Showing posts with label jiwa. Show all posts
Showing posts with label jiwa. Show all posts

Friday, March 28, 2008

Pentingnya memberikan makanan rohani untuk anak, selain nutrisi untuk tubuh


CIBFest 2008 Banner B





Dalam Alkitab versi bhs aslinya Yunani (Greek) dibedakan penyebutan orang / jiwa sebagai Bios, Psuche, dan Zoe.

(Ini kata pendeta saya yg Tiberias. Catatan: kami pergi ke 2 gereja secara rutin, Katolik & Tiberias, di mana Kuasa Tubuh & Darah Kristus ditegakkan kembali, juga kuasa Minyak Urapan/Annointing Oil (mirip atau sama dgn Minyak Krisma di Katolik) ditegakkan kembali.)

Hidup manusia itu terdiri dari 3 unsur: Bios (tubuh), Psuche (jiwa), Zoe (roh/hati).
Jangan sampai seorang manusia bios-nya hidup (bisa makan-minum), tapi zoe-nya tidak ada atau tidak tumbuh. Semacam zombie...lah gitu.

And Jesus is & should be our Zoe, alias roh kita seharusnya dihimpit, dikuasai sepenuhnya oleh Roh Allah (Roh Kudus). Sepenuhnya. Bukan hanya 40-50%, tapi sepenuhnya !

Itulah perlunya memperhatikan perkembangan (memberi "makanan" kepada) Jiwa & Roh anak-anak kita, selain memelihara Tubuh / Badan mereka.

Artinya, 1. banyak berdoa, mendoakan mereka, ajak mereka berdoa, walau kelihatan belum mengerti;

2. perkenalkan Firman Tuhan (misalnya: bacakan atau nyanyikan, walaupun nampaknya mereka belum mengerti bahasa, tapi itu tidak akan sia-sia, karena akan masuk ke bawah sadar / roh / hati mereka);

3. dan mengasihi mereka (melihat apa sebetulnya kebutuhan mereka, melakukan terapi dasarnya karena KASIH kpd anak, krn kebutuhan anak, bukan krn ikut2an, dll alasan gak penting.).

Kita 'kan juga sudah sadar bahwa selain makanan berupa nasi, sayur, lauk, dll, ternyata diperlukan juga "makanan" sensory, yaitu 'makanan' buat otot & otak yaitu gerakan2 yg mengaktifkan otak
(yg dipelajari dlm SensoryIntegration, OccupationalTherapy, FloorTime, Brain Gym, Glenn Doman, dll - ingat istilah Vestibular, Taktil, Proprioceptive, Otak Primitif dll?).

Sepuluh tahun yang lalu, saya & suami pernah lho di"marahi", ditegur-lah tepatnya, oleh seorang psikolog Ibu Farah Suryawan, Psi. pada saat anak sy akhirnya didiagnosa autisme/PDD, "Ibu rupanya mengira kebutuhan anak cuma makan, minum, tidur, dan digantikan popok, gitu ya?"

Kenapa sang psikolog berkomentar begitu?
Karena dari tanya jawab / observasi terhadap kami sekeluarga, ya gitulah hasilnya... Ternyata kami kurang memperhatikan perkembangan jiwa-nya. Sesuai namanya psikolog 'kan mengurusi psuche / jiwa :D

Sejak itu saya diberi PR antara lain (banyak sih PR-nya): untuk memandikan anak (padahal wkt itu usianya sudah 4 tahun) dengan waslap kasar, lalu sesudah selesai dihanduki baik-baik sambil ditanyai : "ini apa? oh, ini tangan, ini apa? ini kepala, ini leher, ini perut", dst.

Sesudahnya anak dipeluk erat, sambil digoyangkan seperti jam tik-tok-tik-tok (untuk mendapatkan irama kenyamanan dalam pelukan ibu??)

Juga saya disuruh menemani anak bermain. Ini penting.
Mainannya banyak. Kita sering beli. Tapi sungguh ironis, kita ortu jarang sekali atau malah gak senang menemani mereka bermain.
Masak, sampai seorang doktor (DR. Stanley Greenspan) menciptakan teori/ilmu bermain yaitu Floor Time.

Nah itu tadi PR utk jiwa anak. PR utk rohani mereka, sudah dibahas di atas. Ayo, ibu, bapak, berbalik kepada anak kita!

"Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah." (Maleakhi 4:6)

Salam, mama Yohanes. _____________________________________________________________________________________

Taken from blog Berean Mentality.

In the Greek, there are three words used to define life.
Zoe, Psuche, and Bios.
Zoe is the essential principle, the defining force of life. It is the essence; like observing the sky from the drizzle, or the universe from the earth. It is transcendent. Psuche is the being which is influence by Zoe. Bios is what Psuche needs to sustain itself in order to fulfill Zoe. (e.g. food, water, sexual activity, etc).

Let us say there is a distortion of the 3: Bios ->Psuche->Zoe.

If Bios defines our existence, then man receives meaning from within himself; that is from the material. He has no adequate reference point to determine his existence so he seeks to find one in Bios. His desires are left to dominate and dictate his existence, hence causing Bios to become his Zoe. His Psuche is then affected and formed into the likeness of Bios. The Bible teaches the essential principle of the nature of the soul - "by beholding we become changed." When temporary things become mediated as absolutes for life (e.g. clothing, vehicles, jewelry, self-affirmation, food, living conditions, etc) the Psuche configures itself adamantly to the pursuit of life since it is defined by nothing else: Bios - because it starts to define mans purpose, due to heightened emphasis and a perpetuated demand for Bios. Thus causing greed, arrogance, carelessness, apathy, wickedness, pride, and restlessness, begins to ensue in pursuit of the temporary.

For the Christian this sequence should be turned the other way around: Zoe -> Psuche -> Bios.

Zoe defines Psuche and Bios.
JESUS IS OUR ZOE (John 6:27; 14:6; Mat 4:4, ).
So, that means that our Psuche is firstly formed and influenced by Him - Zoe. We take His disposition and nature of defining life and do not allow Bios to rule us. Rather, Bios is now brought into submission of Zoe, bringing complete harmony, peace, and balance to the Psuche. We have not attained it fully but all aspects of our lives are no longer lacking a point of reference outside of our Bios. Therefore, we strive for it and practice it daily, cultivating peace, temperance, love, patience, sympathy, and most importantly selflessness.
__________________________________________________________________________________________

Artikel berikut tepat menggambarkan apa yang kami rasakan setahun belakangan ini (dengan memiliki anak autis / spesial).

- Bahwa sebetulnya orang tua juga jadi bertobat dgn punya anak autis...

- Bahwa kita memang perlu memperhatikan perkembangan / memberi "makanan" kepada Jiwa dan Roh anak kita selain memberi nutrisi bagi Tubuh/Badan-nya.

- Dan seharusnya roh kita dihimpit, dikuasai sepenuhnya oleh Roh Allah (Roh Kudus). Sepenuhnya.

Baca baik2 artikel berikut. Kebetulan sekali Dr. Kurniati Ihromi Sp.KO (putri dari Bu Prof. T.O. Ihromi-Simatupang) adalah kakak dari Ade Ihromi, dulu temen sekelas adik saya.

Tuhan berkati,

(mamanya Yohanes)
__________________________________________________________________________________________

http://www.lk3web.info/files/PendampinganAnakAutisma.doc

SARAN UNTUK PENDAMPINGAN ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS

(oleh Dr. Kurniati Tanjung Ihromi Sp.KO , Hanny Gunawan Prasetya MSc., Dra. Elina br. Panggabean, Ir. Dra. Viviana Wibawa)

disampaikan dalam acara
National Counceling and Healing Conference 2006.

Disclaimer :
Semua yang ditulis adalah berdasarkan KESAKSIAN kehidupan kami, bukan pembuktian ilmiah.
Ajaklah Roh Kudus membimbing anda untuk dapat memetik hal yang berguna bagi kasus yang anda hadapi.
Undanglah Yesus menjadi Juruselamat pribadi anda, lakukan semua FirmanNya.
Hubungan pribadi anda dengan Allah Bapa yang sangat utama, sebab Ia yang akan menunjukkan jalan-jalanNya kepada orang yang mengenalNya dan yang hatinya dekat padaNya seperti Musa.(Mz 103:7)

Renungan Pendahuluan

Mengasuh dan membimbing anak dengan kondisi autisma tentunya ‘challenging’ dan menguras tenaga. Setiap anak mempunyai jalan yang unik dan sempit yang telah Tuhan sediakan menuju rencana Tuhan sesuai masa dan waktu yang telah ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya (Kis. 1:7).

