Monday, March 10, 2008

Kami menyentuh-Nya !

“Apa yang telah ... kami raba dengan tangan kami ... kami beritakan kepada kamu”
(1 Yohanes 1:1,3)
===============================================================================

Mitologi dipenuhi dengan kisah dewa2 zaman dahulu yg turun dari surga dan mengambil wujud manusia. Namun, tak seorang pun menyentuh mereka. Dewa2 itu merupakan impian yg timbul karena manusia mendambakan Allah, berharap suatu hari dia akan datang mendekat. Penjelmaan Yesus – Allah yg menjadi manusia – adalah pemenuhan dari impian2 tsb.

Pengarang Dorothy Sayers berkata: “Allah tidak dapat menuntut apa pun dari manusia yg belum dituntut-Nya dari diri-Nya sendiri. Dia sendiri telah melalui seluruh pengalaman hidup manusia, mulai dari kekesalan2 sepele, kelelahan fisik akibat kerja keras, kekurangan uang, sampai merasakan betapa ngerinya rasa sakit, penghinaan, kekalahan, putus asa, dan kematian.... Ketika Dia menjadi manusia, Dia berperan sbg manusia. Dia dilahirkan dalam kemiskinan (kandang domba di Betlehem), mati dalam kehinaan (disalib), serta menganggap bahwa hal itu layak dilakukan.”

Penjelmaan Yesus Kristus merupakan bukti yg tak dapat disangkal lagi bahwa Allah akan melakukan apa saja untuk datang mendekati kita.

St. Agustinus berkata: “Allah memberikan diri-Nya sendiri selama bbrp waktu untuk ditangani oleh manusia.” Dan kita memiliki catatan tertulis dari Yohanes, seorang manusia yg benar-benar menyentuh-Nya. Kita dapat mempercayai kesaksiannya – dan kita dapat yakin bahwa Allah ingin berada dekat anda & saya.

Diambil dari buku “Renungan Harian”, Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : “Our Daily Bread” oleh David H. Roper

Sunday, March 9, 2008

"Diledakkan" untuk Berubah

Seorang redaktur koran mendengar bahwa SESEORANG bernama Alfred Nobel meninggal dunia, lalu karena ia menyangka itu adalah Nobel si penemu dinamit, maka sang redaktur menerbitkan obituari berjudul "NOBEL SI PEDAGANG KEMATIAN".

Ketika Alfred Nobel penemu dinamit membaca berita itu, yakni tentang kematiannya sendiri, dia seperti orang buta yang tiba2 dapat melihat kembali.

SEJAK HARI ITU, Nobel MENCURAHKAN DIRINYA UTK PERKARA2 KEMANUSIAAN - TERUTAMA PERDAMAIAN.

SAULUS dari Tarsus (yg sering menangkapi & menyiksa para pengikut Kristus, dan kelak menjadi rasul besar St. PAULUS), mengalami perubahan jauh lebih drastis drpd Alfred Nobel :

Dalam perjalanan ke Damsyik utk menangkap orang Kristen, Saulus bertemu dgn Tuhan sendiri. Setelah buta bbrp lama krn pertemuan itu, Saulus menyerahkan sisa hidupnya utk melayani YESUS. Musuh Yesus itu akhirnya menjadi rasul yg berbakti kpd-NYA. (Kisah Para Rasul 9:15,16).

Pengalaman kita sendiri mungkin tdk se-heboh itu, tapi kita harus bertanya kpd diri kita, apakah kita sudah berjumpa dengan Sang Juru Selamat, yaitu Yesus Tuhan yg telah mengubah arah hidup kita?

Jika anda belum mengalaminya, bukalah Yohanes 3 dan bacalah perkataan Yesus tentang LAHIR KEMBALI.
Lalu dengan doa sederhana yg berisi PENYESALAN DOSA, BUKALAH HATI anda kepada-NYA.
Komitmen yang JUJUR kpd TUHAN akan membawa anda memasuki hubungan baru dgn DIA - hubungan yg ABADI.

============================================================================
"Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-NYA yang terkasih." (Kolose 1:13)
============================================================================

KESELAMATAN BUKAN SEKEDAR MEMUTUS KEBIASAAN BURUK, TETAPI JUGA MEMBENTUK KARAKTER YG BAIK

Diambil dari buku "Renungan Harian", Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : "Our Daily Bread" oleh Vernon C. Grounds.

Kekuatan Seorang Ibu

"Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya." (Amsal 31:26)

"Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya." (Amsal 31:27)

"Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji." (Amsal 31:30)
=========================================================================

Seekor induk tupai berlari cepat melalui kawat listrik sambil membawa bayi di mulutnya. Ia membawa bayinya ke sarang baru yg telah dibuatnya di sebuah pohon. Ia berlari kembali melalui kawat itu, mengambil lagi seekor bayi tupai yg lain, dari sarang lama ke sarang baru.

Terus... ia berlari pulang-pergi sampai 6 bayinya pindah...

Wah, menjadi ibu memang berat.
Benar, kesakitan waktu melahirkan baru merupakan awal.
Betapa pentingnya seorang ibu (manusia) memperhatikan hidup rohaninya sendiri (tidak stress, tetap kuat), supaya dapat mengasuh anak-anaknya. Ya, seorang ibu harus memelihara jiwanya - utk tumbuh dalam hikmat & pengetahuan tentang Allah.

Susanna Wesley adalah seorg ibu yg sibuk dgn 19 anak. Namun ia selalu menyisihkan waktu setiap hari utk bersekutu dgn Allah. Bahkan, kadang2 masih dengan celemek di pinggang, dia menyempatkan berdoa. Pada saat spt itu tidak seorang pun anaknya berani mengganggu.

Wanita yg digambarkan dalam Amsal 31:26-31 (=Puji-pujian untuk istri yang cakap) sangat menjunjung tinggi hikmat, kebaikan, dan hormat kpd Tuhan. Pd hari ini marilah kita menghargai para wanita dalam hidup kita yg membagikan hikmat mereka, menunjukkan kasih kpd kita, dan yg di atas semuanya berusaha utk memuliakan Tuhan.

----- YA ALLAH, BERKATILAH IBU ... SEMUA KEBERADAAN SAYA INI ADALAH BERKAT JASANYA (Abraham Lincoln) -----

Diambil dari buku "Renungan Harian", Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : "Our Daily Bread" oleh David H. Roper.

Warisan terbaik kita adalah anak-anak

"Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku HIDUP DALAM KEBENARAN" (3 Yohanes 1:4)
============================================================================

Erma Bombeck, seorang pengarang / penulis, menulis 12 buku, menerima penghargaan doktor honoris causa, karirnya selama 30 thn-an (medio 1960-an sampai medio 1990-an).

Namun, 3 thn sebelum meninggal dunia krn kanker (1996), ia berkata kpd pewawancara dari TV ABC bahwa BERAPA PUN JUMLAH ARTIKEL YANG DITULISNYA, WARISAN TERBAIK ADALAH ANAK-ANAKNYA.

"JIKA SAYA TIDAK DAPAT MEMBESARKAN MEREKA DENGAN BAIK, MAKA SETIAP HAL YG SAYA LAKUKAN TIDAKLAH JADI PENTING."

Erma Bombeck kaya dan masyhur, digemari oleh jutaan pembaca. Namun ia sadar bahwa PRIORITAS UTAMAnya adalah merawat anak-anaknya.

