diperkenankan masuk ke dalam surga akan menolak karena melihat ada Maria di dalam sorga.

Sebagai seorang anak, lihatlah betapa perhatian Yesus terhadap ibunya, sehingga dikisahkan di dalam Injil Johanes 19: 26-27, ketika Yesus tergantung di kayu salib menjelang saat-saat terakhir-Nya, dan ketika melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya, berkatalah Ia kepada ibunya: "Ibu, inilah anakmu". Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu! sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya."

Pesan sesorang menjelang ia meninggal lazim disebut wasiat. Kalau sebagai anak saja, kita akan sepenuhnya menuruti wasiat orang tua kita - apalagi terhadap Yesus. Alangkah naifnya bila kita mengabaikan wasiat-Nya. Saya sungguh tidak mengerti bagaimana kita dapat mengklaim sebagai murid Yesus yang baik, apabila kita tidak dapat menerima Ibu Maria sebagai Ibu kita.

[Orang Tionghoa mengatakan bahwa anak yang tidak patuh pada orang tua adalah anak yang "Pu Thouw", dan orang yang tidak tahu balas budi kepada orang yang baik kepadanya adalah orang yang "Bo Tjhing". Adakah di antara kita yang mau dikatakan "Pu Thouw" atau "Bo Tjhing" terhadap Yesus?]

Bila Anda adalah seorang ibu, cobalah bayangkan bagaimana kesedihan Maria ketika ia harus menyaksikan Yesus disiksa, dihina, menderita dan tergantung di kayu salib. Oleh karena itu, oleh seorang seniman Maria digambarkan dengan hati yang tertusuk pedang: untuk menggambarkan betapa pedihnya hati Maria melihat derita siksa dan hinaan yang mesti dialami anaknya yaitu Yesus. Tidakkah selayaknya kita menghormati Maria yang telah begitu setia menunggui Yesus sang juru selamat kita, wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Tidakkah selayaknya kita menghormati Maria seperti kita menghormati ibu kita sendiri.

Efji Tehaka. (Diambil dari www.st-andreas.com)
____________________________________________________________________

TAMBAHAN DARI PENULIS BLOG INI (mama Yohanes) :

1- Tapi memang kita jangan menyembah patung.

2- Adik saya yg cukup bijak bilang: kita kok lebih hormat, lebih menghargai Bu Camat atau Bu Menteri daripada kpd Bunda Maria?? Nah lho !

3- Nah ini yang paling penting diingat juga, bahwa peran Bunda Maria disebutkan juga dalam Kitab Wahyu 12...

"Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya."

Baca baik-baik LAMPIRAN di bawah, resapkan, dari ayat 1 sampai 17, bagaimana setan memburu dia (sang wanita), Anak Laki-lakinya (Yesus), dan memerangi keturunannya yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
Jadi kalau tidak menyukai Maria, dia berada di pihak yang mana?
Kalau tidak mengakui Bunda Maria bukannya berarti tidak mengakui kemanusiaan Yesus?
Kiranya hanya Roh Kudus yang membukakan pintu hati & pikiran kita...

4- Betapa dahsyat dukacita yang menjadikan Maria Ratu Para Martir; oleh karena sengsaranya dalam kemartirannya yang hebat ini melampaui sengsara semua martir; karena, pertama-tama, terlama menurut ukuran waktu, dan kedua, terdahsyat menurut ukuran intensitas.

Sebab ia menanggung sengsara kemartiran yang paling ngeri sesudah Putranya. Seluruh hidupnya dapat dikatakan sebuah kematian yang panjang. (Selengkapnya baca DUKACITA MARIA berikut, aslinya dari http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id207.htm)
____________________________________________________________________

LAMPIRAN WAHYU 12 : 1 - 17
Wahyu 12:1. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya

12:2 Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.

12:3 Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.

12:4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.

12:5 Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.

12:6 Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.

12:7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,

12:8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.

12:9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

12:10 Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.

12:11 Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.

12:12. Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat."

12:13 Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.

12:14 Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.

12:15 Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.

12:16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.

12:17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
____________________________________________________________________


D U K A C I T A M A R I A
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Diambil dari http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id207.htm
Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”


Maria adalah Ratu Para Martir, oleh karena kemartirannya jauh lebih lama dan lebih dahsyat dari yang diderita semua martir lainnya.

Adakah orang yang sedemikian keras hatinya, yang tidak luluh mendengar peristiwa paling memilukan yang suatu ketika terjadi di dunia? Adalah seorang ibunda yang berbudi luhur dan kudus, yang memiliki seorang Putra Tunggal. Putranya itu adalah putra yang paling menawan hati yang dapat kita bayangkan - tak berdosa, berbudi luhur, menyenangkan, Yang mencintai Bunda-Nya dengan limpahan kasih sayang-Nya; demikian besar kasih-Nya itu hingga tak pernah sekali pun Ia mengecewakan bunda-Nya walau sedikit saja, melainkan senantiasa hormat, taat, dan penuh cinta mesra. Sebab itu bunda-Nya melimpahkan segala kasih sayangnya di dunia ini kepada Putranya. Dengarlah, apa yang kemudian terjadi. Putranya, karena iri hati, dituduh sewenang-wenang oleh para musuh-Nya. Meskipun hakim tahu dan mengakui bahwa Ia tak bersalah, namun karena hakim takut dianggap menghina para musuh-Nya, ia menjatuhkan hukuman mati yang amat keji seperti yang dituntut para musuh-Nya itu. Bunda yang malang ini harus menanggung sengsara menyaksikan Putranya yang menawan dan terkasih itu direnggut darinya secara tidak adil dalam kemekaran usia-Nya dengan kematian yang biadab; dengan dera dan siksa, dengan mencurahkan darah-Nya sehabis-habisnya. Ia dihancurbinasakan hingga wafat di kayu salib yang hina di tempat pelaksanaan hukuman mati di hadapan seluruh rakyat, dan itu semua terjadi di depan matanya. Jiwa-jiwa saleh, apa yang hendak kalian katakan? Tidakkah peristiwa ini, dan tidakkah Bunda yang malang ini layak menerima belas kasihan? Kalian tentu paham tentang siapakah aku berbicara. Putranya itu, yang dihukum mati secara keji adalah Yesus Penebus kita yang terkasih, dan Bunda-Nya adalah Santa Perawan Maria; yang karena cintanya kepada kita, rela menyaksikan Putranya dikurbankan bagi Keadilan Ilahi oleh kebiadaban manusia. Dukacita yang dahsyat ini, yang ditanggung Maria demi kita, - dukacita yang lebih hebat dari dukacita seribu kematian, layak memperoleh baik belas kasihan maupun terima kasih kita. Jika kita tidak dapat membalas cinta yang sedemikian besar itu, setidak-tidaknya marilah menyisihkan sedikit waktu pada hari ini untuk merenungkan betapa dahsyat dukacita yang menjadikan Maria Ratu Para Martir; oleh karena sengsaranya dalam kemartirannya yang hebat ini melampaui sengsara semua martir; karena, pertama-tama, terlama menurut ukuran waktu, dan kedua, terdahsyat menurut ukuran intensitas.

Point pertama. Sama seperti Yesus disebut Raja Sengsara dan Raja Para Martir, sebab sengsara yang diderita-Nya semasa hidup-Nya jauh melampaui sengsara para martir, demikian juga Maria layak disebut Ratu Para Martir. Maria pantas digelari demikian sebab ia menanggung sengsara kemartiran yang paling ngeri sesudah Putranya.

Karenanya, tepat jika Richard dari St. Laurensius menyebutnya “Martir dari para martir”; dan kepada Maria dapatlah dikenakan NUBUAT NABI YEREMIA ini, “Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan”, artinya bahwa penderitaan itu sendiri, yang melampaui penderitaan semua martir dijadikan satu, adalah mahkota yang diberikan kepadanya sebagai Ratu Para Martir.

Bahwa Maria adalah sungguh seorang martir tak dapat diragukan lagi, seperti yang ditegaskan oleh Denis Carthusian, Pelbart, Catharinus, serta yang lainnya. Merupakan pendapat yang tak dapat disangkal bahwa sengsara yang begitu hebat hingga dapat mengakibatkan kematian merupakan suatu kemartiran, MESKIPUN KEMATIAN ITU SENDIRI TIDAK TERJADI.

St. Yohanes Penginjil disebut martir, meskipun ia tidak mati ketika diceburkan ke dalam kuali berisi minyak mendidih, melainkan keluar dengan lebih semarak daripada saat ia masuk.

St. Thomas mengatakan, “memiliki kemuliaan kemartiran sudah cukup untuk mempraktekkan ketaatan pada tingkatnya yang paling tinggi, yakni, taat sampai mati.”

“Bunda Maria adalah seorang martir,” kata St. Bernardus, “bukan oleh pedang algojo, melainkan oleh kegetiran dukacita hatinya.” Tubuhnya tidak terluka oleh tangan algojo, tetapi hatinya yang tak bernoda ditembus dengan pedang dukacita akan sengsara Putranya; dukacita yang cukup hebat untuk mengakibatkan kematiannya, bukan sekali, tetapi beribu kali.

Dari sini kita dapat memahami bahwa Bunda Maria bukan saja seorang martir sejati, tetapi bahkan kemartirannya melampaui kemartiran para martir lainnya; karena jangka waktunya lebih lama dari yang lainnya. Seluruh hidupnya dapat dikatakan sebagai suatu kematian yang panjang.

“Sengsara Yesus,” demikian kata St. Bernardus, “dimulai sejak kelahiran-Nya”. Demikian juga Maria, dalam segala hal serupa dengan Putranya, menanggung kemartirannya sepanjang hidupnya.

Di antara banyak arti nama Maria, demikian Beato (sekarang Santo) Albertus Agung menegaskan, salah satunya berarti 'laut pahit'. Jadi, pada Maria berlaku nubuat nabi Yeremia: “luas bagaikan laut reruntuhanmu.” Sama seperti laut seluruhnya pahit dan asin, demikian juga hidup Maria senantiasa dipenuhi kepahitan karena bayangan akan sengsara Sang Penebus yang senantiasa ada di benaknya.

“Tak dapat diragukan lagi bahwa dengan penerangan Roh Kudus dalam tingkat yang jauh melampaui segala nabi, Maria, yang jauh lebih unggul dari mereka, memahami nubuat-nubuat yang ditulis para nabi dalam Kitab Suci mengenai Mesias.” Hal ini tepat seperti yang dinyatakan malaikat kepada St. Brigitta.