Sebagai orang tua kita bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anak ini menjadi generasi yang secara moral bertanggung jawab dan proses pemikirannya selalu responsif pada kaidah alkitabiah, apapun juga kondisi dan tantangan yang dihadapi.

Kita harus mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).

Mengasihi anak-anak ini bukan berarti mengasihani dan membiarkan mereka terpuruk dalam kondisinya dengan alasan ini sudah menjadi kehendak Tuhan atau bahkan menganggap bahwa ini kayu salib yang harus saya pikul.

Keutuhan keluarga dan tatanan (hirarki) dalam keluarga yang sesuai dengan Firman (Godly order – The head of the woman is the man, the head of the man is Christ, the head of Christ is the GOD the Father, 1 Korintus 11:11, Efesus 5:22-23) adalah kunci utama dalam membuka pintu menuju pemulihan terutama untuk kasus untuk akar spiritual kondisi autisma.

Tuhan Penasihat kita yang Ajaib (Yesaya 9:5) akan menunjukkan jalan yang harus ditempuh jika kita terus berserah kepadaNya.

Disiplin dan pendidikan yang berdasarkan prinsip alkitabiah harus diterapkan (Ibrani 12:11).

Kualitas makanan Roh, Jiwa dan Tubuh anak-anak ini amat penting diperhatikan.

Contoh yang diberikan dalam kehidupan orang tua sehari-hari (Yoh 5:19) terutama kasih ayah (Father’s love dan ministry of Father’s love – Matius 3:17)) adalah penting bagi perkembangan jati diri sang anak termasuk juga anak-anak lain yang normal.

Pelayanan rohani berdasarkan kasih Allah yang sempurna dan tanpa syarat, bukan karena prestasi anak wajib adanya.

Intervensi harus “wholistic” (bertujuan wholeness of spirit, soul and body in Jesus Christ, bukan holistic seperti yang dunia kenal) berupa intervensi spiritual sekaligus juga membangun tubuh dan jiwa sejalan dengan ciptaan Tuhan (back to Creation ketika Allah menciptakan manusia menurut gambarNya (Kej.1:27) dan Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (ay.31)).

“No discipline seems pleasant at the time, but painful. Later on, however, it produces a harvest of righteousness and peace for those who have been trained by it.” (Ibrani12:11)
God is too wise to be mistaken and too good to be unkind

Artikel selengkapnya (agak panjang) silahkan baca di blog saya yang lain, yaitu About Gerard & Autism klik di sini.

Monday, March 10, 2008

Cacing dan Buah

Pernahkah anda bertanya mengapa ada makhluk seperti nyamuk atau ular, atau cacing? Mengapa diciptakan binatang merayap, menjijikkan itu?

Sebetulnya cacing punya fungsi penting dan diperlukan.
Amy Stuart dalam bukunya "The earth moved: On the remarkable achievements of earthworms" (Bumi bergerak: Prestasi cacing yg luar biasa) memaparkan bahwa dalam sekitar 1/2 hektar tanah terdapat cacing yang tak terhitung banyaknya, sedang meng-gembur-kan tanah.

Kegiatannya dilakukan dgn diam-diam, tak terlihat, namun mutlak diperlukan, sehingga bila tidak ada cacing, hampir pasti tak ada tumbuh-tumbuhan.

Jadi, apa yg dapat kita pelajari dari cacing? Tidak saja di alam, namun dalam hidup kita juga ada kekuatan2 tak terlihat yg sedang bekerja.

Ada karya doa yg diam2 & tak terlihat dari mereka yg peduli pada kesejahteraan kita (misalnya dari biarawan/ti, atau dari orang tua kita).

Ada pekerjaan dari disiplin jiwa kita sendiri (sewaktu berdoa & merenungkan Firman Tuhan). Dan ada pekerjaan penting Roh Kudus, yang menggemburkan gumpalan tanah jiwa kita, hingga menghasilkan buah-buah Kristus, yaitu "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran ..." (Galatia 5:22,23).