Meskipun tidak ada orangtua yg dapat menjamin bahwa anaknya akan jadi penduduk teladan yg beriman, tetapi sebagai orangtua kita harus berusaha memiliki sikap spt Erma. MOTIVASI kita ialah memenuhi kebutuhan jiwa, raga, dan emosi anak-anak kita. MEREKALAH WARISAN KITA.

Ini berarti kita harus MEMPERKENALKAN mereka kepada SANG JURU SELAMAT, menyediakan BIMBINGAN ROHANI (Mazmur 34:12-15), BERDOA BAGI MEREKA, dan mendorong mereka utk menemukan pembimbing bijak yg dapat menolong mereka menjalani hidup kristiani yg baik.

Ya, ini perjuangan berat. Bahkan menyita banyak waktu & pengorbanan. Namun, nilai seorang anak jauh melebihi semuanya.

------- ANAK-ANAK KECIL SANGAT BERHARGA BAGI ALLAH -------

Diambil dari buku "Renungan Harian" - Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : "Our Daily Bread" oleh J. David Branon.

Sindrom Gunung St.Helens

"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh keselamatan" (2Petrus 3:15)
=======================================================================

Pada 20 Maret 1980, Gunung St.Helens di Washington, sebuah gunung berapi yang disangka orang tidak aktif lagi, tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan suara gemuruh. Penduduk setempat di-evakuasi ke jarak "aman" sekitar 12,8 km dari gunung itu. Bbrp waktu kemudian, sisi gunung mulai meng- gelembung. Namun, ilmuwan tidak mengkhawatirkan hal itu karena pegunungan itu tidak pernah meletus dari samping.

Kemudian pd 18 Mei, lereng Gn. St. Helens meletus dan memuntahkan berton-ton reruntuhan ke bawah dgn kecepatan 250,5 km/jam. Semenit kemudian, gunung itu meletus ke atas dgn kekuatan setara dgn 500 bom atom! Letusan yg sangat besar, sehingga merusak hutan seluas 59600 hektar dan menewaskan 57 orang. Ilmuwan mengira peristiwa2 alam akan berlangsung seperti sebelumnya. Tapi ternyata keliru!

Kitab 2 Petrus menceritakan kpd kita bahwa suatu saat di masa depan, keyakinan keliru semacam itu juga akan dirusak oleh panasnya api hari kiamat (2Petrus 3:4-7). Namun berita baiknya adalah Allah akan membangun “langit yang baru dan bumi yang baru” (ayat 13). Dia menghendaki agar “JANGAN ADA YANG BINASA”, dan dgn sabar menanti agar lebih banyak orang menemukan KESELAMATAN SEJATI dalam Putra-Nya YESUS (ayat 9). Kita hanya perlu menerima KESELAMATAN yang DITAWARKAN-NYA.

SUDAHKAH ANDA MEMPERCAYAKAN KESELAMATAN ANDA KEPADA YESUS?
Yesus, aku percaya.....
Yesus, aku milikmu....
Kuhidup karena MU, bermazmur bagi MU, selamanya...

Umat Allah harus menunjukkan jalan agar orang lain SELAMAT dari penghakiman Allah.

Diambil dari buku "Renungan Harian" - Yayasan Gloria, Yogyakarta.
Original : "Our Daily Bread" oleh H. Dennis Fisher.

Sunday, March 2, 2008

Yesus Kristus adalah Allah

Penulis : Josh McDowell & Bart Larson

JIKA kita bertanya kepada suatu panel yang terdiri atas pakar-pakar dari berbagai agama, seperti apakah Allah dan bagaimana Allah telah menyatakan diri-NYA, kita akan mendengar banyak pendapat yang berbeda-beda sebanyak jumlah anggota panel.
Jawaban dari beberapa di antara mereka akan bertentangan dengan jawaban yang lain-lainnya.
Jika kita berpendapat bahwa apa yang disebut kebenaran tidaklah bersifat relatif, maka tidak mungkin jawaban mereka semua benar.
Misalnya, jika seseorang mengatakan bahwa Allah itu suatu Pribadi dan yang lain mengatakan bahwa Allah bukan suatu Pribadi, maka pastilah seorang dari mereka salah.
Siapakah yang dapat mengatakan dengan pasti, seperti apakah Allah? Satu-satunya yang dapat mengatakan dengan pasti adalah Allah sendiri.

ALLAH MENYATAKAN DIRI
Para penulis masa kini percaya bahwa Allah telah menyatakan diri-NYA dengan berbagai cara. Namun cara itu masing-masing perlu diuji secara obyektif dengan berpatokan pada Alkitab dan pribadi Yesus Kristus.

Pertama-tama, kita akan menyoroti Alkitab. Berbeda dengan banyak tulisan lainnya, Alkitab secara mutlak menyatakan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah firman Allah. Kebanyakan orang yang menaruh perhatian yang besar tentang keilahian Kristus menerima Alkitab sebagai wahyu dari Allah. Jadi untuk tujuan ini, kita akan memandang Alkitab dapat diandalkan kebenarannya, baik secara historis maupun sebagai firman Allah kepada kita -- satu-satunya tolok ukur yang benar untuk menetapkan apakah Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, atau bukan.

Ada yang mengatakan bahwa dari abad ke abad Alkitab telah menjadi semakin tidak meyakinkan keasliannya. Jadi perlu adanya wahyu-wahyu baru. Pendapat tersebut tidak dapat dibenarnya. Ada lebih dari 24.600 naskah Perjanjian Baru yang lengkap atau sebagian-sebagian. Andaikata semua naskah Perjanjian Baru lenyap pun kita masih dapat menghimpun semua tulisan Perjanjian Baru, kecuali kira-kira sebelas ayat, dari tulisan bapa-bapa gereja yang mula-mula, yang semuanya ditulis sebelum tahun 325 Masehi. Para pakar sejarah yang bukan Kristen pun harus mengakui bahwa dengan segala patokan ilmiah dan sejarah yang dipakai untuk memeriksa kebenaran dokumen kuno mana pun. Perjanjian Baru terbukti lebih dari sembilan puluh sembilan persen akurat. Orang dapat saja memperdebatkan isinya, tetapi tidak dapat memperdebatkan keabsahan sejarahnya.

Alkitab menyatakan bahwa apa yang tertulis di dalamnya merupakan patokan mutlak untuk menetapkan hal-hal doktrin.

2 Timotius 3:16-17, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."

pasa graph' theopneustos kai 'phelimos pros didaskalian pros elegkhon pros epanorth 'sin pros paideian t'n en dikaiosun' hina artios ' ho tou theou anthr'pos pros pan ergon agathon ex'rtismenos

Bagi orang-orang Kristen, setiap buku, tulisan, atau pengajaran yang bertentangan dengan isi Alkitab haruslah ditolak. Alkitab sangat menekankan hal ini.

Yudas 3, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."

agap'toi pasan spoud'n poioumenos graphein humin peri t's koin's s't'rias anagk'n eskhon grapsai humin parakal'n epag'nizesthai t' hapax paradotheis' tois hagiois pistei

Alkitab tidak menerima ajaran-ajaran lain yang akan mengubah atau menambah isi Alkitab.

