Showing posts with label suci. Show all posts
Showing posts with label suci. Show all posts

Monday, June 22, 2009

Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."
(Matius 5 : 1 - 12)

Renungan (dari Ziarah Batin 8 Juni 09) :

Untuk mengerti sabda Tuhan kita butuh iman, lebih-lebih yang terkandung dalam perikop ini.
Iman itu laksana kacamata dalam film tiga dimensi: dengan kacamata, kita lihat dunia yang indah; tanpa kacamata semuanya kabur.
Dengan iman, kita melihat dunia Allah yang indah.
Apa yang dijanjikan Yesus adalah kebahagiaan sejati dan bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan dunia, sebab dunia hanya menjanjikan kebahagiaan semu, bahkan palsu, yang pada hakikatnya hanya pemuasan hawa nafsu saja.

Inti sabda bahagia itu ialah semangat kemiskinan di hadapan Allah, artinya
menyadari dan menerima ketergantungan kita yang mutlak terhadap Allah;
sebagai orang berdosa, kita tidak punya hak apa-apa di hadapan-Nya.
Kita hanya dapat berharap pada kerahiman-Nya saja,
dalam kesadaran, bahwa kerahiman-Nya tidak terbatas, jauh lebih besar dari segala dosa-dosa kita.
Semakin menyadari kerahiman-Nya,
semakin kita berusaha menjauhi segala dosa sebagai ungkapan syukur dan cinta kita.
Dari sikap dasar ini, mengalirlah sikap-sikap lain yang disebut dalam sabda bahagia: berduka untuk dosa sendiri dan dosa orang lain, sikap lemah lembut, rindu akan kebenaran, murah hati, murni hati, pembawa damai, dan kesabaran dalam menanggung derita.

Ya Tuhan, berilah aku rahmat untuk dapat menyadari dan menerima kepapaanku di hadapan-Mu, Allah Yang Mahakasih dan Maharahim. Amin.
.