B. Albertus Agung menambahkan, “Santa Perawan, bahkan sebelum menjadi Bunda-Nya, paham bagaimana Sabda Yang Menjadi Daging harus menderita sengsara demi keselamatan manusia. Berbelas kasihan kepada Juruselamat yang tak berdosa ini, yang akan dijatuhi hukuman mati secara keji oleh karena kejahatan-kejahatan yang tidak Ia lakukan, bahkan pada saat itu Maria telah memulai kemartirannya yang hebat.”

Dukacitanya meningkat tak terhingga ketika ia menjadi Bunda Sang Juruselamat. Jadi, bayangan ngeri akan beratnya sengsara yang harus diderita oleh Putranya yang malang, mengakibatkan Maria sungguh menderita suatu kemartiran yang panjang, kemartiran yang berakhir hingga akhir hayatnya.

Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas kepada Santa Brigitta dalam suatu penglihatan yang dialaminya ketika ia berada di Roma, dalam gereja Saint Mary Major, di mana Santa Perawan Maria bersama St. Simeon, dan seorang malaikat yang membawa sebilah pedang yang amat panjang, yang merah karena noda darah, menampakkan diri kepada St. Brigitta.

Dengan cara demikian ditunjukkan kepadanya betapa panjang dan pahitnya dukacita yang menembus hati Bunda Maria sepanjang hidupnya. Maria berkata, “Jiwa-jiwa yang telah ditebus, dan anak-anakku yang terkasih, janganlah berbelas kasihan kepadaku hanya pada jam di mana aku menyaksikan Yesus-ku yang terkasih meregang nyawa di hadapan mataku; oleh sebab pedang dukacita yang dinubuatkan Simeon menembus jiwaku sepanjang hidupku: ketika aku menyusui Putraku, ketika aku menggendong-Nya dalam pelukanku, aku telah melihat kematian ngeri yang menanti-Nya. Bayangkan, betapa panjang dan pilunya sengsara yang harus kuderita.”

Maria dapat berkata menggunakan kata-kata Daud ini, “Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah. Sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita.” “Seluruh hidupku dilewatkan dalam dukacita dan airmata; karena deritaku, yang adalah kasih sayangku kepada Putraku terkasih, tak pernah lepas dari ingatanku. Aku selalu terbayang akan derita sengsara dan kematian yang suatu hari nanti harus ditanggung-Nya.”

Bunda Ilahi sendiri mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa bahkan sesudah wafat dan kebangkitan Putra-Nya, apa pun yang ia makan atau kerjakan, kenangan akan sengsara-Nya tertanam begitu kuat dalam ingatannya dan selalu segar dalam hatinya yang lembut. Sebab itu, Tauler mengatakan “Bunda Perawan melewatkan sepanjang hidupnya dalam dukacita yang terus-menerus,” karena hatinya senantiasa diliputi dukacita dan sengsara.

Waktu, yang biasanya meringankan dukacita seorang yang dirundung duka, tidak dapat memulihkan Maria; tidak, malahan meningkatkan dukacitanya. Sementara Yesus, di satu pihak, bertambah usianya dan senantiasa tampil semakin menawan serta penuh kasih karunia; demikian juga, di lain pihak, waktu kematian-Nya semakin dekat, dan dukacita senantiasa bertambah dan bertambah di hati Maria, karena bayangan akan kehilangan Dia di dunia ini.
Malaikat mengatakan kepada St Brigitta, “Bagaikan mawar tumbuh di antara duri-duri, demikian juga Bunda Allah melewatkan tahun-tahun dalam duka; dan bagai duri-duri bertumbuh seiring dengan bertumbuhnya sang mawar, demikian juga duri-duri dukacita bertambah di hati Maria, mawar pilihan Allah, sementara ia bertambah dalam usia; dan semakin begitu dalam duri-duri itu menembus hatinya.” Setelah merenungkan kesepuluh dukacita Maria dalam hal waktu, mari kita melanjutkan ke point yang kedua - dahsyatnya dukacita Maria dalam hal intensitas.

Point kedua. Ah, Bunda Maria bukan hanya Ratu Para Martir oleh karena kemartirannya jauh lebih lama dari yang lainnya, tetapi juga karena kemartirannya jauh lebih dahsyat dari segala kemartiran lainnya. Namun demikian, siapa gerangan yang dapat mengukur kedahsyatannya?

NABI YEREMIA tampaknya tak dapat menemukan dengan siapa kiranya ia dapat membandingkan Bunda Dukacita ini, ketika ia memikirkan dukacitanya yang begitu hebat saat kematian Putranya,
“Apa yang dapat kunyatakan kepadamu, dengan apa aku dapat menyamakan engkau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur, ya dara, puteri Sion? Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?”

Kardinal Hugo, dalam sebuah uraian menanggapi pernyataan tersebut mengatakan “Oh Santa Perawan, bagaikan laut kepahitan melampaui segala kepahitan, demikian juga dukacitamu melampaui segala dukacita.”

St. Anselmus menegaskan, “andai saja Tuhan tidak memelihara hidup Maria dengan mukjizat istimewa di setiap saat kehidupannya, dukacitanya yang begitu dahsyat itu pastilah telah mengakibatkan kematiannya”.

Bernardinus dari Siena lebih jauh mengatakan, “dukacita Maria demikianlah dahsyat, hingga jika saja dukacita itu dibagi-bagikan di antara manusia, masing-masing bagian sudah cukup untuk menyebabkan kematian seketika.”

Mari kita merenungkan alasan-alasan bagaimana kemartiran Maria jauh melampaui semua martir. Pertama-tama kita perlu ingat bahwa para martir menanggung penderitaan mereka, yang merupakan akibat siksa api dan alat-alat sarana lainnya di TUBUH mereka.

Bunda Maria menanggung penderitaannya dalam JIWAnya, seperti dinubuatkan oleh St. SIMEON, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”.

Seolah-olah orang tua kudus itu mengatakan, “Oh, Santa Perawan Tersuci, tubuh para martir akan dikoyakkan dengan besi, tetapi jiwamu akan ditembus olehnya, dan engkau akan menjadi martir karena jiwamu oleh Sengsara Putramu sendiri.”

Karena JIWA LEBIH BERHARGA DARIPADA TUBUH, betapa jauh lebih hebat penderitaan Maria dibandingkan para martir lainnya. Seperti yang dikatakan Yesus Kristus sendiri kepada St. Katarina dari Siena, “Penderitaan jiwa dan penderitaan badan tidak dapat dibandingkan.”

Sementara Abas kudus, Arnoldus dari Chartres mengatakan, “siapa pun yang hadir di Bukit Kalvari, sebagai saksi atas kurban agung Anak Domba Tak Bercela, akan melihat dua altar besar, yang satu adalah Tubuh Yesus, yang lain adalah Hati Maria, karena, di bukit itu, pada saat yang sama Putranya mempersembahkan Tubuh-Nya dengan wafat-Nya, Bunda Maria mempersembahkan jiwanya dengan belas kasihannya.”

Lagi pula, St. Antonius mengatakan, “sementara para martir lain menderita dengan mengurbankan nyawa mereka sendiri, Santa Perawan menderita dengan mengurbankan nyawa Putranya, nyawa yang dikasihinya jauh melampaui nyawanya sendiri.

Jadi, tidak saja Maria menderita dalam jiwanya semua yang diderita Putranya di Tubuh-Nya, tetapi lebih dari itu, menyaksikan derita dan sengsara Putranya mendatangkan dukacita yang lebih dahsyat di hatinya daripada jika ia sendiri yang harus menderita segala sengsara itu di tubuhnya.”

Tidak seorang pun dapat meragukan bahwa Bunda Maria menderita dalam hatinya segala kekejian yang ia saksikan menimpa Putranya yang terkasih. Siapa pun dapat mengerti bahwa penderitaan anak-anak adalah juga penderitaan para ibu mereka yang menyaksikannya.

St. Agustinus, merenungkan dukacita yang harus ditanggung si ibu dalam Kitab Makabe ketika menyaksikan penganiayaan atas putera-puteranya, mengatakan, “Ia, menyaksikan penderitaan mereka, juga menderita bagi setiap puteranya; sebab ia mengasihi mereka semuanya. Ia menderita dalam jiwanya apa yang diderita putera-puteranya dalam tubuh mereka.”

Demikian juga, Bunda Maria menanggung segala siksa, aniaya, dera, mahkota duri, paku dan salib yang meremukkan tubuh Yesus yang tak berdosa. Semuanya itu pada saat yang sama meremukkan hati Sang Perawan untuk melengkapi kemartirannya.

“Yesus menderita dengan daging-Nya dan Bunda Maria dengan hatinya,” tulis Beato Amadeus.
“Begitu dahsyat,” kata St. Laurensius Giustiniani, “hingga hati Maria menjadi serupa cermin Sengsara Sang Putra, di mana dapat dilihat, tergambar dengan tepat dan jelas, ludah, pukulan dan tamparan, luka-luka, serta semuanya yang diderita Yesus.”
St. Bonaventura juga mengatakan, “luka-luka itu - yang tersebar di sekujur tubuh Kristus - semuanya dipersatukan dalam hati Maria.”

Demikianlah Santa Perawan, melalui belas kasihan dari hatinya yang lembut kepada Putranya, didera, dimahkotai duri, dihina dan dipakukan pada kayu salib.

St. Bonaventura ketika merenungkan Maria di Bukit Kalvari, menyaksikan wafat Sang Putra, bertanya kepadanya: “Oh Bunda, katakanlah kepadaku, di manakah engkau berdiri? Apakah hanya di kaki salib? Ah, jauh lebih dari itu, engkau berada di salib itu sendiri, disalibkan bersama Putramu.”

Menanggapi kata-kata SANG PENEBUS seperti yang disuarakan oleh nabi YESAYA,
“Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku!”,
Richard dari St. Laurensius mengatakan,
“Benar demikian, O Tuhan, bahwa dalam karya penebusan manusia Engkau menderita seorang diri, tak ada seorang pun yang berbelas kasihan kepada-Mu dengan pantas; hanya ada seorang wanita menyertai Engkau, dan ia adalah Bunda-Mu sendiri; ia menderita dalam hatinya segala yang Engkau derita dalam Tubuh-Mu.”

Tetapi semua perkataan itu terlalu sedikit untuk mengungkapkan dukacita Maria, sebab sejauh yang saya amati, ia jauh lebih menderita menyaksikan sengsara Putranya terkasih daripada jika ia sendiri yang harus menanggung segala kekejian dan wafat Putranya.