Galatia 1:8, "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."

alla kai ean h'meis h' aggelos ex ouranou euaggeliz'tai humin par ho eu'ggelisametha humin anathema est'

Jika ada sumber-sumber lain yang mengaku sebagai wahyu ilahi, sebagaimana halnya Alkitab, maka sumber-sumber itu harus diuji kebenarannya berdasarkan Alkitab.
Allah tidak dapat bertentangan dengan diri-NYA sendiri.
Oleh karena itu, apapun yang dinyatakan oleh seorang pembicara atau penulis yang mengaku mendapat wahyu ilahi, tidak dapat bertentangan dengan Alkitab yang kita tahu benar adanya.
Jika pernyataan mereka bertentangan dengan Alkitab, maka jelaslah bahwa mereka tidak berbicara atas ilham dari Allah, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam mempertimbangkan keilahian Kristus, pokok persoalannya bukanlah apakah keilahian Kristus mudah dipercaya atau dimengerti, melainkan apakah keilahian Kristus dinyatakan di dalam firman Allah.
Apabila pada mulanya gagasan tentang keilahian Kristus tampaknya tidak masuk akal atau tidak dapat dimengerti, hal itu tidak dengan sendirinya meniadakan kemungkinan bahwa keilahian Kristus itu benar adanya.

Alam semesta ini penuh dengan berbagai perkara -- seperti gravitasi, sifat cahaya, gelombang cahaya -- yang berada di luar jangkauan akal manusia pada saat ini, tetapi sekalipun demikian, benar adanya.
Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak dapat dimengerti oleh akal manusia.

Ayub 11:7, "Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?"

HAKH'QER 'EL'AH TIMTS'' 'IM 'AD-TAKHL'T SYADAY TIMTS''

Ayub 42:2-6, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

YÂDA'TÂ KÏ-KHOL TÛKHÂL VELO'-YIBÂTSÊR MIMEKHA MEZIMÂH MÏ ZEH MA'LÏM 'ÊTSÂH BELÏ DÂ'AT LÂKHÊN HIGADTÏ VELO' 'ÂVÏN NIFLÂ'ÕT MIMENÏ VELO' 'ÊDÂ' SYEMA'-NÂ' VE'ÂNOKHÏ 'ADABÊR 'ESY'ÂLEKHA VEHÕDÏ'ÊNÏ LESYÊMA'-'OZEN SYEMA'TÏKHA VE'ATÂH 'ÊYNÏ RÂ'ÂTEKHA 'AL-KÊN 'EM'AS VENIKHAMTÏ 'AL-'ÂFÂR VÂ'ÊFER

Mazmur 145:3, "Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga."

GÂDÕL YEHOVÂH ÛMEHULÂL ME'OD VELIGDULÂTÕ 'ÊYN KHÊQER

Yesaya 40:13, "Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?"

MÏ-TIKÊN 'ET-RÛAKH YEHOVÂH VE'ÏSY 'ATSÂTÕ YÕDÏ'ENÛ

Yesaya 55:8-9, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."

KÏ LO' MAKHSYEVÕTAY MAKHSYEVÕTÊYKHEM VELO' DARKHÊYKHEM DERÂKHÂY NE'UM YEHOVÂH KÏ-GÂVHÛ SYÂMAYIM MÊ'ÂRETS KÊN GÂVHÛ DERÂKHAY MIDARKHÊYKHEM ÛMAKHSYEVOTAY MIMAKHSYEVOTÊYKHEM

Roma 11:33, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!"

hô bathos ploutou kai sophias kai gnôseôs theou hôs anexereunêta ta krimata autou kai anexikhniastoi hai hodoi autou

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita percaya tentang apa yang dikatakan Allah mengenai diri-NYA sendiri, tidak menjadi persoalan, apakah kita dapat sepenuhnya memahaminya atau tidak.

Mengenai penyataan diri Allah di dalam Pribadi Yesus Kristus, Alkitab berkata:

Ibrani 1:1-3, "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,"

polumerôs kai polutropôs palai ho theos lalêsas tois patrasin en tois prophêtais ep eskhatôn tôn hêmerôn toutôn elalêsen hêmin en huiô hon ethêken klêronomon pantôn di hou kai tous aiônas epoiêsen hos ôn apaugasma tês doxês kai kharaktêr tês hupostaseôs autou pherôn te ta panta tô rhêmati tês dunameôs autou di heautou katharismon poiêsamenos tôn hamartiôn hêmôn ekathisen en dexia tês megalôsunês en hupsêlois

Yesus Kristus adalah Firman Allah yang Hidup. Ia menyatakan Allah. Ketika seorang pengikutnya berkata, "Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami", Yesus menjawab, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai "gambar Allah yang tidak kelihatan". Dengan demikian, sebagaimana akan dibahas di dalam tulisan ini, memandang Yesus Kristus dan mendengarkan Dia sama saja dengan memandang dan mendengarkan Allah.

APA YANG DIPERSOALKAN?
Apabila Yesus Kristus adalah Allah dalam wujud manusia, maka Ia adalah satu-satunya yang patut didengarkan, dihormati, dan bahkan disembah.
Ini berarti bahwa Allah yang menciptakan bulan dan bintang, yang menempatkan milyaran planet di angkasa, Allah itu jugalah yang menjelma menjadi manusia, yang hidup dan melangkahkan kaki-Nya di atas muka bumi ini, dan merelakan diri-NYA mati di tangan ciptaan-NYA sendiri.
Kematian-NYA mempunyai arti yang jauh lebih besar daripada kematian seorang yang baik. Dari segala masa, kematian-NYA merupakan pengorbanan terbesar, suatu penyataan kasih yang tidak terukur dalamnya.
Oleh karena itu, memperlakukan Yesus sekedar sebagai manusia dalam arti makhluk ciptaan merupakan suatu penghujatan. Gagal dalam menyelaraskan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-NYA akan berarti kehilangan kehidupan itu sendiri.

Sebaliknya, apabila Yesus Kristus bukan Allah, melainkan makhluk ciptaan yang lebih rendah derajatnya, kita hanya akan merasa berterima kasih atas kehidupan, kematian, dan pengajaran-NYA, tetapi kita tidak akan menyembah Dia sebagai Allah. Bila kita menganggap Dia makhluk ciptaan Allah, lalu kita menyembah Dia sebagai Allah, itu merupakan suatu kesalahan yang sangat besar. Mengapa? Karena dengan demikian kita menjadikan Dia berhala yang menempati kedudukan Allah. Alkitab dengan tegas menentang penyembahan berhala.
Allah mengatakan bahwa Ia tidak akan memberikan kemuliaan-NYA kepada yang lain, dan bahwa tidak ada Allah lain selain Dia, dan bahwa kita harus menyembah Dia saja. Jadi persoalannya, Yesus betul-betul Allah atau Ia bukan Allah. Percaya kepada Dia sebagai yang lain-lainnya merupakan suatu bentuk penghujatan, suatu penyembahan berhala.

Pembahasan seperti ini dapat menjadi sangat rumit, bergantung pada ajaran apa yang telah diterima seseorang. Berbagai argumentasi dapat dikemukakan untuk mendukung ataupun menentang keilahian Kristus. Misalnya, jika seseorang telah diajari bahwa Allah adalah satu Pribadi dan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan, maka dalam membaca Alkitab untuk pertama kalinya, ia dapat menemukan ayat-ayat yang kelihatannya mendukung pandangan tersebut.