Dalam hidup & di dunia ini, Allah pun memerintahkan banyak pengaruh tak terlihat namun menghasilkan buah. Entah itu melalui cacing yg hina, atau melalui manusia...

Diambil dari buku “Renungan Harian”, Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : “Our Daily Bread” oleh Vernon C. Grounds.

Sunday, March 9, 2008

Warisan terbaik kita adalah anak-anak

"Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku HIDUP DALAM KEBENARAN" (3 Yohanes 1:4)
============================================================================

Erma Bombeck, seorang pengarang / penulis, menulis 12 buku, menerima penghargaan doktor honoris causa, karirnya selama 30 thn-an (medio 1960-an sampai medio 1990-an).

Namun, 3 thn sebelum meninggal dunia krn kanker (1996), ia berkata kpd pewawancara dari TV ABC bahwa BERAPA PUN JUMLAH ARTIKEL YANG DITULISNYA, WARISAN TERBAIK ADALAH ANAK-ANAKNYA.

"JIKA SAYA TIDAK DAPAT MEMBESARKAN MEREKA DENGAN BAIK, MAKA SETIAP HAL YG SAYA LAKUKAN TIDAKLAH JADI PENTING."

Erma Bombeck kaya dan masyhur, digemari oleh jutaan pembaca. Namun ia sadar bahwa PRIORITAS UTAMAnya adalah merawat anak-anaknya.

Meskipun tidak ada orangtua yg dapat menjamin bahwa anaknya akan jadi penduduk teladan yg beriman, tetapi sebagai orangtua kita harus berusaha memiliki sikap spt Erma. MOTIVASI kita ialah memenuhi kebutuhan jiwa, raga, dan emosi anak-anak kita. MEREKALAH WARISAN KITA.

Ini berarti kita harus MEMPERKENALKAN mereka kepada SANG JURU SELAMAT, menyediakan BIMBINGAN ROHANI (Mazmur 34:12-15), BERDOA BAGI MEREKA, dan mendorong mereka utk menemukan pembimbing bijak yg dapat menolong mereka menjalani hidup kristiani yg baik.

Ya, ini perjuangan berat. Bahkan menyita banyak waktu & pengorbanan. Namun, nilai seorang anak jauh melebihi semuanya.

------- ANAK-ANAK KECIL SANGAT BERHARGA BAGI ALLAH -------

Diambil dari buku "Renungan Harian" - Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : "Our Daily Bread" oleh J. David Branon.

Sunday, March 2, 2008

Yesus Kristus adalah Allah

Penulis : Josh McDowell & Bart Larson

JIKA kita bertanya kepada suatu panel yang terdiri atas pakar-pakar dari berbagai agama, seperti apakah Allah dan bagaimana Allah telah menyatakan diri-NYA, kita akan mendengar banyak pendapat yang berbeda-beda sebanyak jumlah anggota panel.
Jawaban dari beberapa di antara mereka akan bertentangan dengan jawaban yang lain-lainnya.
Jika kita berpendapat bahwa apa yang disebut kebenaran tidaklah bersifat relatif, maka tidak mungkin jawaban mereka semua benar.
Misalnya, jika seseorang mengatakan bahwa Allah itu suatu Pribadi dan yang lain mengatakan bahwa Allah bukan suatu Pribadi, maka pastilah seorang dari mereka salah.
Siapakah yang dapat mengatakan dengan pasti, seperti apakah Allah? Satu-satunya yang dapat mengatakan dengan pasti adalah Allah sendiri.

ALLAH MENYATAKAN DIRI
Para penulis masa kini percaya bahwa Allah telah menyatakan diri-NYA dengan berbagai cara. Namun cara itu masing-masing perlu diuji secara obyektif dengan berpatokan pada Alkitab dan pribadi Yesus Kristus.

Pertama-tama, kita akan menyoroti Alkitab. Berbeda dengan banyak tulisan lainnya, Alkitab secara mutlak menyatakan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah firman Allah. Kebanyakan orang yang menaruh perhatian yang besar tentang keilahian Kristus menerima Alkitab sebagai wahyu dari Allah. Jadi untuk tujuan ini, kita akan memandang Alkitab dapat diandalkan kebenarannya, baik secara historis maupun sebagai firman Allah kepada kita -- satu-satunya tolok ukur yang benar untuk menetapkan apakah Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, atau bukan.