Eramus, berbicara tentang para orangtua pada umumnya, mengatakan bahwa para orangtua akan lebih tersiksa menyaksikan penderitaan anak-anak mereka daripada mereka harus menanggung penderitaan itu sendiri. Pendapat tersebut tidak selalu benar, tetapi jelas terbukti dalam diri Bunda Maria. Tak diragukan lagi ia mengasihi Putranya dan hidup-Nya jauh melampaui hidupnya sendiri atau bahkan seribu kali hidupnya sendiri.

Beato Amadeus dengan tepat menegaskan, “Bunda Dukacita, menyaksikan dengan pilu derita sengsara Putranya terkasih, menderita lebih dahsyat daripada jika ia sendiri yang harus menanggung segala Sengsara Kristus.”

Alasannya jelas, seperti yang dikemukakan St. Bernardus, “jiwa lebih melekat pada yang dicintainya daripada di mana ia tinggal.”
Kristus Sendiri telah mengatakan hal yang sama, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Jadi, jika Bunda Maria, oleh karena cintanya, lebih tinggal dalam diri Putranya daripada dalam dirinya sendiri, tentulah ia menanggung dukacita yang jauh lebih dahsyat dalam sengsara dan wafat Putranya daripada jika ia menanggung sengsara itu sendiri.
Bunda Maria menanggung kematian paling keji di seluruh dunia yang telah ditimpakan kepadanya.

Kita perlu mempertimbangkan suatu keadaan lain yang menjadikan kemartiran Maria jauh melampaui penderitaaan semua martir lainnya: yaitu, bahwa dalam Sengsara Yesus, Bunda Maria BEGITU MENDERITA dan BERDUKA, TANPA PENGHIBURAN sedikit pun.

Para martir menderita karena siksa yang ditimpakan kepada mereka oleh para penganiaya; tetapi CINTA YESUS menjadikan penderitaan mereka MANIS DAN MENYENANGKAN.

- St. Vincentius tubuhnya didera di tiang penderaan, dicabik-cabik dengan sepit, dicap dengan plat besi panas.
- St. Bonifasius tubuhnya dikoyakkan dengan kait-kait besi; buluh-buluh berujung runcing ditusukkan di antara kuku-kuku dan dagingnya; timah hitam cair dicekokkan ke dalam mulutnya; dan di tengah derita aniaya itu tak henti-hentinya ia berseru “AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, O TUHAN YESUS KRISTUS.”
- St. Markus dan St. Marselinus diikatkan ke sebuah pancang, kaki mereka ditembusi paku; dan ketika penganiaya berkata kepada mereka “Hai orang-orang celaka, lihat keadaanmu kini, selamatkanlah dirimu dari penderitaan ini.” Maka, kedua orang kudus itu menjawab, “Dari siksa apa, penderitaan apakah yang engkau katakan itu? Belum pernah kami menikmati PERJAMUAN BEGITU MEWAH seperti pada saat ini, di mana kami menderita dengan PENUH SUKACITA DEMI CINTA KEPADA YESUS KRISTUS.”
- St. Laurensius menderita aniaya; tetapi ketika sedang di panggang di pemanggangan, “api cinta dalam hatinya,” demikian menurut St. Leo, “lebih kuat menghibur jiwanya daripada api yang membakar tubuhnya.”
Cinta begitu menguasainya hingga dengan berani St. Laurensius menggoda penganiayanya, “Jika engkau ingin memakan dagingku, sisi sebelah sini sudah matang, baliklah dan makanlah.”

Tetapi, bagaimana mungkin, di tengah begitu banyak siksa dan aniaya, ketika meregang nyawa, orang kudus itu bersukacita?

“Ah!” jawab St. Agustinus, “mabuk oleh anggur CINTA ILAHI, ia tidak merasakan baik penderitaan maupun kematian.”

Jadi, semakin para martir kudus itu mencintai Yesus, semakin sedikit mereka merasakan penderitaan dan kematian. Bayangan akan sengsara Yesus yang tersalib saja sudah cukup untuk menjadi penghiburan bagi mereka.

Tetapi, apakah Bunda Dukacita kita juga terhibur oleh cintanya kepada Putranya, dan apakah bayangan akan sengsara-Nya menghibur hatinya? Ah, tidak! Justru Putranya yang menderita sengsara itulah yang menjadi sumber dukacitanya, dan cintanya pada Putranya adalah satu-satunya penganiayanya yang paling kejam. Kemartiran Maria sepenuhnya adalah menyaksikan dan berbelas kasihan terhadap Putranya yang terkasih dan yang tak berdosa, yang menderita begitu hebat. Jadi, semakin besar cintanya kepada Putranya, semakin pilu dan tak terhiburkan dukacitanya. “Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?” Ah, Ratu Surgawi, cinta telah meringankan penderitaan para martir lainnya serta memulihkan luka-luka mereka; tetapi siapakah gerangan yang akan meringankan dukacitamu yang pahit? Siapakah gerangan yang akan memulihkan luka-luka keji yang mengoyak hatimu? “Siapa yang akan memulihkan engkau?” Sebab, Putra yang dapat menjadi sumber penghiburan bagimu, oleh karena sengsara-Nya, justru telah menjadi sumber dukacitamu, dan cinta kasih yang engkau limpahkan kepada-Nya sepenuhnya merupakan penyebab kemartiranmu.

Jadi, seperti para martir lain, demikian menurut Diez, semuanya dilambangkan dengan alat-alat penyiksa mereka - St. Paulus dengan pedang, St. Andreas dengan salib, St. Laurensius dengan alat pemanggang - maka Maria dilambangkan dengan jenasah Putranya dalam pelukannya. Sebab Yesus Sendiri-lah, dan hanya Ia sendiri, yang menjadi penyebab kemartiran Maria, oleh karena begitu besar kasihnya kepada Putra-nya.

Richard dari St. Victor menegaskan dalam beberapa kata segala apa yang telah aku katakan: “Bagi para martir lain, semakin besar cinta mereka kepada Yesus akan semakin meringankan sengsara kemartiran mereka; tetapi bagi Santa Perawan, semakin besar cintanya kepada Yesus, semakin dahsyat sengsaranya dan semakin kejam kemartirannya.”

Benar bahwa semakin kita mencintai sesuatu, semakin besar kesedihan yang harus kita tanggung apabila ketika kita kehilangan dia. Kita lebih berduka atas kematian seorang saudara daripada kematian seekor binatang beban; kita lebih berduka atas kematian seorang putera daripada kematian seorang teman.

Kornelius a Lapide mengatakan, “agar dapat memahami dahsyatnya dukacita Maria pada saat wafat Putranya, kita perlu memahami besarnya kasihnya kepada-Nya.” Tetapi siapakah yang dapat mengukur kasih?

Beato Amadeus mengatakan, “dalam hati Maria bersatu dua macam kasih bagi Yesus - kasih ADIKODRATI, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Allah-nya, dan kasih KODRATI, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Putranya.”

Begitulah KEDUA MACAM KASIH ITU MENYATU, BEGITU DALAM, hingga William dari Paris mengatakan bahwa Santa Perawan “mengasihi-Nya sebanyak yang mungkin dilakukan oleh suatu makhluk yang murni untuk mengasihi-Nya.” Richard dari St. Victor menegaskan, “karena tidak ada kasih seperti kasihnya, maka tidak ada dukacita seperti dukacitanya.” Dan jika kasih Maria terhadap Putranya demikian dahsyat, maka pastilah dahsyat pula dukacitanya saat ia kehilangan Putranya oleh karena wafat-Nya. “Di mana terdapat kasih terbesar,” demikian Beato Albertus Agung, “di sana pula terdapat dukacita terdahsyat.”

Marilah sekarang kita membayangkan Bunda Ilahi berdiri dekat Putra-nya yang sedang meregang nyawa di salib, dan dengan demikian TEPATLAH dikenakan kepadanya kata-kata nabi YEREMIA, “Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan TUHAN kepadaku.”

O kalian yang melewatkan hari-hari kalian di bumi dan tidak berbelas kasihan terhadap aku, berhentilah sejenak dan pandanglah aku, sekarang aku menyaksikan Putraku terkasih meregang nyawa di hadapanku. Pandanglah dan lihatlah, di antara mereka semua yang berduka dan menderita, adakah dukacita yang seperti dukacitaku?
“Tidak, o ibu yang paling menderita di antara segala ibu,” jawab St. Bonaventura, “tidak mungkin ditemukan dukacita yang lebih pilu daripada dukacitamu; sebab tidak mungkin ditemukan putra yang lebih terkasih daripada putramu.” Ah, “tak akan pernah ada putra yang lebih menawan hati di dunia ini daripada Yesus,” kata Richard dari St. Laurentius; “dan juga tidak akan pernah ada ibu yang mengasihi putranya lebih lemah lembut daripada Maria! Jadi, karena di dunia ini tidak pernah ada kasih seperti kasih Maria, bagaimana mungkin dapat ditemukan dukacita seperti dukacita Maria?”

Karena itu St. Ildephonsus tanpa ragu menegaskan, “mengatakan bahwa dukacita Maria jauh melampaui segala penderitaan para martir lainnya digabung menjadi satu, mengungkapkan terlalu sedikit.”
Dan St. Anselmus menambahkan, “aniaya paling keji yang menimpa para martir kudus merupakan hal sepele, atau bahkan tak ada artinya sama sekali, jika dibandingkan dengan kemartiran Maria.”

St. Basilus dari Seleucia juga menulis, “bagaikan matahari melampaui semua planet lain dalam kemegahannya, demikian juga penderitaan Maria melampaui penderitaan semua martir.”
Seorang penulis terpelajar menyimpulkannya dalam suatu pernyataan yang indah. Ia mengatakan bahwa begitu dahsyat dukacita Bunda yang lemah lembut ini dalam Sengsara Yesus, hingga Bunda Maria sendiri berbelas kasihan pada tingkat yang setara dengan wafat Tuhan yang menjadi manusia.