Sebaliknya, apabila seseorang telah diajari bahwa Allah adalah Yang Mahatinggi, sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bahwa Anak melepaskan kesetaraan-NYA dengan Allah untuk menjadi manusia di dalam pribadi Yesus Kristus, maka ia dapat menemukan ayat-ayat yang mendukung pandangan tersebut.

Jadi pertanyaannya bukanlah apakah setiap pandangan itu dapat memberi alasannya, melainkan pandangan mana yang mempunyai bukti yang terkuat. Pandangan mana yang sebenarnya dinyatakan di dalam keseluruhan Alkitab?

Dalam mempertimbangkan kedua pandangan itu kita yakin bahwa kita dapat memberikan sanggahan yang mantap terhadap semua ayat yang dimanfaatkan untuk mengatakan bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah.
Akan kita tunjukkan bahwa Alkitab menyebut Yesus Kristus dengan nama-nama dan sebutan-sebutan Allah. Akan kita tunjukkan dari Alkitab bahwa Yesus Kristus layak disembah dan manusia patut berdoa kepada-NYA.
Kita akan memberi jawaban terhadap semua argumentasi yang menentang kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Akan kita buktikan dari sejarah gereja -- sebelum Dewan Nicene pada tahun 325 Masehi -- bahwa kepercayaan akan keilahian Yesus Kristus sejak semula merupakan pandangan yang ortodoks.

Jelaslah bahwa pandangan-pandangan itu tidak mungkin kedua-duanya benar. Akan jauh lebih mudah kalau masalahnya hanya menyangkut soal ketulisan, tetapi tidaklah demikian halnya. Yang dipersoalkan ialah: Pandangan mana yang benar?

Roma 10:2, "Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar."

marturô gar autois hoti zêlon theou ekhousin all ou kat epignôsin

DEFINISI PERISTILAHAN
Sebelum seseorang dapat memahami ayat-ayat Alkitab yang berkenaan dengan keilahian Yesus Kristus, ia perlu diberi definisi yang memadai tentang hakekat Allah, tentang pribadi serta hakekat Yesus Kristus.

ALLAH
Alkitab menyatakan bahwa Allah itu suatu pribadi; Ia cerdas, penuh kasih, adil, setia, kekal, kreatif, dan berada dalam interaksi yang dinamis dengan ciptaan-NYA. Ciri-ciri Allah dapat dirangkum ke dalam dua kelompok: ciri-ciri umum dan ciri-ciri moral. Allah -- menurut ciri-ciri-NYA yang umum -- bersifat unik, kekal, tidak berubah, mahakuasa, mahatahu, mahahadir, roh, dan suatu pribadi. Ciri-ciri moral Allah mencakup kekudusan, keadilan, kasih, dan kebesaran-NYA. Kekristenan mengajarkan bahwa Allah berdaulat; Ia menopang dan memerintah alam raya, dan sebagaimana yang akan kita tunjukkan. Ia menjelma menjadi manusia -- Yesus Kristus dari Nazaret.

YESUS KRISTUS
Yesus Kristus merupakan sebuah nama dan sebuah sebutan.

Nama Yesus (bahasa Indonesia) dalam bahasa Yunani adalah iêsous; kata itu berasal dari bahasa Ibrani yehõsyûa' atau yehõsyû'a dari YHVH dan yasya' yang artinya "YHVH Juruselamat" atau "TUHAN menyelamatkan".

Sebutan Kristus (bahasa Indonesia) berasal dari kata Yunani khristos, bahasa Ibraninya masyiakh (Daniel 9:26), artinya "Yang Diurapi". Dua jabatan, yaitu raja dan imam, tercakup dalam pemakaian sebutan Kristus. Sebutan itu menyatakan bahwa Yesus adalah Imam dan Raja yang dijanjikan Allah dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama.

Selain itu, kita percaya bahwa waktu hidup di dunia ini Yesus Kristus mempunyai dua hakekat: Ia manusia dan Ia Allah. Dengan demikian, kita mempunyai pandangan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati (pada hakekatnya), namun juga manusia sejati. Ia adalah Allah yang menyatakan diri dalam wujud manusia.

Alkitab menggambarkan Yesus Kristus sebagai Allah maupun manusia.

Filipi 2:5-11, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!"

touto gar phroneisthô en humin ho kai en khristô iêsou hos en morphê theou huparkhôn oukh harpagmon êgêsato to einai isa theô all heauton ekenôsen morphên doulou labôn en homoiômati anthrôpôn genomenos kai skhêmati heuretheis hôs anthrôpos etapeinôsen heauton genomenos hupêkoos mekhri thanatou thanatou de staurou dio kai ho theos auton huperupsôsen kai ekharisato autô onoma to huper pan onoma hina en tô onomati iêsou pan gonu kampsê epouraniôn kai epigeiôn kai katakhthoniôn kai pasa glôssa exomologêsêtai hoti kurios iêsous khristos eis doxan theou patros

Setelah menjajaki definisi tentang Allah dan Yesus Kristus, kita akan mencoba menjawab satu pertanyaan lagi.

MENGAPA ALLAH MAU MENJADI MANUSIA?
Bagaimana manusia yang serba terbatas seperti kita ini dapat memahami Allah yang tidak terbatas? Sangat sulit bagi kita untuk memahami hal-hal abstrak seperti kebenaran, kebaikan, atau keindahan kalau kita tidak memiliki contoh-contoh yang tampak oleh mata kita. Kita dapat mengenal keindahan karena kita dapat melihat keindahan itu pada suatu benda yang indah; kita dapat mengenal kebaikan karena kebaikan itu terlihat di dalam diri orang yang baik, dan sebagainya. Tetapi bagaimana dengan Allah? Bagaimana orang dapat mengerti seperti apa Allah itu?

Sampai tahap tertentu kita dapat mengenal Allah kalau Allah mewujudkan diri-NYA dalam suatu bentuk yang dapat dipahami oleh manusia, yaitu dengan menjadikan diri-NYA seorang manusia. Walaupun demikian, memang dalam wujud manusia Ia tidak akan dapat menyatakan sifat-NYA yang kekal dan yang mahahadir -- tidak akan ada waktu dan ruang untuk itu, tetapi IA dapat secara kelihatan menyatakan sifat-sifat-NYA.

Itu adalah berita yang disampaikan di dalam Perjanjian Baru. Rasul Paulus berkata bahwa di dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an. Kristus menjadi manusia supaya manusia dalam batas-batas tertentu dapat memperoleh pengertian tentang Allah yang tidak terbatas.

Alasan kedua mengapa Allah mau menjadi manusia ialah untuk menjembatani jurang pemisah antara Allah dan manusia. Seandainya Yesus Kristus "hanyalah" seorang manusia atau makhluk ciptaan, maka jurang pemisah antara Allah dan manusia -- antara yang tidak terbatas dan yang terbatas, antara Pencipta dan yang diciptakan, antara Yang Kudus dan yang tidak kudus -- akan tetap ada.

Supaya kita dapat mengenal Allah, maka Allah harus turun kepada kita. Tidak ada "makhluk ciptaan" yang dapat menjembatani jurang antara Allah dan manusia, seperti halnya segumpal tanah liat tidak dapat mengerti atau mencapai taraf sang penjunan. Karena kasih, Allah telah turun ke dunia ini, kepada kita. Ia membuka jalan supaya semua orang dapat mengenal Dia.