Ada yang mengatakan bahwa dari abad ke abad Alkitab telah menjadi semakin tidak meyakinkan keasliannya. Jadi perlu adanya wahyu-wahyu baru. Pendapat tersebut tidak dapat dibenarnya. Ada lebih dari 24.600 naskah Perjanjian Baru yang lengkap atau sebagian-sebagian. Andaikata semua naskah Perjanjian Baru lenyap pun kita masih dapat menghimpun semua tulisan Perjanjian Baru, kecuali kira-kira sebelas ayat, dari tulisan bapa-bapa gereja yang mula-mula, yang semuanya ditulis sebelum tahun 325 Masehi. Para pakar sejarah yang bukan Kristen pun harus mengakui bahwa dengan segala patokan ilmiah dan sejarah yang dipakai untuk memeriksa kebenaran dokumen kuno mana pun. Perjanjian Baru terbukti lebih dari sembilan puluh sembilan persen akurat. Orang dapat saja memperdebatkan isinya, tetapi tidak dapat memperdebatkan keabsahan sejarahnya.

Alkitab menyatakan bahwa apa yang tertulis di dalamnya merupakan patokan mutlak untuk menetapkan hal-hal doktrin.

2 Timotius 3:16-17, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."

pasa graph' theopneustos kai 'phelimos pros didaskalian pros elegkhon pros epanorth 'sin pros paideian t'n en dikaiosun' hina artios ' ho tou theou anthr'pos pros pan ergon agathon ex'rtismenos

Bagi orang-orang Kristen, setiap buku, tulisan, atau pengajaran yang bertentangan dengan isi Alkitab haruslah ditolak. Alkitab sangat menekankan hal ini.

Yudas 3, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."

agap'toi pasan spoud'n poioumenos graphein humin peri t's koin's s't'rias anagk'n eskhon grapsai humin parakal'n epag'nizesthai t' hapax paradotheis' tois hagiois pistei

Alkitab tidak menerima ajaran-ajaran lain yang akan mengubah atau menambah isi Alkitab.

Galatia 1:8, "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."

alla kai ean h'meis h' aggelos ex ouranou euaggeliz'tai humin par ho eu'ggelisametha humin anathema est'

Jika ada sumber-sumber lain yang mengaku sebagai wahyu ilahi, sebagaimana halnya Alkitab, maka sumber-sumber itu harus diuji kebenarannya berdasarkan Alkitab.
Allah tidak dapat bertentangan dengan diri-NYA sendiri.
Oleh karena itu, apapun yang dinyatakan oleh seorang pembicara atau penulis yang mengaku mendapat wahyu ilahi, tidak dapat bertentangan dengan Alkitab yang kita tahu benar adanya.
Jika pernyataan mereka bertentangan dengan Alkitab, maka jelaslah bahwa mereka tidak berbicara atas ilham dari Allah, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam mempertimbangkan keilahian Kristus, pokok persoalannya bukanlah apakah keilahian Kristus mudah dipercaya atau dimengerti, melainkan apakah keilahian Kristus dinyatakan di dalam firman Allah.
Apabila pada mulanya gagasan tentang keilahian Kristus tampaknya tidak masuk akal atau tidak dapat dimengerti, hal itu tidak dengan sendirinya meniadakan kemungkinan bahwa keilahian Kristus itu benar adanya.

Alam semesta ini penuh dengan berbagai perkara -- seperti gravitasi, sifat cahaya, gelombang cahaya -- yang berada di luar jangkauan akal manusia pada saat ini, tetapi sekalipun demikian, benar adanya.
Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak dapat dimengerti oleh akal manusia.

Ayub 11:7, "Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?"

HAKH'QER 'EL'AH TIMTS'' 'IM 'AD-TAKHL'T SYADAY TIMTS''

Ayub 42:2-6, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

YÂDA'TÂ KÏ-KHOL TÛKHÂL VELO'-YIBÂTSÊR MIMEKHA MEZIMÂH MÏ ZEH MA'LÏM 'ÊTSÂH BELÏ DÂ'AT LÂKHÊN HIGADTÏ VELO' 'ÂVÏN NIFLÂ'ÕT MIMENÏ VELO' 'ÊDÂ' SYEMA'-NÂ' VE'ÂNOKHÏ 'ADABÊR 'ESY'ÂLEKHA VEHÕDÏ'ÊNÏ LESYÊMA'-'OZEN SYEMA'TÏKHA VE'ATÂH 'ÊYNÏ RÂ'ÂTEKHA 'AL-KÊN 'EM'AS VENIKHAMTÏ 'AL-'ÂFÂR VÂ'ÊFER

Mazmur 145:3, "Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga."