Kepada Santa Perawan, St. Bonaventura bertanya, “Dan mengapakah, O Bunda, engkau juga mengurbankan dirimu sendiri di Kalvari? Tidakkah Tuhan yang Tersalib sudah cukup untuk menebus kami, mengapakah engkau, Bunda-Nya, hendak pula disalibkan bersama-Nya?” Sungguh, wafat Yesus lebih dari cukup untuk menyelamatkan dunia dan mendatangkan kehidupan kekal; akan tetapi Bunda yang amat baik ini, demi kasihnya kepada kita, berharap pula untuk membantu mendatangkan keselamatan bagi kita dengan penderitaannya yang ia persembahkan bagi kita di Kalvari.
Sebab itu, Beato Albertus Agung mengatakan, “sama seperti kita berhutang kepada Yesus atas Sengsara yang Ia derita demi cinta-Nya kepada kita, demikian juga kita berhutang kepada Maria, atas kemartiran yang dengan sukarela ia derita demi keselamatan kita dengan wafatnya Putra-nya.”

Saya mengatakan sukarela, sebab, seperti yang diungkapkan St. Agnes kepada St. Brigitta, “Bunda kita yang lemah lembut dan penuh belas kasihan lebih suka menderita sengsara daripada membiarkan jiwa-jiwa kita tidak ditebus dan tinggal dalam kebinasaan kekal.”

Sungguh, kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya kelegaan Maria di tengah dukacitanya yang dahsyat dalam Sengsara Putra-nya adalah melihat dunia yang sesat ini ditebus oleh wafat-Nya dan hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan kembali.

“Sementara berduka, Bunda Maria juga bersukacita,” demikian kata Simon dari Cascia, “bahwa satu kurban telah dipersembahkan sebagai tebusan bagi semua orang, dan dengannya murka Tuhan diredakan kembali.”

--------------------------------------------------------------------

Cinta Maria yang sedemikian besar pantas mendapatkan terima kasih dari pihak kita. Dan rasa terima kasih itu patut dinyatakan dengan setidak-tidaknya merenungkan dan berbelas kasihan kepadanya dalam dukacitanya. Namun demikian, Bunda Maria mengeluh kepada St. Brigitta bahwa begitu sedikit yang melakukannya dan sebagian besar dunia hidup dengan mengacuhkannya, “Aku melihat berkeliling kepada semua yang tinggal di bumi untuk melihat kalau-kalau ada yang menaruh belas kasihan kepadaku dan merenungkan dukacitaku; aku mendapati hanya sedikit sekali yang melakukannya. Sebab itu, putriku, meskipun aku telah dilupakan banyak orang, setidak-tidaknya engkau janganlah melupakan aku. Renungkanlah sengsaraku, dan teladanilah dukacitaku sebanyak yang engkau mampu.” Untuk memahami betapa menyenangkan bagi Bunda Maria jika kita merenungkan dukacitanya, kita hanya perlu tahu bahwa pada tahun 1239 Santa Perawan menampakkan diri kepada tujuh hambanya yang setia (yang di kemudian hari menjadi para pendiri Ordo Religius Pelayan-pelayan Maria), dengan jubah hitam di tangannya. Bunda Maria menghendaki agar mereka, jika mereka ingin menyenangkan hatinya, seringkali merenungkan dukacitanya. (Jubah hitam dikenakan untuk maksud ini, dan untuk mengingatkan mereka akan dukacitanya). Ia menyatakan keinginannya agar di kemudian hari mereka mengenakan gaun duka itu. Yesus Kristus Sendiri menampakkan diri kepada Beata Veronica da Binasco bahwa Ia, dan selamanya demikian, lebih suka melihat Bunda-Nya yang memperoleh belas kasihan daripada Ia Sendiri. Kata-Nya kepada Veronica, “Puteri-Ku, air mata yang dicurahkan demi Sengsara-Ku menyenangkan Daku; tetapi, karena Aku mencintai Bunda-Ku Maria dengan kasih yang begitu dalam, renungan akan dukacita yang harus dideritanya pada saat wafat-Ku akan lebih menyenangkan Hati-Ku.”

Rahmat-rahmat yang dijanjikan Yesus bagi mereka yang berdevosi kepada dukacita Maria sungguh luar biasa. Pelbert menceritakan bahwa kepada St. Elizabeth dinyatakan, yaitu sesudah Bunda Maria diangkat ke Surga, St. Yohanes Penginjil rindu untuk bertemu dengannya kembali. Kerinduannya itu dipenuhi; Bundanya yang terkasih menampakkan diri kepadanya; dan bersamanya Yesus Kristus juga menampakkan diri. St. Yohanes kemudian mendengar Maria meminta Putra-nya untuk menganugerahkan rahmat-rahmat istimewa bagi mereka yang berdevosi kepada dukacitanya. Yesus berjanji kepada Bunda-Nya untuk menganugerahkan empat rahmat utama:

Pertama, bahwa mereka yang sebelum ajalnya berseru kepada Bunda Ilahi atas nama dukacitanya akan memperoleh tobat sempurna atas dosa-dosanya.

Kedua, Ia akan melindungi mereka semua yang mempraktekan devosi ini dalam pencobaan-pencobaan mereka, dan bahwa Ia akan melindungi mereka secara istimewa pada saat ajal mereka.

Ketiga, Ia akan membangkitkan dalam benak mereka kenangan akan Sengsara-Nya, dan bahwa mereka akan memperoleh ganjaran untuk itu di surga.

Keempat, Ia akan mempercayakan mereka yang dengan setia berdevosi ke dalam tangan Maria, dengan kuasa untuk memberikan kepada mereka apa pun yang ia kehendaki, dan untuk memperolehkan bagi mereka segala rahmat yang ia kehendaki.

Sebagai bukti atas janji-Nya ini, marilah kita lihat contoh berikut ini, bagaimana ampuhnya devosi kepada dukacita Maria dalam membantu jiwa memperoleh keselamatan kekal.

TELADAN

Dalam penampakan-penampakan kepada St. Brigitta kita membaca tentang seorang kaya, seorang keturunan bangsawan, yang jahat dan hidup dalam dosa. Ia memberikan dirinya sebagai budak iblis. Selama enam puluh tahun berikutnya ia mengabdi iblis, hidup dengan cara demikian seperti yang dapat kita bayangkan dan tak pernah sekali pun menerima sakramen-sakramen. Sekarang, bangsawan ini mendekati ajalnya. Yesus Kristus, untuk menunjukkan belas kasihan-Nya, meminta St. Brigitta untuk mengatakan kepada bapa pengakuannya agar pergi mengunjungi sang bangsawan serta mendesaknya untuk mengakukan dosa-dosanya. Imam pergi, tetapi si sakit mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan Sakramen Tobat karena ia telah sering menerimanya. Imam pergi untuk kedua kalinya; tetapi budak neraka yang malang ini bersikukuh pada kekerasan hatinya untuk tidak mengakukan dosa-dosanya. Yesus sekali lagi menyatakan kepada St. Brigitta keinginan-Nya agar imam datang kembali. Imam melakukannya; dan pada kesempatan ketiga ini, imam mengatakan kepada si sakit tentang penglihatan St. Briggita dan bahwa ia telah kembali berulang kali hanya karena Kristus, yang hendak menunjukkan kerahiman-Nya, memerintahkannya demikian. Mendengar ini, orang yang sedang menghadapi ajal ini tersentuh hatinya dan mulai mengangis. “Tetapi, bagaimana,” teriaknya, “aku dapat diselamatkan. Aku, yang selama enam puluh tahun mengabdi iblis sebagai budaknya, dan jiwaku sarat dengan dosa-dosa yang tak terbilang banyaknya?” “Anakku,” jawab imam untuk membesarkan hatinya, “janganlah ragu; jika engkau menyesali dosa-dosamu, sebagai wakil dari pihak Allah, aku menjanjikan pengampunan.” Kemudian, setelah kepercayaan dirinya bangkit kembali, ia berkata kepada imam, “Bapa, aku memandang diriku sendiri sebagai orang yang sesat, dan sudah berputus asa untuk memperoleh keselamatan; tetapi sekarang aku merasakan kesedihan mendalam atas dosa-dosaku, yang meyakinkan aku. Dan karena Tuhan tidak meninggalkan aku, maka aku akan mengakukan dosa-dosaku.” Sesungguhnya, ia mengakukan dosanya empat kali pada hari itu, dengan tanda-tanda sesal dan tobat yang sungguh. Keesokan paginya ia menerima Komuni Kudus. Pada hari keenam, penuh rasa sesal dan pasrah, ia meninggal dunia. Sesudah kematiannya, Yesus Kristus kembali berbicara kepada St. Brigitta dan mengatakan kepadanya bahwa pendosa itu telah diselamatkan; bahwa ia sekarang berada dalam api penyucian, dan bahwa ia berhutang keselamatan jiwanya kepada Santa Perawan Bunda-Nya, sebab almarhum, meskipun hidup sesat dalam kejahatan, senantiasa berdevosi kepada dukacita Maria, dan setiap kali ia merenungkannya, ia berbelas kasihan kepada Sang Bunda.
____________________________________________________________________

O Bundaku yang berdukacita! Ratu para martir dan sengsara, adakah engkau menangisi Putramu dengan pilu, yang wafat demi keselamatanku?

Tetapi, apakah gunanya air matamu itu bagiku jika aku sesat? Karenanya, berkat dukacitamu, perolehkanlah bagiku TOBAT SEJATI atas dosa-dosaku, dan keteguhan hati untuk mengubah hidupku, bersama dengan belas kasihan yang lembut dan terus-menerus demi sengsara Yesus dan demi dukacitamu.

Sungguh memalukan bagiku melihat Tuhan Yesus-ku penuh luka, dan engkau terluka bersama-Nya, sementara aku sendiri bersih tanpa suatu luka pun.”

O Bundaku, melalui dukacita yang engkau derita saat menyaksikan Putra-mu menundukkan kepala-Nya dan wafat di kayu salib dalam siksa sengsara yang begitu keji, aku mohon kepadamu agar memperolehkan bagiku kematian yang bahagia. Ah, janganlah berhenti, O pembela para pendosa, menopang jiwaku yang menderita di tengah pertarungan yang harus dilaluinya dalam perjalanan panjangnya menuju ke keabadian. Dan, sementara mungkin bagiku kehilangan kemampuan berkata-kata, kehilangan kekuatan untuk menyerukan namamu dan Nama Yesus, yang adalah seluruh pengharapanku, maka aku melakukannya sekarang; aku berseru kepada Putramu dan kepadamu untuk menolongku di saat-saat terakhir. Karenanya aku berkata, Yesus dan Bunda Maria, kepada-Mu kuserahkan jiwaku. Amin.
____________________________________________________________________

Sumber : "Of the Dolours of Mary" by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) - February 6, 1996; www.cin.org
____________________________________________________________________

DOA MOHON BANTUAN BUNDA MARIA & ROH KUDUS

Bunda Maria, ibuku yang baik hati, bantulah agar aku dalam menempuh kehidupan ini, agar aku dapat mencapai kebahagiaanku dan cita-citaku.