Sumber: Jesus: A Biblical Defense for His Deity

Tuesday, February 26, 2008

Suatu Perjalanan Pulang ke Rumah (dari Yahudi menjadi Katolik) - Rosalind Moss

Sewaktu saya mulai melakukan suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya - yaitu untuk mempelajari klaim-klaim Gereja Katolik - saya bersandar pada doa, khawatir bahwa yang jahat akan menipu dan membuat saya tiada berguna bagi kerjaan Kristus yang telah saya kenal dan kasihi.

Saya dibesarkan di suatu keluarga Yahudi, yang masih merayakan banyak dari tradisi-tradisi Yahudi, setidaknya di saat saya masih kecil. Saya ingat punya suatu perasaan khusus bahwa Allah yang tunggal adalah Allah kami dan bahwa kami adalah umat-Nya. Akan tetapi ketika saya mulai tumbuh besar dan menempuh jalan kami masing-masing, banyak hal yang kami tinggalkan di belakang. Akhirnya kakak laki-laki saya, David, menjadi seorang ateis, dan saya, mungkin, menjadi seorang agnostik (tidak peduli eksistensi Allah).

Pada musim panas tahun 1975 (saat itu kami berusia tigapuluh tahunan) saya mengunjungi David. Selama bertahun-tahun David telah mencari kebenaran, mencari makna hidup ini, dan untuk memastikan apakah Allah itu sungguh-sungguh ada. Seringkali saya berpikir pada diri sendiri,

Apa yang membuat kamu berpikir bahwa kebenaran itu ada?! ... bahwa ada sesuatu hal yang merupakan kebenaran? Dan apa yang membuat kamu berpikir bahwa kamu bisa menemukannya? Bukankah serupa seperti layaknya mencari jarum di tumpukan jerami? Dan bagaimana kamu akan mengenalinya?

Bahkan sekalipun kebenaran itu ada, dan kamu dapat menemukannya, dan kamu tahu ketika kamu telah memilikinya ... dan bahkan jika kebenaran itu berada bahwa Allah itu ada - lalu apa selanjutnya? Bagaimana dengan mengetahui kebenaran itu bisa membuat suatu perubahan dalam hidupmu?

Pada percakapan kami dalam pertemuan ini, David menceritakan kepada saya bahwa dia telah menemukan suatu artikel yang mengatakan bahwa ada orang-orang Yahudi - orang-orang keturunan Yahudi - yang masih hidup, di dunia ini, yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias orang Yahudi - SANG MESIAS (!) yang masih kami tunggu-tunggu kedatangannya selama ini. Saya tidak akan pernah melupakan kekagetan yang menjalari seluruh tubuh saya pada saat itu. Pikiran saya melayang balik ke tahun-tahun ketika kami duduk di meja Paskah Yahudi dalam pengharapan akan kedatangan Mesias, menyadari bahwa Dia adalah satu-satunya pengharapan yang kami miliki. Dan sekarang David mengatakan kepada saya bahwa ada orang-orang - orang-orang Yahudi - yang percaya bahwa Dia telah datang?!

Saya berkata kepada David, "Maksudmu mereka percaya Dia telah ada disini - di dunia ini?! Dan t-a-k s-e-o-r-a-n-g-p-u-n tahu??? Dunia ini tidak berubah? Dan Dia telah pergi???!"

Sekarang lalu apa? Tiada lagi harapan, tiada yang tersisa. Ini gila-gilaan. Selain itu, engkau tidak bisa menjadi seorang Yahudi dan sekaligus percaya pada Kristus.

Dalam waktu tiga bulan sejak percakapan itu, saya telah pindah ke negara bagian Kalifornia dan bertemu dengan beberapa orang Yahudi ini yang percaya pada Kristus.

Mereka tidak hanya percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias bangsa Yahudi, tetapi bahwa DIA adalah Allah yang turun ke dunia! Bagaimana seseorang bisa berpikir seperti itu? Bagaimana seorang manusia adalah Allah? Bagaimana engkau bisa melihat Allah dan tetap hidup?!

Dalam satu malam yang merubah hidup saya, saya berada bersama-sama suatu kelompok orang Yahudi ini, yang kesemuanya adalah umat Kristen pengikut Kristus - semua adalah umat Kristen Protestan Injili (Evangelical-Protestant).

Mereka mengatakan kepada saya bahwa Allah perlu mencurahkan darah bagi pengampunan dosa, dan mereka menerangkan bagaimana di bawah sistem kurban Perjanjian Lama : orang-orang datang setiap hari untuk mempersembahkan binatang kurban bagi dosa-dosa mereka (lembu, kambing, domba).
Kalau kurban itu seekor anak domba, maka harus jantan, satu tahun umurnya, dan harus sempurna tanpa cacat atau cela.
Orang tersebut akan meletakkan tangannya di atas kepala anak domba sebagai simbol bahwa dosa dipindahkan dari orang tersebut kepada binatang itu.
Dan anak domba itu - yang tidak berdosa tetapi secara simbolis telah menerima dosa-dosa orang itu - lantas dijagal, dan darahnya akan dituangkan diatas altar sebagai persembahan bagi Allah untuk membayar dosa-dosa orang tersebut.

Saya tidak dapat mengerti mengapa Allah membuat binatang yang tak berdosa untuk dosa-dosa saya?
Tetapi saya mulai mengerti bahwa dosa itu bukan suatu hal yang ringan dimata Allah.
Mereka juga menerangkan bahwa kurban binatang itu bersifat sementara, bahwa kurban itu perlu diulang-ulang, dan bahwa kurban itu bukan persembahan yang sempurna.
Kurban-kurban itu mendahului Yang Satu yang suatu waktu akan datang dan menanggung pada diri-Nya - bukan dosa seorang demi seorang - tetapi dosa-dosa seluruh dunia, dan untuk sepanjang masa.

Dan mereka menunjukkan kepada saya satu saja ayat di Perjanjian Baru, Yohanes 1:29, ketika Yesus datang dan Yohanes Pembaptis, memandang kepada-Nya dan berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia!"
Anak Domba Allah, kurban satu-untuk-semua yang final, yang didahului oleh semua kurban-kurban dalam Perjanjian Lama...

Sayapun terguncang. Saya tidak dapat mempercayai apa yang baru saja saya mengerti. Rintangan terbesar adalah bahwa seorang manusia tidak mungkin adalah Allah! Tetapi saya menyadari pada malam itu bahwa - jika Allah itu ada - Dia bisa menjadi seorang manusia!
Allah bisa menjadi apapun atau siapapun yang Dia kehendaki; Saya tidak akan mengajari Dia bagaimana cara menjadi Allah!

Tidak lama setelah kejadian itu saya memberikan hidup saya kepada Kristus. Dan dalam waktu semalam saja Allah telah mentransformasi hidup saya.

Saya nyaris sama sekali tidak tahu tentang Evangelikalisme (Injili) ataupun Protestanisme. Saya telah menjadi seorang Kristen. Saya telah memiliki hubungan pribadi dengan Allah seluruh jagat raya dan suatu alasan untuk menjalani hidup ini untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Saya ingin membawa corong suara ke bulan dan meneriakan kepada seluruh penduduk bumi bahwa Allah ada dan bahwa mereka bisa mengenal-Nya.