GÂDÕL YEHOVÂH ÛMEHULÂL ME'OD VELIGDULÂTÕ 'ÊYN KHÊQER

Yesaya 40:13, "Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?"

MÏ-TIKÊN 'ET-RÛAKH YEHOVÂH VE'ÏSY 'ATSÂTÕ YÕDÏ'ENÛ

Yesaya 55:8-9, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."

KÏ LO' MAKHSYEVÕTAY MAKHSYEVÕTÊYKHEM VELO' DARKHÊYKHEM DERÂKHÂY NE'UM YEHOVÂH KÏ-GÂVHÛ SYÂMAYIM MÊ'ÂRETS KÊN GÂVHÛ DERÂKHAY MIDARKHÊYKHEM ÛMAKHSYEVOTAY MIMAKHSYEVOTÊYKHEM

Roma 11:33, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!"

hô bathos ploutou kai sophias kai gnôseôs theou hôs anexereunêta ta krimata autou kai anexikhniastoi hai hodoi autou

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita percaya tentang apa yang dikatakan Allah mengenai diri-NYA sendiri, tidak menjadi persoalan, apakah kita dapat sepenuhnya memahaminya atau tidak.

Mengenai penyataan diri Allah di dalam Pribadi Yesus Kristus, Alkitab berkata:

Ibrani 1:1-3, "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,"

polumerôs kai polutropôs palai ho theos lalêsas tois patrasin en tois prophêtais ep eskhatôn tôn hêmerôn toutôn elalêsen hêmin en huiô hon ethêken klêronomon pantôn di hou kai tous aiônas epoiêsen hos ôn apaugasma tês doxês kai kharaktêr tês hupostaseôs autou pherôn te ta panta tô rhêmati tês dunameôs autou di heautou katharismon poiêsamenos tôn hamartiôn hêmôn ekathisen en dexia tês megalôsunês en hupsêlois

Yesus Kristus adalah Firman Allah yang Hidup. Ia menyatakan Allah. Ketika seorang pengikutnya berkata, "Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami", Yesus menjawab, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai "gambar Allah yang tidak kelihatan". Dengan demikian, sebagaimana akan dibahas di dalam tulisan ini, memandang Yesus Kristus dan mendengarkan Dia sama saja dengan memandang dan mendengarkan Allah.

APA YANG DIPERSOALKAN?
Apabila Yesus Kristus adalah Allah dalam wujud manusia, maka Ia adalah satu-satunya yang patut didengarkan, dihormati, dan bahkan disembah.
Ini berarti bahwa Allah yang menciptakan bulan dan bintang, yang menempatkan milyaran planet di angkasa, Allah itu jugalah yang menjelma menjadi manusia, yang hidup dan melangkahkan kaki-Nya di atas muka bumi ini, dan merelakan diri-NYA mati di tangan ciptaan-NYA sendiri.
Kematian-NYA mempunyai arti yang jauh lebih besar daripada kematian seorang yang baik. Dari segala masa, kematian-NYA merupakan pengorbanan terbesar, suatu penyataan kasih yang tidak terukur dalamnya.
Oleh karena itu, memperlakukan Yesus sekedar sebagai manusia dalam arti makhluk ciptaan merupakan suatu penghujatan. Gagal dalam menyelaraskan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-NYA akan berarti kehilangan kehidupan itu sendiri.

Sebaliknya, apabila Yesus Kristus bukan Allah, melainkan makhluk ciptaan yang lebih rendah derajatnya, kita hanya akan merasa berterima kasih atas kehidupan, kematian, dan pengajaran-NYA, tetapi kita tidak akan menyembah Dia sebagai Allah. Bila kita menganggap Dia makhluk ciptaan Allah, lalu kita menyembah Dia sebagai Allah, itu merupakan suatu kesalahan yang sangat besar. Mengapa? Karena dengan demikian kita menjadikan Dia berhala yang menempati kedudukan Allah. Alkitab dengan tegas menentang penyembahan berhala.
Allah mengatakan bahwa Ia tidak akan memberikan kemuliaan-NYA kepada yang lain, dan bahwa tidak ada Allah lain selain Dia, dan bahwa kita harus menyembah Dia saja. Jadi persoalannya, Yesus betul-betul Allah atau Ia bukan Allah. Percaya kepada Dia sebagai yang lain-lainnya merupakan suatu bentuk penghujatan, suatu penyembahan berhala.