Oh Bunda, bila aku ingat akan masa depan dan kesulitan-kesulitanku , aku sangat khawatir dan sedih, sering aku merasa putus asa. Bunda, tolonglah aku dalam kesulitanku ini, agar aku selamat dapat meraih cita-citaku.

Oh Roh Kudus, terangilah akal budiku dan bimbinglah aku, ampunilah kesalahanku dan kabulkanlah doaku, Amin.

Jiwa Maria, sucikanlah aku
Hati Maria, nyalakanlah aku
Tangan Maria, sangga-lah aku
Kaki Maria, pimpinlah aku
Mata Maria, pandanglah aku
Bibir Maria, berkatalah padaku
Dukacita Maria, kuatkanlah aku
O Maria yang manis, dengarkanlah aku
Jangan ijinkan aku terpisah darimu
Terhadap musuh-musuhku, belalah aku
Tuntun aku kepada Puteramu, YESUS.
Semoga dengan dikau,
aku dapat mencintai dan mengasihi sesamaku
dan memuji Yesus untuk selama-lamanya, Amin.

Friday, March 28, 2008

Pentingnya memberikan makanan rohani untuk anak, selain nutrisi untuk tubuh


CIBFest 2008 Banner B





Dalam Alkitab versi bhs aslinya Yunani (Greek) dibedakan penyebutan orang / jiwa sebagai Bios, Psuche, dan Zoe.

(Ini kata pendeta saya yg Tiberias. Catatan: kami pergi ke 2 gereja secara rutin, Katolik & Tiberias, di mana Kuasa Tubuh & Darah Kristus ditegakkan kembali, juga kuasa Minyak Urapan/Annointing Oil (mirip atau sama dgn Minyak Krisma di Katolik) ditegakkan kembali.)

Hidup manusia itu terdiri dari 3 unsur: Bios (tubuh), Psuche (jiwa), Zoe (roh/hati).
Jangan sampai seorang manusia bios-nya hidup (bisa makan-minum), tapi zoe-nya tidak ada atau tidak tumbuh. Semacam zombie...lah gitu.

And Jesus is & should be our Zoe, alias roh kita seharusnya dihimpit, dikuasai sepenuhnya oleh Roh Allah (Roh Kudus). Sepenuhnya. Bukan hanya 40-50%, tapi sepenuhnya !

Itulah perlunya memperhatikan perkembangan (memberi "makanan" kepada) Jiwa & Roh anak-anak kita, selain memelihara Tubuh / Badan mereka.

Artinya, 1. banyak berdoa, mendoakan mereka, ajak mereka berdoa, walau kelihatan belum mengerti;

2. perkenalkan Firman Tuhan (misalnya: bacakan atau nyanyikan, walaupun nampaknya mereka belum mengerti bahasa, tapi itu tidak akan sia-sia, karena akan masuk ke bawah sadar / roh / hati mereka);

3. dan mengasihi mereka (melihat apa sebetulnya kebutuhan mereka, melakukan terapi dasarnya karena KASIH kpd anak, krn kebutuhan anak, bukan krn ikut2an, dll alasan gak penting.).

Kita 'kan juga sudah sadar bahwa selain makanan berupa nasi, sayur, lauk, dll, ternyata diperlukan juga "makanan" sensory, yaitu 'makanan' buat otot & otak yaitu gerakan2 yg mengaktifkan otak
(yg dipelajari dlm SensoryIntegration, OccupationalTherapy, FloorTime, Brain Gym, Glenn Doman, dll - ingat istilah Vestibular, Taktil, Proprioceptive, Otak Primitif dll?).

Sepuluh tahun yang lalu, saya & suami pernah lho di"marahi", ditegur-lah tepatnya, oleh seorang psikolog Ibu Farah Suryawan, Psi. pada saat anak sy akhirnya didiagnosa autisme/PDD, "Ibu rupanya mengira kebutuhan anak cuma makan, minum, tidur, dan digantikan popok, gitu ya?"

Kenapa sang psikolog berkomentar begitu?
Karena dari tanya jawab / observasi terhadap kami sekeluarga, ya gitulah hasilnya... Ternyata kami kurang memperhatikan perkembangan jiwa-nya. Sesuai namanya psikolog 'kan mengurusi psuche / jiwa :D

Sejak itu saya diberi PR antara lain (banyak sih PR-nya): untuk memandikan anak (padahal wkt itu usianya sudah 4 tahun) dengan waslap kasar, lalu sesudah selesai dihanduki baik-baik sambil ditanyai : "ini apa? oh, ini tangan, ini apa? ini kepala, ini leher, ini perut", dst.

Sesudahnya anak dipeluk erat, sambil digoyangkan seperti jam tik-tok-tik-tok (untuk mendapatkan irama kenyamanan dalam pelukan ibu??)

Juga saya disuruh menemani anak bermain. Ini penting.
Mainannya banyak. Kita sering beli. Tapi sungguh ironis, kita ortu jarang sekali atau malah gak senang menemani mereka bermain.
Masak, sampai seorang doktor (DR. Stanley Greenspan) menciptakan teori/ilmu bermain yaitu Floor Time.

Nah itu tadi PR utk jiwa anak. PR utk rohani mereka, sudah dibahas di atas. Ayo, ibu, bapak, berbalik kepada anak kita!

"Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah." (Maleakhi 4:6)

Salam, mama Yohanes. _____________________________________________________________________________________

Taken from blog Berean Mentality.

In the Greek, there are three words used to define life.
Zoe, Psuche, and Bios.
Zoe is the essential principle, the defining force of life. It is the essence; like observing the sky from the drizzle, or the universe from the earth. It is transcendent. Psuche is the being which is influence by Zoe. Bios is what Psuche needs to sustain itself in order to fulfill Zoe. (e.g. food, water, sexual activity, etc).

Let us say there is a distortion of the 3: Bios ->Psuche->Zoe.

If Bios defines our existence, then man receives meaning from within himself; that is from the material. He has no adequate reference point to determine his existence so he seeks to find one in Bios. His desires are left to dominate and dictate his existence, hence causing Bios to become his Zoe. His Psuche is then affected and formed into the likeness of Bios. The Bible teaches the essential principle of the nature of the soul - "by beholding we become changed." When temporary things become mediated as absolutes for life (e.g. clothing, vehicles, jewelry, self-affirmation, food, living conditions, etc) the Psuche configures itself adamantly to the pursuit of life since it is defined by nothing else: Bios - because it starts to define mans purpose, due to heightened emphasis and a perpetuated demand for Bios. Thus causing greed, arrogance, carelessness, apathy, wickedness, pride, and restlessness, begins to ensue in pursuit of the temporary.

For the Christian this sequence should be turned the other way around: Zoe -> Psuche -> Bios.

Zoe defines Psuche and Bios.
JESUS IS OUR ZOE (John 6:27; 14:6; Mat 4:4, ).
So, that means that our Psuche is firstly formed and influenced by Him - Zoe. We take His disposition and nature of defining life and do not allow Bios to rule us. Rather, Bios is now brought into submission of Zoe, bringing complete harmony, peace, and balance to the Psuche. We have not attained it fully but all aspects of our lives are no longer lacking a point of reference outside of our Bios. Therefore, we strive for it and practice it daily, cultivating peace, temperance, love, patience, sympathy, and most importantly selflessness.
__________________________________________________________________________________________

Artikel berikut tepat menggambarkan apa yang kami rasakan setahun belakangan ini (dengan memiliki anak autis / spesial).

- Bahwa sebetulnya orang tua juga jadi bertobat dgn punya anak autis...

- Bahwa kita memang perlu memperhatikan perkembangan / memberi "makanan" kepada Jiwa dan Roh anak kita selain memberi nutrisi bagi Tubuh/Badan-nya.

- Dan seharusnya roh kita dihimpit, dikuasai sepenuhnya oleh Roh Allah (Roh Kudus). Sepenuhnya.

Baca baik2 artikel berikut. Kebetulan sekali Dr. Kurniati Ihromi Sp.KO (putri dari Bu Prof. T.O. Ihromi-Simatupang) adalah kakak dari Ade Ihromi, dulu temen sekelas adik saya.

Tuhan berkati,

(mamanya Yohanes)
__________________________________________________________________________________________

http://www.lk3web.info/files/PendampinganAnakAutisma.doc

SARAN UNTUK PENDAMPINGAN ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS

(oleh Dr. Kurniati Tanjung Ihromi Sp.KO , Hanny Gunawan Prasetya MSc., Dra. Elina br. Panggabean, Ir. Dra. Viviana Wibawa)

disampaikan dalam acara
National Counceling and Healing Conference 2006.

Disclaimer :
Semua yang ditulis adalah berdasarkan KESAKSIAN kehidupan kami, bukan pembuktian ilmiah.
Ajaklah Roh Kudus membimbing anda untuk dapat memetik hal yang berguna bagi kasus yang anda hadapi.
Undanglah Yesus menjadi Juruselamat pribadi anda, lakukan semua FirmanNya.
Hubungan pribadi anda dengan Allah Bapa yang sangat utama, sebab Ia yang akan menunjukkan jalan-jalanNya kepada orang yang mengenalNya dan yang hatinya dekat padaNya seperti Musa.(Mz 103:7)

Renungan Pendahuluan

Mengasuh dan membimbing anak dengan kondisi autisma tentunya ‘challenging’ dan menguras tenaga. Setiap anak mempunyai jalan yang unik dan sempit yang telah Tuhan sediakan menuju rencana Tuhan sesuai masa dan waktu yang telah ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya (Kis. 1:7).

Sebagai orang tua kita bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anak ini menjadi generasi yang secara moral bertanggung jawab dan proses pemikirannya selalu responsif pada kaidah alkitabiah, apapun juga kondisi dan tantangan yang dihadapi.

Kita harus mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).

Mengasihi anak-anak ini bukan berarti mengasihani dan membiarkan mereka terpuruk dalam kondisinya dengan alasan ini sudah menjadi kehendak Tuhan atau bahkan menganggap bahwa ini kayu salib yang harus saya pikul.

Keutuhan keluarga dan tatanan (hirarki) dalam keluarga yang sesuai dengan Firman (Godly order – The head of the woman is the man, the head of the man is Christ, the head of Christ is the GOD the Father, 1 Korintus 11:11, Efesus 5:22-23) adalah kunci utama dalam membuka pintu menuju pemulihan terutama untuk kasus untuk akar spiritual kondisi autisma.