--------

Pelajaran Alkitab saya yang pertama sebagai seorang Kristen baru diajarkan oleh seorang mantan Katolik, yang dirinya sendiri pernah diajarkan oleh seorang mantan imam Katolik. Jadi saya belajar sejak permulaan bahwa Gereja Katolik adalah suatu sekte, sistem agama yang semu yang membawa berjuta-juta orang tersesat. Selama bertahun-tahun saya mengajarkan tentang keburukan Gereja Katolik, mencoba untuk menolong orang-orang, bahkan keluarga-keluarga seluruhnya, dengan membawa mereka keluar dari agama buatan manusia, ke dalam hubungan yang sejati dengan Kristus lewat kekristenan satu-satunya yang saya kenal dan saya percaya dengan segenap hati saya.

Kira-kira setahun setelah komitmen saya pada Kristus, David menelpon saya untuk mengatakan bahwa dia telah menjadi percaya bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa baginya, hal ini juga berarti memberikan hidupnya kepada Kristus.
Tetapi dia belum siap untuk memberikan komitmen dirinya pada gereja manapun juga pada saat itu (meskipun dia telah menghadiri kebaktian-kebaktian Baptis).
Jumlah denominasi-denominasi Protestan yang terus bertambah dan kelompok-kelompok yang memisahkan diri, bagi David adalah suatu kesaksian yang buruk akan kata-kata Kristus bahwa Dia akan membangun Gereja-Nya.
Dimana persatuan? Bagaimana bisa, dia bertanya, umat Kristen yang tulus, lahir-kembali, percaya pada Alkitab, didiami dan dipimpin oleh Roh Kudus yang sama, bisa datang pada interpretasi yang berbeda-beda?

Inilah satu diantara berbagai pemikiran yang membawa David untuk mempelajari Gereja Katolik Roma. Sayapun merasa ngeri dan khawatir baginya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang Kristen yang sejati dan percaya pada Gereja Katolik?

Waktu itu Natal tahun 1978 ketika saya mengunjungi David kembali.
Dia membawa saya bertemu dengan seorang biarawan yang selama ini telah membimbingnya dalam belajar dan saya yakin adalah agen iblis dalam misi untuk menyesatkan kakak saya.
Dan lalu kami pergi menghadiri Misa tengah-malam Malam Natal.
Itu adalah untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di suatu gereja Katolik. Saya duduk dengan terbengong-bengong sepanjang Misa Kudus, dan juga sepanjang perjalanan pulang ke rumah.

Ketika saya akhirnya dapat berbicara, saya berkata kepada David: "Mirip dengan sebuah sinagoga (bait Allah - rumah ibadah orang Yahudi), tetapi ada Kristusnya!!" Dia berkata, "Benar!" Dan saya lalu menjawab, "Salah!!!! Kristus telah menggenapi hukum nabi Musa; semua ritual dan hal-hal sudah disingkirkan!" Hati saya terasa sakit. Bagaimana David bisa terjebak seperti itu? Apakah dia punya batu sandungan? Apakah dia tertarik dengan liturginya? kepada keindahan artistis, dari latar belakang Yahudi kami? Tidakkah dia bisa melihat Kristus sebagai tujuan akhir semua ini?

David menjadi Katolik pada tahun 1979. Tagihan telepon kami antara Kalifornia dan New York sangat tinggi selama tahun-tahun berikutnya.

Lebih dalam dia terjun dalam apa yang saya anggap sebagai kesesatan, lebih dalam lagi saya melahap apa yang saya tahu sebagai kebenaran.

Setelah menyelesaikan institut Alkitab di gereja saya, saya memasuki program paska sarjana di Talbot Theological Seminary di La Miranda, Kalifornia, sekaligus menjadi pelayan full-time ministri di lembaga permasyarakatan Lancaster, Kalifornia. Keinginan saya yang terdalam setelah lulus adalah menjadi staff di gereja setempat untuk mengajar kaum wanita, menolong mereka untuk membesarkan keluarga yang diridhoi oleh Allah dan untuk menjangkau orang-orang lain dengan Kabar Gembira.

Allah yang memberi kita keinginan-keinginan dalam hati kita adalah Allah yang sama yang membawa keinginan-keinginan ini menjadi kenyataan. Setelah tamat dari Talbot di bulan Mei 1990, saya dipanggil untuk menjadi staf suatu gereja Sahabat Injili (dari aliran Quaker) di wilayah Orange, Kalifornia, sebagai direktur pelayanan wanita. Secara doktrinal, denominasi Sahabat (Friends) ini tidak sepenuhnya sesuai dengan kepercayaan saya, karena mereka telah menghapuskan pembaptisan dan komuni. Gereja yang satu ini, akan tetapi, dibawah kepemimpinnan seorang pastor yang baru, dari latar belakang Baptis (dan mantan Katolik), telah membawa kembali pembaptisan dan komuni ke kongregasi tunggal ini dalam denominasi tersebut.

Dalam bulan transisi yang menentukan dari pelayanan penjara ke gereja lokal itu, saya kembali mengunjungi David di New York. Bulan Juni tahun 1990. Dalam salah satu percakapan maraton kami, David bertanya, "Bagaimana kok kaum Injili tampaknya tidak ingin berusaha untuk bersatu? Tidakkah Yesus berdoa bahwa kita semua akan menjadi satu ...?" Saya melihat kesulitan muncul. "Ya, Yesus berdoa supaya kita menjadi satu, seperti Dia dan Bapa adalah satu .. tetapi tanpa mengorbankan kebenaran!"

Setelah itu David menanyakan jika saya pernah membaca terbitan majalan yang berada diatas meja yang berjudul "This Rock" (Batu Karang Ini), yang disebutkannya sebagai suatu majalah "apologis Katolik". Saya bahkan tidak dapat mengerti dua kata itu bisa digabungkan jadi satu. Saya tidak pernah tahu bahwa umat Katolik punya pembelaan terhadap imannya - tak seorang Katolikpun pernah berbicara tentang Injil kepada saya. Lebih jauh lagi, saya tidak pernah mengenal umat Katolik yang peduli akan orang-orang yang tahu Alkitab.

Saya membawa majalah itu bersama sama kembali ke Kalifornia karena rasa ingin tahu, tetapi juga karena rasa hormat kepada orang-orang yang setidak-tidaknya ingin memberitahukan kepada orang-orang lain tentang apa yang dipercayainya - meskipun mereka salah sekalipun. Di dalam majalah itu ada iklan satu halaman penuh yang berbunyi: Pendeta Presbiterian Menjadi Katolik. Tidak mungkin! demikian kata saya pada diri sendiri. Saya tidak peduli apa anggapan orang itu terhadap dirinya, atau apa pekerjaannya, tidak mungkin "pendeta Presbiterian" ini bisa menjadi seorang Kristen yang sejati jika dia masuk Katolik. Bagaimana dia bisa mengenal Kristus dan tertipu?

Saya lantas memesan seri 4 kaset dari mantan pendeta Presbiterian ini (yang namanya adalah Scott Hahn) berikut perdebatan dua bagian dengan seorang profesor dari Wesminster Theological Seminary menyangkut topik justifikasi (iman saja versus iman dan perbuatan).

