skip to main |
skip to sidebar
"Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita" (Roma 5:8)
DILEPASKAN OLEH SALIBBacaan : Matius 27:33-50
Dalam mitologi Yunani kuno, pahlawan Prometheus ditangkap dan dirantai di puncak gunung. Di sana ia dihukum untuk selama-lamanya. Setiap hari, seekor rajawali raksasa datang untuk memakan hatinya.
Hermes datang kepadanya dan berkata, "Jangan harap penderitaanmu akan berakhir kecuali seorang dewa datang menggantikan siksaanmu, dan siap turun bagimu ke dalam kerajaan Hades (dewa kematian)."
Menurut mitologi tersebut, hal ini dilakukan oleh Dewa Chiron yang bijak dan adil, yang rela mengorbankan dirinya sendiri bagi Prometheus dan membebaskannya dari siksaan.
Dalam beberapa hal, kisah ini merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada kita saat Yesus mati di kayu salib. Manusia telah terikat oleh dosa, dan tak ada harapan bagi manusia untuk terlepas dari dosa kecuali Allah menggantikan.
Dan itulah yang benar-benar terjadi. Yesus Kristus, Putra Allah, mati untuk menggantikan kita dan membayar hukuman dosa kita. Dia menyediakan jalan bagi kita untuk terlepas dari hukuman kekal.
Meskipun kita menyediakan diri untuk menulis dalam seribu hari, kita tetap tak dapat mengungkapkan dengan sempurna arti pengurbanan Kristus bagi penebusan dosa seluruh umat manusia. Makna sejatinya jauh melebihi pemahaman kita.
Apakah Anda telah mengakui dosa-dosa Anda dan meminta Yesus Kristus menjadi Juru Selamat pribadi Anda? Jika belum, hari ini adalah saat yang paling tepat. Percayalah kepada-Nya, dan Anda akan tahu apakah artinya terlepas dari rantai dosa karena salib -
KELUARLAH DARI PERBUDAKAN DOSA DANMASUKILAH KEBEBASAN YANG MENYELAMATKAN -- PERCAYALAH KEPADA KRISTUSDari "Renungan Harian" Yay. Gloria, Yogyakarta / "Our Daily Bread" by David C. Egner.
.
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5 : 1 - 12)
Renungan (dari Ziarah Batin 8 Juni 09) :Untuk mengerti sabda Tuhan kita butuh iman, lebih-lebih yang terkandung dalam perikop ini.
Iman itu laksana kacamata dalam film tiga dimensi: dengan kacamata, kita lihat dunia yang indah; tanpa kacamata semuanya kabur.
Dengan iman, kita melihat dunia Allah yang indah.
Apa yang dijanjikan Yesus adalah kebahagiaan sejati dan bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan dunia, sebab dunia hanya menjanjikan kebahagiaan semu, bahkan palsu, yang pada hakikatnya hanya pemuasan hawa nafsu saja.
Inti sabda bahagia itu ialah semangat kemiskinan di hadapan Allah, artinya
menyadari dan menerima ketergantungan kita yang mutlak terhadap Allah;
sebagai orang berdosa, kita tidak punya hak apa-apa di hadapan-Nya.
Kita hanya dapat berharap pada kerahiman-Nya saja,
dalam kesadaran, bahwa kerahiman-Nya tidak terbatas, jauh lebih besar dari segala dosa-dosa kita.
Semakin menyadari kerahiman-Nya,
semakin kita berusaha menjauhi segala dosa sebagai ungkapan syukur dan cinta kita.
Dari sikap dasar ini, mengalirlah sikap-sikap lain yang disebut dalam sabda bahagia: berduka untuk dosa sendiri dan dosa orang lain, sikap lemah lembut, rindu akan kebenaran, murah hati, murni hati, pembawa damai, dan kesabaran dalam menanggung derita.
Ya Tuhan, berilah aku rahmat untuk dapat menyadari dan menerima kepapaanku di hadapan-Mu, Allah Yang Mahakasih dan Maharahim. Amin.
.
“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Matius 5:38-42)
Renungan (diambil dari Ziarah Batin 2009) :
Jalan pikiran Tuhan memang berbeda jauh dari pikiran manusia dan sama sekali tidak dapat dibandingkan: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:9).
Manusia yang akal budinya telah digelapkan oleh dosa, tidak dapat melihat lagi kebenaran jalan Tuhan, tetapi pikirannya digelapkan oleh hawa nafsunya.
Inti dari sabda-sabda Yesus itu ialah: Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Sesungguhnya kejahatan tidak dapat dikalahkan dengan kejahatan, melainkan hanya dengan cinta kasih saja. Itulah sebabnya, untuk menebus dosa umat manusia, Allah menyuruh Putra Tunggal-Nya menjadi manusia.
Sesungguhnya kekuatan yang paling dahsyat yang ada di alam semesta ini ialah kekuatan cinta kasih. Siapakah yang lebih kuat daripada Allah, karena sesungguhnya Dialah Yang Mahakuasa, tetapi Allah Yang Mahakuasa ini sesungguhnya adalah Sang Kasih sendiri, seperti kata Kitab Suci: “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8-16).
Karena itu, Yesus – karena kasih dan dalam kasih – telah rela digantung di kayu salib
untuk mengalahkan kuasa dosa, kejahatan, dan setan.
Maka, membalas dendam dan menyimpan sakit hati, sungguh bertentangan dengan kasih itu sendiri. Dengan mengikuti teladan dan ajaran Yesus, kita dapat mengalahkan segala kejahatan.
Ya Tuhan, kobarkan api kasih-Mu di dalam hatiku, agar aku pun dapat mengalahkan kejahatan dengan kuasa kasih. Amin.
________________________________________________________________________
1 Yohanes 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.
4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.