Tuhan Penasihat kita yang Ajaib (Yesaya 9:5) akan menunjukkan jalan yang harus ditempuh jika kita terus berserah kepadaNya.

Disiplin dan pendidikan yang berdasarkan prinsip alkitabiah harus diterapkan (Ibrani 12:11).

Kualitas makanan Roh, Jiwa dan Tubuh anak-anak ini amat penting diperhatikan.

Contoh yang diberikan dalam kehidupan orang tua sehari-hari (Yoh 5:19) terutama kasih ayah (Father’s love dan ministry of Father’s love – Matius 3:17)) adalah penting bagi perkembangan jati diri sang anak termasuk juga anak-anak lain yang normal.

Pelayanan rohani berdasarkan kasih Allah yang sempurna dan tanpa syarat, bukan karena prestasi anak wajib adanya.

Intervensi harus “wholistic” (bertujuan wholeness of spirit, soul and body in Jesus Christ, bukan holistic seperti yang dunia kenal) berupa intervensi spiritual sekaligus juga membangun tubuh dan jiwa sejalan dengan ciptaan Tuhan (back to Creation ketika Allah menciptakan manusia menurut gambarNya (Kej.1:27) dan Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (ay.31)).

“No discipline seems pleasant at the time, but painful. Later on, however, it produces a harvest of righteousness and peace for those who have been trained by it.” (Ibrani12:11)
God is too wise to be mistaken and too good to be unkind

Artikel selengkapnya (agak panjang) silahkan baca di blog saya yang lain, yaitu About Gerard & Autism klik di sini.

Sunday, March 16, 2008

Novena Hari ke-1 sampai dgn Hari ke-9 + Curhat

Novena Kerahiman Illahi dimulai pada hari Jumat Agung (sudah dekat), dan berakhir pada Minggu pertama sesudah Minggu Paskah (yaitu = Pesta Kerahiman Illahi).

Untuk ujud-ujud doa Novena hari ke-1 sampai dengan hari ke-9, silahkan lihat di http://kerahiman.blogspot.com/

Catatan: Percaya atau nggak? Ada bbrp blog dgn nama Kerahiman Illahi, tapi kami tidak saling kenal, apalagi janjian !

Saya sendiri, sewaktu membuat blog ini, tidak sadar sama sekali (krn belum search / google atau apa), bhw ternyata sudah ada beberapa nama yg sama. Ini pasti Tangan Tuhan sendiri yg menggerakkan... :) Roh Kudus sendiri yg telah membisikkan...

Kami sekeluarga sudah kenal devosi ini sejak kira-kira 3-4 tahun yang lalu. (Musti berterima kasih nih... kpd orang yg telah berbaik hati, merogoh koceknya sendiri, untuk membuat brosur / buku, yang dibagikan secara gratis kpd umat di gereja kami pd waktu itu, may God bless them always).

Saya sudah lama ingin publish, menyebarluaskan, tapi baru kesampaian sekarang. Setiap hari kami usahakan pada sekitar jam 3 sore, kami berdoa bersama devosi Kerahiman Illahi ini, kita mohon belas kasihan Tuhan, kiranya Dia jangan memperhitungkan dosa kita...
Kalau tidak sempat jam 3, kami kerjakan sore / malamnya, atau bahkan saya kadang terbangun menjelang jam 3 pagi.

Hasilnya...rasanya lebih damai sejahtera, harmoni dlm rumah tangga (antara pasangan, antara anak & ortu), karena ada kepasrahan kpd Tuhan, pemilik kita semua.

Hanya Tuhan andalan kita. Celakalah orang yg mengandalkan kepandaiannya, kecerdasannya, logikanya, materi / kekayaannya, kecantikannya...

Hati-hati mata hati kita jangan tertutup ilah-ilah jaman ini (materi / konsumerisme, popularitas, prestasi, logika, ilmu pengetahuan, dll, kemajuan teknologi, termasuk tv, handphone, komputer, dll.) Artinya bukan itu tujuan hidup kita, jangan sampai utk mengejar itu semua kita melalaikan yang lain yang jauh lebih berharga (Tuhan, keluarga, kasih).

Salam,
Mama-nya Yohanes

Monday, March 10, 2008

Menjaga mulut kita

"Siapa yang menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan." (Amsal 13:3)
=============================================================================

Dua wanita sedang membicarakan DIET. Lalu salah seorang berkata, "Saat ini saya lebih mementingkan sesuatu yg KELUAR dari mulut saya, daripada apa yg MASUK ke dalamnya." Ada kebijaksanaan dlm kata2 itu.

Ya, Yesus berkata, "Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu dan hujat. Hal-hal inilah yang menajiskan orang." (Matius 15:18-20).

Sesuatu yang kita katakan akan mempengaruhi orang lain.
"Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang," kata Amsal 12:18.

Juga yang sering kita lupakan adalah pengaruh kata2 kita yg sembrono bagi diri kita sendiri. Pada waktu kita membicarakan orang lain, atau memfitnah orang lain, justru kata2 kita mulai menjatuhkan kita. Sebab kita memuaskan pikiran jahat dan memupuknya, sampai kata2 itu meruntuhkan kita.

Sebaliknya, apabila kita menjaga bibir kita, kita mematahkan pikiran jahat.

"Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan," lanjut Amsal 12:18. Kita melindungi jiwa kita, dengan melemahkan pikiran jahat yg ingin meruntuhkan kita.

Mintalah kepada Allah untuk MENGAWASI MULUT kita dan BERJAGA PADA PINTU BIBIR kita (sesuai Mazmur 141:3). Kiranya kata2 kita meningkatkan kualitas hidup kita, bukannya merusak / meruntuhkannya.

Diambil dari buku “Renungan Harian”, Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : “Our Daily Bread” oleh David H. Roper

Kami menyentuh-Nya !

“Apa yang telah ... kami raba dengan tangan kami ... kami beritakan kepada kamu”
(1 Yohanes 1:1,3)
===============================================================================

Mitologi dipenuhi dengan kisah dewa2 zaman dahulu yg turun dari surga dan mengambil wujud manusia. Namun, tak seorang pun menyentuh mereka. Dewa2 itu merupakan impian yg timbul karena manusia mendambakan Allah, berharap suatu hari dia akan datang mendekat. Penjelmaan Yesus – Allah yg menjadi manusia – adalah pemenuhan dari impian2 tsb.

Pengarang Dorothy Sayers berkata: “Allah tidak dapat menuntut apa pun dari manusia yg belum dituntut-Nya dari diri-Nya sendiri. Dia sendiri telah melalui seluruh pengalaman hidup manusia, mulai dari kekesalan2 sepele, kelelahan fisik akibat kerja keras, kekurangan uang, sampai merasakan betapa ngerinya rasa sakit, penghinaan, kekalahan, putus asa, dan kematian.... Ketika Dia menjadi manusia, Dia berperan sbg manusia. Dia dilahirkan dalam kemiskinan (kandang domba di Betlehem), mati dalam kehinaan (disalib), serta menganggap bahwa hal itu layak dilakukan.”

Penjelmaan Yesus Kristus merupakan bukti yg tak dapat disangkal lagi bahwa Allah akan melakukan apa saja untuk datang mendekati kita.

St. Agustinus berkata: “Allah memberikan diri-Nya sendiri selama bbrp waktu untuk ditangani oleh manusia.” Dan kita memiliki catatan tertulis dari Yohanes, seorang manusia yg benar-benar menyentuh-Nya. Kita dapat mempercayai kesaksiannya – dan kita dapat yakin bahwa Allah ingin berada dekat anda & saya.

Diambil dari buku “Renungan Harian”, Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : “Our Daily Bread” oleh David H. Roper

Sunday, March 9, 2008

Kekuatan Seorang Ibu

"Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya." (Amsal 31:26)

"Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya." (Amsal 31:27)

"Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji." (Amsal 31:30)
=========================================================================

Seekor induk tupai berlari cepat melalui kawat listrik sambil membawa bayi di mulutnya. Ia membawa bayinya ke sarang baru yg telah dibuatnya di sebuah pohon. Ia berlari kembali melalui kawat itu, mengambil lagi seekor bayi tupai yg lain, dari sarang lama ke sarang baru.

Terus... ia berlari pulang-pergi sampai 6 bayinya pindah...

Wah, menjadi ibu memang berat.
Benar, kesakitan waktu melahirkan baru merupakan awal.
Betapa pentingnya seorang ibu (manusia) memperhatikan hidup rohaninya sendiri (tidak stress, tetap kuat), supaya dapat mengasuh anak-anaknya. Ya, seorang ibu harus memelihara jiwanya - utk tumbuh dalam hikmat & pengetahuan tentang Allah.

Susanna Wesley adalah seorg ibu yg sibuk dgn 19 anak. Namun ia selalu menyisihkan waktu setiap hari utk bersekutu dgn Allah. Bahkan, kadang2 masih dengan celemek di pinggang, dia menyempatkan berdoa. Pada saat spt itu tidak seorang pun anaknya berani mengganggu.

Wanita yg digambarkan dalam Amsal 31:26-31 (=Puji-pujian untuk istri yang cakap) sangat menjunjung tinggi hikmat, kebaikan, dan hormat kpd Tuhan. Pd hari ini marilah kita menghargai para wanita dalam hidup kita yg membagikan hikmat mereka, menunjukkan kasih kpd kita, dan yg di atas semuanya berusaha utk memuliakan Tuhan.

----- YA ALLAH, BERKATILAH IBU ... SEMUA KEBERADAAN SAYA INI ADALAH BERKAT JASANYA (Abraham Lincoln) -----

Diambil dari buku "Renungan Harian", Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : "Our Daily Bread" oleh David H. Roper.

Sindrom Gunung St.Helens

"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh keselamatan" (2Petrus 3:15)
=======================================================================

Pada 20 Maret 1980, Gunung St.Helens di Washington, sebuah gunung berapi yang disangka orang tidak aktif lagi, tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan suara gemuruh. Penduduk setempat di-evakuasi ke jarak "aman" sekitar 12,8 km dari gunung itu. Bbrp waktu kemudian, sisi gunung mulai meng- gelembung. Namun, ilmuwan tidak mengkhawatirkan hal itu karena pegunungan itu tidak pernah meletus dari samping.