** Pernyataan penutup Scott Hahn menyarikan 2000 tahun sejarah gereja dan berpuncak dengan pemikiran bahwa mereka yang mau meneliti klaim-klaim Gereja Katolik dan menilai bukti-bukti yang ada, akan sampai pada "kejutan besar dan kecengangan yang mulia", karena menemukan bahwa apa yang selama ini mereka serang dan coba membawa orang-orang keluar daripadanya, ternyata sesungguhnya JUSTRU adalah Gereja yang Kristus dirikan di dunia ini.

Kekagetan luar biasa adalah kata-kata yang bisa menjelaskan apa yang saya alami pada saat itu. "Oh tidak," pikir saya, "jangan katakan pada saya bahwa semua ini adalah benar." Pikiran itu melumpuhkan saya. Saya tidak dapat percaya apa yang saya pikirkan. Dan hal itu datang pada saat yang paling tidak menyenangkan. Dalam waktu dua minggu saya akan mulai bekerja di gereja yang baru.

Saya membaca ulang pernyataan doktrinal denominasi Friends yang segera saya akan bergabung dengannya. Ada cerita tentang pendirinya, George Fox, yang pertobatannya yang dramatis di tahun 1600 memenuhi dirinya dengan kecintaan yang mendalam pada Allah dan semangat untuk menentang penyelewengan-penyelewengan pada jamannya. Dalam keinginannya supaya Allah disembah dalam roh dan dan dalam kebenaran, Fox menghapuskan dua sakramen atau ordinansi yang tersisa, yang telah dibiarkan oleh Martin Luther, yaitu Pembaptisan dan Komuni - supaya iman jangan diletakkan pada unsur anggur, roti dan air, melainkan pada Allah yang menjadi pusatnya.

Saya menyukai semangat George Fox, tetapi saya percaya bahwa dia salah. Pembaptisan dan Komuni jelas-jelas diperintahkan dalam Kitab Suci meskipun saya percaya mereka hanya sebagai simbol saja. Lantas muncul pikiran: Bagaimana jika Luther ternyata melakukan apa yang George Fox lakukan? Bagaimana jika Luther, karena semangat dan kasihnya kepada Allah, juga menghapuskan apa yang dikehendaki oleh Allah? Nyali saya menjadi ciut dan kekhawatiran saya membesar. Apakah pikiran-pikiran saya berasal dari Allah? Apakah berasal dari setan? Saya hanya bisa menyadari bahwa dihadapan Allah, saya harus menemukan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

Selama dua tahun berikutnya sebagai staf gereja Friends, saya memesan buku, pita rekaman, bahkan langganan majalah This Rock, meskipun saya tidak menyukai apapun yang berbau Katolik datang di kotakpos saya. Ketika saya memberitahu David tentang penyelidikan saya, dia menantang saya tentang doktrin Sola Scriptura. "Ros, dimana Alkitab mengajarkan tentang Sola Sciprtura?" Pertanyaan ini mengusik saya. Saya pernah mendengar sebelumnya dan saya memilih untuk mengabaikannya. "Jika," saya pikir, "engkau sungguh mengenal Kristus, jika engkau percaya Kitab Suci sebagai Firman Allah, jika Roh Kudus bekerja dalam hidupmu, menerangi dan menguatkan Firman-Nya kepadamu, engkau tidak akan menanyakan pertanyaan seperti itu. Mengapa engkau menjadikan tantangan terhadap otoritas Alkitab sebagai fokusmu dan bukannya berpegang padanya sebagai santapanmu?"

Dia mencoba meyakinkan saya bahwa dia percaya bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah, tidak bercela, tidak memiliki kesalahan dan memiliki wibawa. "Tetapi," dia bertanya, "dimana Alkitab mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya otoritas? Dan dimana Kitab Suci mengatakan Firman Allah terbatas pada hal-hal yang tertulis?"

Saya menyebutkan sejumlah ayat-ayat Alkitab (2 Tim 3:16,17; 2 Pet 1:20-21, dan lain-lain), tetapi tidak satupun menjawab pertanyaan David. Bahkan ayat-ayat ini menimbulkan pertanyaan-2 lanjutan: "Bagaimana kita tahu Perjanjian Baru adalah bagian Kitab Suci? Ayat-ayat tersebut hanya merujuk pada Perjanjian Lama karena Perjanjian Baru belum dijadikan saat itu, setidaknya tidak dalam bentuk utuh seperti sekarang.
Semakin dalam saya menggali masalah ini saya berhadap-hadapan dengan fakta bahwa Kitab Suci tidak mengajarkan sola scriptura di manapun juga.

Tanpa perlu menjelaskan maksud penyelidikan saya, saya melontarkan pertanyaan yang sama kepada para pastor dan pemimpin studi Alkitab. Tak seorangpun bisa menjadi dari Alkitab. Masing-masing datang dengan ayat-ayat yang sama seperti yang saya lihat sebelumnya dan ketika saya membalikan bahwa ayat-ayat itu tidak mengajarkan bahwa Alkitab adalah otoritas satu-satunya, mereka dengan enggan mengiyakan, dan "ayat yang mengganggu pikiran saya" tidak pernah teringat oleh siapapun. "Betapa mencengangkan," saya berpikir. "Kita mengajarkan doktrin Alkitab saja tetapi Alkitab sendiri justru tidak pernah mengajarkannya. Akan tetapi, tetap saja hal ini tidak membuktikan bahwa ada otoritas lain di luar Alkitab.

Pemikiran itu terus muncul: kaum Injili mengajarkan doktrin yang tidak ada di Alkitab sementara menyangkal bahwa ada sesuatu di luar Alkitab yang juga punya otoritas. Ada yang salah di sini. Dan kalau kita salah dalam hal ini, apakah mungkin kita juga salah dalam hal lainnya? Bagaimana bisa, umat Protestan menerima Kanonisasi (standarisasi) Alkitab - percaya bahwa Allah yang memberi inspirasi pada Alkitab juga memimpin orang-orang di konsili-konsili di abad ke-4 dan ke-5 untuk mengenali kitab yang mana yang merupakan inspirasi Allah, tetapi menghapuskan banyak doktrin-doktrin utama seperti Ekaristi, Pembaptisan, Suksesi Apostolik dll? Lebih jauh lagi, pada 400 tahun pertama, sebelum kanon Alkitab difinalisasi, lebih dari 1000 tahun sebelum ditemukannya mesin cetak, iman Kristen bisa terpelihara, diteruskan secara oral dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Bagaimana bisa dalam 400 tahun terakhir kekristenan sejak masa Reformasi, dengan kanon Alkitab yang sudah ada, iman itu telah terpecah menjadi ribuan denominasi, masing-masing dengan doktrin yang berbeda dan bersaing, meskipun masing-2 mengaku "berpegang pada Firman Allah?"

Saya mulai membaca segala yang bisa saya temukan, kapanpun saya bisa, sampai saya menyadari setelah dua tahun, bahwa saya harus meninggalkan gereja saya di Kalifornia dan mendedikasikan diri saya untuk menentukan jika Gereja Katolik adalah sungguh-sungguh seperti pengakuannya.

Saya pindah ke New York dan mulai apa yang menjadi pencarian yang intensif selama dua setengah tahun.
Selama berbulan-bulan saya membaca setiap karya Protestan Injili yng bisa saya temukan yang berseberangan pendapat dengan Gereja Katolik. Saya ingin dibebaskan dari nasib kemungkinan menjadi Katolik nantinya.