Pembahasan seperti ini dapat menjadi sangat rumit, bergantung pada ajaran apa yang telah diterima seseorang. Berbagai argumentasi dapat dikemukakan untuk mendukung ataupun menentang keilahian Kristus. Misalnya, jika seseorang telah diajari bahwa Allah adalah satu Pribadi dan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan, maka dalam membaca Alkitab untuk pertama kalinya, ia dapat menemukan ayat-ayat yang kelihatannya mendukung pandangan tersebut.

Sebaliknya, apabila seseorang telah diajari bahwa Allah adalah Yang Mahatinggi, sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bahwa Anak melepaskan kesetaraan-NYA dengan Allah untuk menjadi manusia di dalam pribadi Yesus Kristus, maka ia dapat menemukan ayat-ayat yang mendukung pandangan tersebut.

Jadi pertanyaannya bukanlah apakah setiap pandangan itu dapat memberi alasannya, melainkan pandangan mana yang mempunyai bukti yang terkuat. Pandangan mana yang sebenarnya dinyatakan di dalam keseluruhan Alkitab?

Dalam mempertimbangkan kedua pandangan itu kita yakin bahwa kita dapat memberikan sanggahan yang mantap terhadap semua ayat yang dimanfaatkan untuk mengatakan bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah.
Akan kita tunjukkan bahwa Alkitab menyebut Yesus Kristus dengan nama-nama dan sebutan-sebutan Allah. Akan kita tunjukkan dari Alkitab bahwa Yesus Kristus layak disembah dan manusia patut berdoa kepada-NYA.
Kita akan memberi jawaban terhadap semua argumentasi yang menentang kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Akan kita buktikan dari sejarah gereja -- sebelum Dewan Nicene pada tahun 325 Masehi -- bahwa kepercayaan akan keilahian Yesus Kristus sejak semula merupakan pandangan yang ortodoks.

Jelaslah bahwa pandangan-pandangan itu tidak mungkin kedua-duanya benar. Akan jauh lebih mudah kalau masalahnya hanya menyangkut soal ketulisan, tetapi tidaklah demikian halnya. Yang dipersoalkan ialah: Pandangan mana yang benar?

Roma 10:2, "Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar."

marturô gar autois hoti zêlon theou ekhousin all ou kat epignôsin

DEFINISI PERISTILAHAN
Sebelum seseorang dapat memahami ayat-ayat Alkitab yang berkenaan dengan keilahian Yesus Kristus, ia perlu diberi definisi yang memadai tentang hakekat Allah, tentang pribadi serta hakekat Yesus Kristus.

ALLAH
Alkitab menyatakan bahwa Allah itu suatu pribadi; Ia cerdas, penuh kasih, adil, setia, kekal, kreatif, dan berada dalam interaksi yang dinamis dengan ciptaan-NYA. Ciri-ciri Allah dapat dirangkum ke dalam dua kelompok: ciri-ciri umum dan ciri-ciri moral. Allah -- menurut ciri-ciri-NYA yang umum -- bersifat unik, kekal, tidak berubah, mahakuasa, mahatahu, mahahadir, roh, dan suatu pribadi. Ciri-ciri moral Allah mencakup kekudusan, keadilan, kasih, dan kebesaran-NYA. Kekristenan mengajarkan bahwa Allah berdaulat; Ia menopang dan memerintah alam raya, dan sebagaimana yang akan kita tunjukkan. Ia menjelma menjadi manusia -- Yesus Kristus dari Nazaret.

YESUS KRISTUS
Yesus Kristus merupakan sebuah nama dan sebuah sebutan.

Nama Yesus (bahasa Indonesia) dalam bahasa Yunani adalah iêsous; kata itu berasal dari bahasa Ibrani yehõsyûa' atau yehõsyû'a dari YHVH dan yasya' yang artinya "YHVH Juruselamat" atau "TUHAN menyelamatkan".