Kemudian pd 18 Mei, lereng Gn. St. Helens meletus dan memuntahkan berton-ton reruntuhan ke bawah dgn kecepatan 250,5 km/jam. Semenit kemudian, gunung itu meletus ke atas dgn kekuatan setara dgn 500 bom atom! Letusan yg sangat besar, sehingga merusak hutan seluas 59600 hektar dan menewaskan 57 orang. Ilmuwan mengira peristiwa2 alam akan berlangsung seperti sebelumnya. Tapi ternyata keliru!

Kitab 2 Petrus menceritakan kpd kita bahwa suatu saat di masa depan, keyakinan keliru semacam itu juga akan dirusak oleh panasnya api hari kiamat (2Petrus 3:4-7). Namun berita baiknya adalah Allah akan membangun “langit yang baru dan bumi yang baru” (ayat 13). Dia menghendaki agar “JANGAN ADA YANG BINASA”, dan dgn sabar menanti agar lebih banyak orang menemukan KESELAMATAN SEJATI dalam Putra-Nya YESUS (ayat 9). Kita hanya perlu menerima KESELAMATAN yang DITAWARKAN-NYA.

SUDAHKAH ANDA MEMPERCAYAKAN KESELAMATAN ANDA KEPADA YESUS?
Yesus, aku percaya.....
Yesus, aku milikmu....
Kuhidup karena MU, bermazmur bagi MU, selamanya...

Umat Allah harus menunjukkan jalan agar orang lain SELAMAT dari penghakiman Allah.

Diambil dari buku "Renungan Harian" - Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : "Our Daily Bread" oleh H. Dennis Fisher.

Sunday, March 2, 2008

Yesus Kristus adalah Allah

Penulis : Josh McDowell & Bart Larson

JIKA kita bertanya kepada suatu panel yang terdiri atas pakar-pakar dari berbagai agama, seperti apakah Allah dan bagaimana Allah telah menyatakan diri-NYA, kita akan mendengar banyak pendapat yang berbeda-beda sebanyak jumlah anggota panel.
Jawaban dari beberapa di antara mereka akan bertentangan dengan jawaban yang lain-lainnya.
Jika kita berpendapat bahwa apa yang disebut kebenaran tidaklah bersifat relatif, maka tidak mungkin jawaban mereka semua benar.
Misalnya, jika seseorang mengatakan bahwa Allah itu suatu Pribadi dan yang lain mengatakan bahwa Allah bukan suatu Pribadi, maka pastilah seorang dari mereka salah.
Siapakah yang dapat mengatakan dengan pasti, seperti apakah Allah? Satu-satunya yang dapat mengatakan dengan pasti adalah Allah sendiri.

ALLAH MENYATAKAN DIRI
Para penulis masa kini percaya bahwa Allah telah menyatakan diri-NYA dengan berbagai cara. Namun cara itu masing-masing perlu diuji secara obyektif dengan berpatokan pada Alkitab dan pribadi Yesus Kristus.

Pertama-tama, kita akan menyoroti Alkitab. Berbeda dengan banyak tulisan lainnya, Alkitab secara mutlak menyatakan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah firman Allah. Kebanyakan orang yang menaruh perhatian yang besar tentang keilahian Kristus menerima Alkitab sebagai wahyu dari Allah. Jadi untuk tujuan ini, kita akan memandang Alkitab dapat diandalkan kebenarannya, baik secara historis maupun sebagai firman Allah kepada kita -- satu-satunya tolok ukur yang benar untuk menetapkan apakah Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, atau bukan.

Ada yang mengatakan bahwa dari abad ke abad Alkitab telah menjadi semakin tidak meyakinkan keasliannya. Jadi perlu adanya wahyu-wahyu baru. Pendapat tersebut tidak dapat dibenarnya. Ada lebih dari 24.600 naskah Perjanjian Baru yang lengkap atau sebagian-sebagian. Andaikata semua naskah Perjanjian Baru lenyap pun kita masih dapat menghimpun semua tulisan Perjanjian Baru, kecuali kira-kira sebelas ayat, dari tulisan bapa-bapa gereja yang mula-mula, yang semuanya ditulis sebelum tahun 325 Masehi. Para pakar sejarah yang bukan Kristen pun harus mengakui bahwa dengan segala patokan ilmiah dan sejarah yang dipakai untuk memeriksa kebenaran dokumen kuno mana pun. Perjanjian Baru terbukti lebih dari sembilan puluh sembilan persen akurat. Orang dapat saja memperdebatkan isinya, tetapi tidak dapat memperdebatkan keabsahan sejarahnya.

Alkitab menyatakan bahwa apa yang tertulis di dalamnya merupakan patokan mutlak untuk menetapkan hal-hal doktrin.

2 Timotius 3:16-17, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."

pasa graph' theopneustos kai 'phelimos pros didaskalian pros elegkhon pros epanorth 'sin pros paideian t'n en dikaiosun' hina artios ' ho tou theou anthr'pos pros pan ergon agathon ex'rtismenos

Bagi orang-orang Kristen, setiap buku, tulisan, atau pengajaran yang bertentangan dengan isi Alkitab haruslah ditolak. Alkitab sangat menekankan hal ini.

Yudas 3, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."

agap'toi pasan spoud'n poioumenos graphein humin peri t's koin's s't'rias anagk'n eskhon grapsai humin parakal'n epag'nizesthai t' hapax paradotheis' tois hagiois pistei

Alkitab tidak menerima ajaran-ajaran lain yang akan mengubah atau menambah isi Alkitab.

Galatia 1:8, "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."

alla kai ean h'meis h' aggelos ex ouranou euaggeliz'tai humin par ho eu'ggelisametha humin anathema est'

Jika ada sumber-sumber lain yang mengaku sebagai wahyu ilahi, sebagaimana halnya Alkitab, maka sumber-sumber itu harus diuji kebenarannya berdasarkan Alkitab.
Allah tidak dapat bertentangan dengan diri-NYA sendiri.
Oleh karena itu, apapun yang dinyatakan oleh seorang pembicara atau penulis yang mengaku mendapat wahyu ilahi, tidak dapat bertentangan dengan Alkitab yang kita tahu benar adanya.
Jika pernyataan mereka bertentangan dengan Alkitab, maka jelaslah bahwa mereka tidak berbicara atas ilham dari Allah, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam mempertimbangkan keilahian Kristus, pokok persoalannya bukanlah apakah keilahian Kristus mudah dipercaya atau dimengerti, melainkan apakah keilahian Kristus dinyatakan di dalam firman Allah.
Apabila pada mulanya gagasan tentang keilahian Kristus tampaknya tidak masuk akal atau tidak dapat dimengerti, hal itu tidak dengan sendirinya meniadakan kemungkinan bahwa keilahian Kristus itu benar adanya.

Alam semesta ini penuh dengan berbagai perkara -- seperti gravitasi, sifat cahaya, gelombang cahaya -- yang berada di luar jangkauan akal manusia pada saat ini, tetapi sekalipun demikian, benar adanya.
Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak dapat dimengerti oleh akal manusia.

Ayub 11:7, "Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?"

HAKH'QER 'EL'AH TIMTS'' 'IM 'AD-TAKHL'T SYADAY TIMTS''

Ayub 42:2-6, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

YÃâ€Å¡DA'TÃâ€Å¡ KÏ-KHOL TÃâ€ÂºKHÃâ€Å¡L VELO'-YIBÃâ€Å¡TSÃÅ R MIMEKHA MEZIMÃâ€Å¡H MÏ ZEH MA'LÏM 'ÃÅ TSÃâ€Å¡H BELÏ DÃâ€Å¡'AT LÃâ€Å¡KHÃÅ N HIGADTÏ VELO' 'Ãâ€Å¡VÏN NIFLÃâ€Å¡'ÕT MIMENÏ VELO' 'ÃÅ DÃâ€Å¡' SYEMA'-NÃâ€Å¡' VE'Ãâ€Å¡NOKHÏ 'ADABÃÅ R 'ESY'Ãâ€Å¡LEKHA VEHÕDÏ'ÃÅ NÏ LESYÃÅ MA'-'OZEN SYEMA'TÏKHA VE'ATÃâ€Å¡H 'ÃÅ YNÏ RÃâ€Å¡'Ãâ€Å¡TEKHA 'AL-KÃÅ N 'EM'AS VENIKHAMTÏ 'AL-'Ãâ€Å¡FÃâ€Å¡R VÃâ€Å¡'ÃÅ FER

Mazmur 145:3, "Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga."

GÃâ€Å¡DÕL YEHOVÃâ€Å¡H Ãâ€ÂºMEHULÃâ€Å¡L ME'OD VELIGDULÃâ€Å¡TÕ 'ÃÅ YN KHÃÅ QER

Yesaya 40:13, "Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?"

MÏ-TIKÃÅ N 'ET-RÃâ€ÂºAKH YEHOVÃâ€Å¡H VE'ÏSY 'ATSÃâ€Å¡TÕ YÕDÏ'ENÃâ€Âº

Yesaya 55:8-9, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."

KÏ LO' MAKHSYEVÕTAY MAKHSYEVÕTÃÅ YKHEM VELO' DARKHÃÅ YKHEM DERÃâ€Å¡KHÃâ€Å¡Y NE'UM YEHOVÃâ€Å¡H KÏ-GÃâ€Å¡VHÃâ€Âº SYÃâ€Å¡MAYIM MÃÅ 'Ãâ€Å¡RETS KÃÅ N GÃâ€Å¡VHÃâ€Âº DERÃâ€Å¡KHAY MIDARKHÃÅ YKHEM Ãâ€ÂºMAKHSYEVOTAY MIMAKHSYEVOTÃÅ YKHEM

Roma 11:33, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!"

hô bathos ploutou kai sophias kai gnôseôs theou hôs anexereunêta ta krimata autou kai anexikhniastoi hai hodoi autou

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita percaya tentang apa yang dikatakan Allah mengenai diri-NYA sendiri, tidak menjadi persoalan, apakah kita dapat sepenuhnya memahaminya atau tidak.

