Showing posts with label harta. Show all posts
Showing posts with label harta. Show all posts

Sunday, July 26, 2009

Hati-hati dgn berhala jaman sekarang

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:18-23)

Renungan (dari Ziarah Batin 2009) :

Berhala zaman sekarang adalah segala sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian manusia dari Allah. Dunia menyediakan banyak berhala bagi manusia. Inilah yang harus diwaspadai. Uang, pekerjaan, kedudukan, harta, hiburan, televisi, hobi, dan segala sesuatu yang menarik perhatian manusia sehingga Allah diabaikan bahkan tersingkirkan, itulah berhala. Mari kita refleksikan, apa yang menjadi berhala dalam hidup kita, yang telah menggeser perhatian kita dari Allah?

Ya Allah, aku tidak sadar bahwa ada banyak berhala di sekitarku yang menggeser cinta dan perhatianku kepada-Mu. Sesuai dengan perintah-Mu, jangan biarkan hatiku beralih kepada mereka dan mengabaikan-Mu. Sebab hanya Engkau yang patut dipuji dan disembah. Amin.


==============================================================
Bandingkan dengan artikel berikut ini dari Sabda.org

BERHALA TERSELUBUNG
Baca juga :
Kolose 3:1-11

"Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala" (1Yohanes 5:21)


Tatkala mendengar kata berhala, yang terlintas dalam pikiran kita biasanya adalah sebuah patung manusia atau hewan yang dijadikan pusat penyembahan. Sebagai contoh,
patung anak lembu emas yang dibuat bangsa Israel beberapa saat setelah mereka keluar dari Mesir (Keluaran 32:1-6). Kita tahu Allah sangat membenci berhala semacam itu.
Namun, mungkinkah kita menyembah berhala tanpa menyadarinya?

Saya pernah membaca kisah tentang seorang wanita yang merawat mobilnya begitu rupa.
Suatu malam, garasinya terbakar. Ia berusaha menerobos kobaran api untuk menyelamatkannya sehingga para tetangga harus menahannya. Ketika mobilnya meledak, ia tersadar bahwa ia hampir mengorbankan nyawa hanya untuk mobil itu.
Mobil tersebut telah menjadi berhala dalam hidupnya.

Bahkan ada
satu bentuk berhala terselubung yang sulit kita sadari, yakni keterlibatan kita dalam aktivitas-aktivitas gereja hanya agar kita tampak "rohani."

Orang yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diperolehnya, juga dapat disebut menyembah berhala.

Apa pun yang menjadi fokus utama dalam kehidupan kita sehingga kita bergantung padanya, selain kepada Allah ---> itulah berhala.

Dalam Kolose 3:5, Paulus menyatakan bahwa
keserakahan juga termasuk salah satu bentuk berhala.
Paulus menegaskan agar kita
menanggalkan cara-cara tamak yang menjadi bagian dari manusia lama kita, dan mengenakan manusia baru, yang hidup benar menurut gambar Khaliknya (ayat 10).

Apakah yang menjadi fokus utama dalam hidup Anda? Mungkin Anda akan terkejut dengan jawaban Anda sendiri --JEY

Nothing between, like worldly pleasure,
Habits of life, though harmless they seem,
Must not my heart from Him ever sever --
He is my all! There's nothing between. --Tindley

BERHALA ADALAH SEGALA SESUATU
YANG MENGGANTIKAN POSISI ALLAH
--------------------------------------------------------------
© 1999-2002 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org ( sabda.org/ ) sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Wednesday, February 25, 2009

RABU ABU 25 Feb 2009, Matius 6

Matius 6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

6:2Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:3Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
6:4Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

6:5"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:6Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

6:7Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

6:9Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

6:14Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

6:16"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:17Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
6:18supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

6:19"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
6:20Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
6:21Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
6:22Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;
6:23jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
6:24Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

6:25"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
6:26Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
6:27Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
6:28Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
6:29namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
6:30Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
6:31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
--------------------------------------------------------------------------------------
Renungan diambil dari buku Ziarah Batin 2009, penerbit OBOR:
(belum minta ijin, tapi karena bagus, minta maaf menaruh di sini)

Sebuah Retret Agung kita mulai pada hari Rabu Abu ini. Dan kita diajak untuk menaruh kepedulian bersama untuk sebuah fokus perhatian sebagai bukti nyata bahwa kita sedang bertobat, berbalik kepada Allah dan secara konkrit mengubah perilaku yang tidak berkenan kepada-Nya dan merugikan sesama, bahkan semesta alam.

Berpantang dan berpuasa dengan intensitas doa yang mendalam adalah cara lazim dalam mengisi proses Retret Agung ini.
Gereja mempercayakan proses ini pada tanggung jawab individu. Dalam hal ini, kebebasan kita sungguh dihargai, bahwa urusan ini adalah urusan pribadi saya dengan Allah, dengan sesama, dan dgn lingkungan hidup (baik yg manusiawi maupun yg non manusiawi).

Memang yg mendasar perlu diproses adalah sikap hati, batin, jiwa; bukan penampakan lahiriah yang bisa dipamerkan kpd orang lain.
Dengan proses seperti itu dalam terang Kitab Suci seolah kita mau membujuk Allah supaya Dia tidak jadi marah, supaya hukuman tidak jadi ditimpakan kpd kita.

Namun melalui proses Retret Agung yang memang lama dan panjang, kita juga ingin mengalami bahwa dalam hidup ini kita tidak hanya bergantung kpd makanan dan minuman. Dengan kata lain, kita mau menggeser cara hidup kita – yang mungkin cenderung materialistik dan hedonistik – menjadi lebih spiritual, sosial, dan lebih dalam lagi sadar bahwa keberadaan kita bergantung penuh kepada Allah yang MahaKuasa. Kita yang berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu ini diberi kesempatan utk men”charge” diri pada aliran keutamaan Ilahi, seperti iman, harapan dan kasih. Ya, seperti Ayub telah menyadarinya.

Ya Allah Bapa, satu pintaku: menjadi tetap setia kepada-Mu melalui pantang dan puasa; melalui kesulitan-kesulitan melawan hawa nafsu. Bentuklah aku dengan daya Ilahi-Mu untuk menjadi manusia baru. Amin.
.