Dengan kekecewaan yang besar saya menemukan bahwa para pengarang Injili ini berseberang pendapat dengan apa yang mereka percaya diajarkan oleh Gereja Katolik. Mereka berargumentasi dengan apa yang mereka percaya diajarkan oleh Gereja Katolik, dan agaknya pemahaman dan kesalah-pahaman mereka terhadap ajaran Gereja Katolik, mencerminkan perspektif Protestan darimana mereka berasal.
Ucapan bijak dari almarhum Uskup Agung Fulton Sheen menjadi nyata: "Tidak ada seratus orang di Amerika Serikat yang membenci Gereja Katolik. Ada berjuta-juta orang, yang membenci apa yang secara salah mereka percaya sebagai Gereja Katolik - yang mana, tentunya, sangat berbeda."

Setiap penemuan tentang suatu ajaran Katolik membawa saya untuk kembali meneliti sejumlah doktrin-doktrin Injili. Dan dengan setiap pemikiran yang membawa saya lebih dekat dengan Gereja, suatu perasaan duka dan kematian menyelimuti saya dalam memikirkan bahwa saya akan terpisah tidak hanya dengan gereja saya di Kalifornia, tetapi dengan satu-satunya kekristenan yang telah saya kenal selama 18 tahun.

Sebelum meninggalkan Kalifornia, seorang pastor yang saya kasihi dengan siapa saya berbagi pencarian kebenaran ini, bertanya: "Jika tidak ada Gereja Katolik, apakah pemahamanmu tentang Perjanjian Baru juga akan membawamu untuk menciptakan iman Katolik?" Jawaban saya waktu itu adalah, "Itulah yang sedang saya cari tahu."
Setahun sesudahnya, saya akan mengatakan begini, "Tidak, saya tidak akan sampai pada Gereja Katolik, tetapi saya juga tidak akan bersama-sama lagi dengan Protestan Injili." Saya telah menjadi seorang Kristen tanpa rumah. Saya tidak bisa memikirkan menjadi Katolik, tetapi saya juga tidak bisa kembali kepada Evangelikalisme.

Tiga buku sangat membantu saya selama pencarian ini: Essay on the Development of Christian Doctrine, Liturgy and Personality, The Spirit of Catholicism. Lebih banyak saya baca, lebih banyak saya merasakan keindahan, kedalaman, kegenapan desain Allah atas Gereja-Nya melebihi segala hal yang saya kenal. Dalam setiap hal, termasuk tiga yang paling terkenal dalam Reformasi - sola gratia, sola fide, sola scriptura - saya menjadi percaya bahwa Gereja Katolik selaras dengan Alkitab. Segala apa yang saya baca tentang ajaran dan hidup Katolik membawa saya lebih dekat kepada Gereja; sementara sebagian besar yang saya perhatikan membuat saya ingin melarikan diri daripadanya. Dimana Gereja yang saya baca di buku-buku? Dimana Gereja yang bisa disebut "rumah"?

Suatu hari Minggu, saya duduk di bangku belakang sebuah paroki Katolik yang saya kunjungi pertama kalinya. Saya mendengar imam mengatakan apa yang tidak pernah saya dengar dari orang Katolik sebelumnya.
Pada konklusi pesan Injil, dia berkata kepada kongregasi, "Kita perlu memberitahukan kepada seluruh dunia!" Hati saya terpaku. Inilah pertama kalinya saya merasakan semangat untuk memenangkan jiwa-jiwa yang diteriakkan dari atas mimbar sebuah Gereja Katolik.

Air mata sayapun meleleh. Sejak pertama saya bertemu Kristus, saya telah menjalani hidup ini untuk memberitahukan orang-orang tentang Dia.
Saya berpikir, jika Gereja Katolik itu benar, mengapa tidak ada orang Katolik yang Evangelikal? Evangelikal (Injili) bukan sinonim dengan Protestanisme.

Untuk menjadi seorang Injili adalah untuk menjadi seorang utusan:
yaitu untuk menjangkau kepada dunia yang hilang dan terluka untuk memberitahukan kepada mereka tentang kabar gembira Kristus - bahwa ada seorang Juru Selamat yang datang bagi orang-orang berdosa dan memberikan nyawanya kepada semua yang mau datang kepada-Nya.

Saya bertemu dengan romo Father James T.O'Connor, pastor paroki St.Joseph di Millbrook, New York, pada permulaan tahun 1995.
Dalam dua pertemuaan dia sangat membantu saya dengan beberapa topik yang sulit, terutama menyangkut Misa Kudus dan sifat sakramental Gereja.
Saya menyadari, segera sesudahnya, bahwa pertanyaan tiga tahun terjawab sudah. Saya tahu bahwa di hadapan Allah, saya perlu masuk Gereja Katolik... yang mana hal ini saya lakukan pada Paskah 1995. Saya telah menemukan Gereja yang adalah rumah saya.

Saya masih sedikit kikuk. Saya merasa seperti telah mengarungi lautan dan masih belum tahu cara navigasi. Tetapi saya tahu bahwa itu adalah kebenaran. Tidak hanya perbedaan-perbedaan doktrinal yang memisahkan Protestan Injili dengan Katolik. Tetapi suatu cara pandang yang berbeda. Dunia saya telah terbuka lebar. Segala penciptaan telah memiliki makna yang baru bagi saya.

Saya telah menyambut segala ajaran Gereja yang didirikan Kristus 2000 tahun lalu. Ini adalah Gereja tersebut, didirikan atas para rasul dan nabi, biji sesawi yang telah tumbuh menjadi sebuah pohon, yang telah dipelihara dan meneruskan iman yang suatu ketika diberikan kepada orang-orang kudus; bahwa Gereja yang telah berdiri diuji oleh waktu sepanjang jaman, setiap bidaah, kebingungan, perpecahan dan dosa. Dan inilah Gereja yang akan terus berdiri hingga akhir jaman, karena sungguh-sungguh merupakan Tubuh-Nya, dan dalam esensinya karenanya, kudus, tidak akan pernah berubah, dan abadi.

Dan rahmat demi rahmat inilah Gereja yang telah mengembalikan kepada saya kekhidmatan, keagungan, pesona yang saya kenal sewaktu saya kecil di sinagoga-sinagoga. Saya berkata kepada David suatu ketika, "Saya merasa seolah saya kembali memiliki Allah."

Betapa aneh pernyataan yang keluar dari mulut seseorang yang telah mengenal Dia begitu indahnya dan setulusnya lewat Protestan Injili. Tetapi dalam kebebasan dan familiaritas ekpresi dan ibadah Injili, rasa Allah yang transenden seringkali hilang.
Sungguh baik untuk membungkuk hormat dihadapanNya.

Dan saya telah melihat bahwa Allah yang transenden, telah memberikan kita Putera-Nya, dan dalam Tubuh-Nya, yaitu Gereja, melebihi apa yang bisa saya bayangkan - tidak melebihi Kristus, tidak selain daripada Kristus, melainkan Kristus seutuhnya.

"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33)

Selama saya masih diberi nafas oleh Allah, saya ingin memberitahukan kepada dunia tentang sang Juru Selamat dan Gereja-Nya yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.

-------------------------------------------------------------
Sumber: buku Journey Home, oleh Marcus Grodi, ed.1997, hal.53
Alihbahasa oleh Jeffry Komala
© www.gerejakatolik.net.