Mengenai penyataan diri Allah di dalam Pribadi Yesus Kristus, Alkitab berkata:

Ibrani 1:1-3, "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,"

polumerôs kai polutropôs palai ho theos lalêsas tois patrasin en tois prophêtais ep eskhatôn tôn hêmerôn toutôn elalêsen hêmin en huiô hon ethêken klêronomon pantôn di hou kai tous aiônas epoiêsen hos ôn apaugasma tês doxês kai kharaktêr tês hupostaseôs autou pherôn te ta panta tô rhêmati tês dunameôs autou di heautou katharismon poiêsamenos tôn hamartiôn hêmôn ekathisen en dexia tês megalôsunês en hupsêlois

Yesus Kristus adalah Firman Allah yang Hidup. Ia menyatakan Allah. Ketika seorang pengikutnya berkata, "Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami", Yesus menjawab, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai "gambar Allah yang tidak kelihatan". Dengan demikian, sebagaimana akan dibahas di dalam tulisan ini, memandang Yesus Kristus dan mendengarkan Dia sama saja dengan memandang dan mendengarkan Allah.

APA YANG DIPERSOALKAN?
Apabila Yesus Kristus adalah Allah dalam wujud manusia, maka Ia adalah satu-satunya yang patut didengarkan, dihormati, dan bahkan disembah.
Ini berarti bahwa Allah yang menciptakan bulan dan bintang, yang menempatkan milyaran planet di angkasa, Allah itu jugalah yang menjelma menjadi manusia, yang hidup dan melangkahkan kaki-Nya di atas muka bumi ini, dan merelakan diri-NYA mati di tangan ciptaan-NYA sendiri.
Kematian-NYA mempunyai arti yang jauh lebih besar daripada kematian seorang yang baik. Dari segala masa, kematian-NYA merupakan pengorbanan terbesar, suatu penyataan kasih yang tidak terukur dalamnya.
Oleh karena itu, memperlakukan Yesus sekedar sebagai manusia dalam arti makhluk ciptaan merupakan suatu penghujatan. Gagal dalam menyelaraskan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-NYA akan berarti kehilangan kehidupan itu sendiri.

Sebaliknya, apabila Yesus Kristus bukan Allah, melainkan makhluk ciptaan yang lebih rendah derajatnya, kita hanya akan merasa berterima kasih atas kehidupan, kematian, dan pengajaran-NYA, tetapi kita tidak akan menyembah Dia sebagai Allah. Bila kita menganggap Dia makhluk ciptaan Allah, lalu kita menyembah Dia sebagai Allah, itu merupakan suatu kesalahan yang sangat besar. Mengapa? Karena dengan demikian kita menjadikan Dia berhala yang menempati kedudukan Allah. Alkitab dengan tegas menentang penyembahan berhala.
Allah mengatakan bahwa Ia tidak akan memberikan kemuliaan-NYA kepada yang lain, dan bahwa tidak ada Allah lain selain Dia, dan bahwa kita harus menyembah Dia saja. Jadi persoalannya, Yesus betul-betul Allah atau Ia bukan Allah. Percaya kepada Dia sebagai yang lain-lainnya merupakan suatu bentuk penghujatan, suatu penyembahan berhala.

Pembahasan seperti ini dapat menjadi sangat rumit, bergantung pada ajaran apa yang telah diterima seseorang. Berbagai argumentasi dapat dikemukakan untuk mendukung ataupun menentang keilahian Kristus. Misalnya, jika seseorang telah diajari bahwa Allah adalah satu Pribadi dan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan, maka dalam membaca Alkitab untuk pertama kalinya, ia dapat menemukan ayat-ayat yang kelihatannya mendukung pandangan tersebut.

Sebaliknya, apabila seseorang telah diajari bahwa Allah adalah Yang Mahatinggi, sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bahwa Anak melepaskan kesetaraan-NYA dengan Allah untuk menjadi manusia di dalam pribadi Yesus Kristus, maka ia dapat menemukan ayat-ayat yang mendukung pandangan tersebut.

Jadi pertanyaannya bukanlah apakah setiap pandangan itu dapat memberi alasannya, melainkan pandangan mana yang mempunyai bukti yang terkuat. Pandangan mana yang sebenarnya dinyatakan di dalam keseluruhan Alkitab?

Dalam mempertimbangkan kedua pandangan itu kita yakin bahwa kita dapat memberikan sanggahan yang mantap terhadap semua ayat yang dimanfaatkan untuk mengatakan bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah.
Akan kita tunjukkan bahwa Alkitab menyebut Yesus Kristus dengan nama-nama dan sebutan-sebutan Allah. Akan kita tunjukkan dari Alkitab bahwa Yesus Kristus layak disembah dan manusia patut berdoa kepada-NYA.
Kita akan memberi jawaban terhadap semua argumentasi yang menentang kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Akan kita buktikan dari sejarah gereja -- sebelum Dewan Nicene pada tahun 325 Masehi -- bahwa kepercayaan akan keilahian Yesus Kristus sejak semula merupakan pandangan yang ortodoks.

Jelaslah bahwa pandangan-pandangan itu tidak mungkin kedua-duanya benar. Akan jauh lebih mudah kalau masalahnya hanya menyangkut soal ketulisan, tetapi tidaklah demikian halnya. Yang dipersoalkan ialah: Pandangan mana yang benar?

Roma 10:2, "Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar."

marturô gar autois hoti zêlon theou ekhousin all ou kat epignôsin

DEFINISI PERISTILAHAN
Sebelum seseorang dapat memahami ayat-ayat Alkitab yang berkenaan dengan keilahian Yesus Kristus, ia perlu diberi definisi yang memadai tentang hakekat Allah, tentang pribadi serta hakekat Yesus Kristus.

ALLAH
Alkitab menyatakan bahwa Allah itu suatu pribadi; Ia cerdas, penuh kasih, adil, setia, kekal, kreatif, dan berada dalam interaksi yang dinamis dengan ciptaan-NYA. Ciri-ciri Allah dapat dirangkum ke dalam dua kelompok: ciri-ciri umum dan ciri-ciri moral. Allah -- menurut ciri-ciri-NYA yang umum -- bersifat unik, kekal, tidak berubah, mahakuasa, mahatahu, mahahadir, roh, dan suatu pribadi. Ciri-ciri moral Allah mencakup kekudusan, keadilan, kasih, dan kebesaran-NYA. Kekristenan mengajarkan bahwa Allah berdaulat; Ia menopang dan memerintah alam raya, dan sebagaimana yang akan kita tunjukkan. Ia menjelma menjadi manusia -- Yesus Kristus dari Nazaret.

YESUS KRISTUS
Yesus Kristus merupakan sebuah nama dan sebuah sebutan.

Nama Yesus (bahasa Indonesia) dalam bahasa Yunani adalah iêsous; kata itu berasal dari bahasa Ibrani yehõsyûa' atau yehõsyû'a dari YHVH dan yasya' yang artinya "YHVH Juruselamat" atau "TUHAN menyelamatkan".

Sebutan Kristus (bahasa Indonesia) berasal dari kata Yunani khristos, bahasa Ibraninya masyiakh (Daniel 9:26), artinya "Yang Diurapi". Dua jabatan, yaitu raja dan imam, tercakup dalam pemakaian sebutan Kristus. Sebutan itu menyatakan bahwa Yesus adalah Imam dan Raja yang dijanjikan Allah dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama.

Selain itu, kita percaya bahwa waktu hidup di dunia ini Yesus Kristus mempunyai dua hakekat: Ia manusia dan Ia Allah. Dengan demikian, kita mempunyai pandangan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati (pada hakekatnya), namun juga manusia sejati. Ia adalah Allah yang menyatakan diri dalam wujud manusia.

Alkitab menggambarkan Yesus Kristus sebagai Allah maupun manusia.

Filipi 2:5-11, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!"

touto gar phroneisthô en humin ho kai en khristô iêsou hos en morphê theou huparkhôn oukh harpagmon êgêsato to einai isa theô all heauton ekenôsen morphên doulou labôn en homoiômati anthrôpôn genomenos kai skhêmati heuretheis hôs anthrôpos etapeinôsen heauton genomenos hupêkoos mekhri thanatou thanatou de staurou dio kai ho theos auton huperupsôsen kai ekharisato autô onoma to huper pan onoma hina en tô onomati iêsou pan gonu kampsê epouraniôn kai epigeiôn kai katakhthoniôn kai pasa glôssa exomologêsêtai hoti kurios iêsous khristos eis doxan theou patros

Setelah menjajaki definisi tentang Allah dan Yesus Kristus, kita akan mencoba menjawab satu pertanyaan lagi.

MENGAPA ALLAH MAU MENJADI MANUSIA?
Bagaimana manusia yang serba terbatas seperti kita ini dapat memahami Allah yang tidak terbatas? Sangat sulit bagi kita untuk memahami hal-hal abstrak seperti kebenaran, kebaikan, atau keindahan kalau kita tidak memiliki contoh-contoh yang tampak oleh mata kita. Kita dapat mengenal keindahan karena kita dapat melihat keindahan itu pada suatu benda yang indah; kita dapat mengenal kebaikan karena kebaikan itu terlihat di dalam diri orang yang baik, dan sebagainya. Tetapi bagaimana dengan Allah? Bagaimana orang dapat mengerti seperti apa Allah itu?

Sampai tahap tertentu kita dapat mengenal Allah kalau Allah mewujudkan diri-NYA dalam suatu bentuk yang dapat dipahami oleh manusia, yaitu dengan menjadikan diri-NYA seorang manusia. Walaupun demikian, memang dalam wujud manusia Ia tidak akan dapat menyatakan sifat-NYA yang kekal dan yang mahahadir -- tidak akan ada waktu dan ruang untuk itu, tetapi IA dapat secara kelihatan menyatakan sifat-sifat-NYA.

Itu adalah berita yang disampaikan di dalam Perjanjian Baru. Rasul Paulus berkata bahwa di dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an. Kristus menjadi manusia supaya manusia dalam batas-batas tertentu dapat memperoleh pengertian tentang Allah yang tidak terbatas.

Alasan kedua mengapa Allah mau menjadi manusia ialah untuk menjembatani jurang pemisah antara Allah dan manusia. Seandainya Yesus Kristus "hanyalah" seorang manusia atau makhluk ciptaan, maka jurang pemisah antara Allah dan manusia -- antara yang tidak terbatas dan yang terbatas, antara Pencipta dan yang diciptakan, antara Yang Kudus dan yang tidak kudus -- akan tetap ada.

Supaya kita dapat mengenal Allah, maka Allah harus turun kepada kita. Tidak ada "makhluk ciptaan" yang dapat menjembatani jurang antara Allah dan manusia, seperti halnya segumpal tanah liat tidak dapat mengerti atau mencapai taraf sang penjunan. Karena kasih, Allah telah turun ke dunia ini, kepada kita. Ia membuka jalan supaya semua orang dapat mengenal Dia.

Sumber: Jesus: A Biblical Defense for His Deity