Sebutan Kristus (bahasa Indonesia) berasal dari kata Yunani khristos, bahasa Ibraninya masyiakh (Daniel 9:26), artinya "Yang Diurapi". Dua jabatan, yaitu raja dan imam, tercakup dalam pemakaian sebutan Kristus. Sebutan itu menyatakan bahwa Yesus adalah Imam dan Raja yang dijanjikan Allah dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama.

Selain itu, kita percaya bahwa waktu hidup di dunia ini Yesus Kristus mempunyai dua hakekat: Ia manusia dan Ia Allah. Dengan demikian, kita mempunyai pandangan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati (pada hakekatnya), namun juga manusia sejati. Ia adalah Allah yang menyatakan diri dalam wujud manusia.

Alkitab menggambarkan Yesus Kristus sebagai Allah maupun manusia.

Filipi 2:5-11, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!"

touto gar phroneisthô en humin ho kai en khristô iêsou hos en morphê theou huparkhôn oukh harpagmon êgêsato to einai isa theô all heauton ekenôsen morphên doulou labôn en homoiômati anthrôpôn genomenos kai skhêmati heuretheis hôs anthrôpos etapeinôsen heauton genomenos hupêkoos mekhri thanatou thanatou de staurou dio kai ho theos auton huperupsôsen kai ekharisato autô onoma to huper pan onoma hina en tô onomati iêsou pan gonu kampsê epouraniôn kai epigeiôn kai katakhthoniôn kai pasa glôssa exomologêsêtai hoti kurios iêsous khristos eis doxan theou patros

Setelah menjajaki definisi tentang Allah dan Yesus Kristus, kita akan mencoba menjawab satu pertanyaan lagi.

MENGAPA ALLAH MAU MENJADI MANUSIA?
Bagaimana manusia yang serba terbatas seperti kita ini dapat memahami Allah yang tidak terbatas? Sangat sulit bagi kita untuk memahami hal-hal abstrak seperti kebenaran, kebaikan, atau keindahan kalau kita tidak memiliki contoh-contoh yang tampak oleh mata kita. Kita dapat mengenal keindahan karena kita dapat melihat keindahan itu pada suatu benda yang indah; kita dapat mengenal kebaikan karena kebaikan itu terlihat di dalam diri orang yang baik, dan sebagainya. Tetapi bagaimana dengan Allah? Bagaimana orang dapat mengerti seperti apa Allah itu?

Sampai tahap tertentu kita dapat mengenal Allah kalau Allah mewujudkan diri-NYA dalam suatu bentuk yang dapat dipahami oleh manusia, yaitu dengan menjadikan diri-NYA seorang manusia. Walaupun demikian, memang dalam wujud manusia Ia tidak akan dapat menyatakan sifat-NYA yang kekal dan yang mahahadir -- tidak akan ada waktu dan ruang untuk itu, tetapi IA dapat secara kelihatan menyatakan sifat-sifat-NYA.

Itu adalah berita yang disampaikan di dalam Perjanjian Baru. Rasul Paulus berkata bahwa di dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an. Kristus menjadi manusia supaya manusia dalam batas-batas tertentu dapat memperoleh pengertian tentang Allah yang tidak terbatas.

Alasan kedua mengapa Allah mau menjadi manusia ialah untuk menjembatani jurang pemisah antara Allah dan manusia. Seandainya Yesus Kristus "hanyalah" seorang manusia atau makhluk ciptaan, maka jurang pemisah antara Allah dan manusia -- antara yang tidak terbatas dan yang terbatas, antara Pencipta dan yang diciptakan, antara Yang Kudus dan yang tidak kudus -- akan tetap ada.

Supaya kita dapat mengenal Allah, maka Allah harus turun kepada kita. Tidak ada "makhluk ciptaan" yang dapat menjembatani jurang antara Allah dan manusia, seperti halnya segumpal tanah liat tidak dapat mengerti atau mencapai taraf sang penjunan. Karena kasih, Allah telah turun ke dunia ini, kepada kita. Ia membuka jalan supaya semua orang dapat mengenal Dia.

Sumber: Jesus: A Biblical Defense for His Deity